Kakek Azudin, Arungi Lombok-Jakarta Demi Bertemu Anak di Malaysia

Siang itu, Senin (16/1), mendung menggelayuti langit Jakarta. Nampaknya sebentar lagi hujan turun. Namun kesibukan ibukota tetap tak berkurang.
Semua orang terlihat bergegas. Pemotor gesit menyelip di antara mobil dan bus, kondektur terus berteriak mencari penumpang, penjual kopi keliling yang menjajakan dagangan hingga tukang ojek yang menawarkan jasa tumpangan. Mereka bergerak berkejaran dengan waktu.
Sementara di sudut halte bus TransJakarta tampak seorang kakek renta berdiri termangu. Pandangannya nanar menatap ke depan. Tangan kirinya menenteng koper besar berwarna merah. Sementara tangan kanannya membawa sebilah tongkat untuk menopang tubuhnya kala berjalan.
Saya hampiri kakek yang rambut dan jenggotnya sudah memutih ini. Dia mengaku bernama Azudin dan berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Koper yang dibawanya adalah pemberian seseorang yang tak tega melihat bawaannya berceceran.
"Saya mau cari anak saya yang sudah 30 tahun tinggal di Malaysia," kata Azudin.
Logat bicaranya kurang jelas sehingga saya harus mengulangi pertanyaan beberapa kali. Namun Azudin yang baru pertama kali menyentuh ibukota ini tak ragu bercerita. Dia juga tak sungkan bertanya.
"Saya mau cari paspor. Katanya harus di Jakarta. Habis itu mau beli tiket untuk pergi ke Malaysia lewat Batam," tuturnya.
Perjalanan Azudin dari Lombok dimulai sejak beberapa hari lalu. Dia menumpang kapal laut menuju Jakarta dengan transit terlebih dahulu di Surabaya. Keinginannya untuk bertemu sang buah hati yang tak terbendung membuatnya nekad pergi seorang diri.

Azudin yang sebelumnya tak pernah tahu bagaimana rupa ibukota begitu kebingungan. Dia mengaku sempat bertemu dengan seseorang yang disebutnya sebagai petugas dan dicek KTP-nya. Kakek berumur 72 tahun ini kemudian diberi amplop bertuliskan Dinas Sosial Tangerang. Dia kemudian diminta mencari bus ke arah Poris.
Letih berdiri, Azudin kemudian masuk ke halte bus TransJakarta dan duduk di kursi tunggu. Ibu-ibu di sampingnya menyapa Azudin dan menanyai mengapa pergi seorang diri dengan koper besar.
Azudin melanjutkan cerita kerinduannya pada sang anak. Tetangganya di Lombok yang pernah menjadi TKI di Malaysia mengaku pernah bertemu anak dan cucunya.
"Anak saya pergi ke Malaysia dan belum pernah pulang. Yang saya dengar, dia punya anak 5," katanya.
Azudin mengaku kebingungan karena tidak mengenal Jakarta. Dia juga bingung akan dibawa kemana. Kakek berkupluk putih ini hanya berharap agar bisa segera mendapatkan paspor dan tiket untuk bertemu anak cucunya.
