KAI Perketat Proses Rekrutmen Buntut Karyawan Diduga Terlibat Terorisme
·waktu baca 2 menit

PT KAI bakal memperketat proses rekrutmen pegawai. Hal itu imbas salah satu karyawannya, Dananjaya Erbening, ditangkap Densus 88 karena diduga terlibat aksi terorisme.
"KAI tentunya berkomitmen untuk terus meningkatkan evaluasi terhadap proses rekrutmen untuk mendapatkan calon pekerja yang memiliki integritas kecintaan berbangsa dan bernegara yang tinggi dan loyal," ujar VP Public Relation KAI, Joni Martinus, saat dihubungi, Sabtu (19/8).
Joni membeberkan, ada sejumlah langkah-langkah rekrutmen yang akan dievaluasi. Salah satunya, calon pegawai KAI akan di-profiling melalui sosial medianya.
"Mengidentifikasi peserta rekrutmen melalui screening media sosial. Pendalaman penilaian aspek nilai utama akhlak. Penguatan wawasan kebangsaan dan bela negara pada saat wawancara," jelas Joni.
Lebih lanjut, kata dia, KAI juga akan memberikan materi pencegahan paham radikal dalam pelatihan calon pegawai.
"Pemberian materi pencegahan paham ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme pada saat induction program calon pekerja," ucap Joni.
"Penyesuaian waktu pelatihan Basic Development Program yang selama ini sudah terjalin dengan TNI guna semakin mengoptimalkan kedisiplinan dan penanaman loyalitas terhadap bangsa dan negara," pungkasnya.
Danan ditangkap Densus 88 Antiteror Polri di kawasan Harapan Jaya, Bekasi, Jawa Barat pada Senin (14/8). Darinya turut disita belasan senjata api berbagai jenis dan puluhan butir peluru tajam.
Danan disebut sudah mengikuti organisasi radikal Mujahidin Indonesia Barat sejak 2010 silam. Sejak itu, dia mulai kerap mengunggah ajakan gerakan radikalisme.
Pada 2014, Danan kemudian berbaiat ke ISIS. Propaganda terorisme makin gencar dilakukannya melalui media sosial. Pada 2016, ia kemudian tercatat menjadi pegawai KAI. Artinya, ia lebih dulu berbaiat ke ISIS sebelum menjadi karyawan KAI.
