Kans Kader NU Cawapres Ganjar, PDIP Singgung Pilihan Megawati di Pilpres 2019

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konsolidasi pemenangan bacapres Ganjar Pranowo di GOR PKPSO Kaliwates, Jember, Minggu, (7/5) Foto: PDIP
zoom-in-whitePerbesar
Konsolidasi pemenangan bacapres Ganjar Pranowo di GOR PKPSO Kaliwates, Jember, Minggu, (7/5) Foto: PDIP

Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah berbicara terkait kans tokoh Nahdlatul Ulama (NU) menjadi cawapres Ganjar Pranowo. Basarah menuturkan, PDIP sangat menghormati eksistensi organisasi NU sebagai ormas Islam di Indonesia. Karena itu, kata dia, PDIP tidak akan menarik NU ke dalam politik praktis.

"PDIP menghargai dan menghormati eksistensi NU sebagai ormas keagamaan. Oleh karena itu, PDIP tidak akan menarik NU ke dalam pusaran politik karena kita menghormati betul," kata Basarah di Kantor Tim Koordinasi Relawan Pemenangan Ganjar, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Jumat (12/5).

Meski begitu, Basarah mengakui ada perjalanan panjang kerja sama politik antara PDIP dengan kader NU. Ia mencontohkan saat Ketum Megawati Soekarnoputri menjadi wapres dari Abdurachman Wahid (Gus Dur) dan Megawati memilih Hamzah Haz sebagai wapresnya.

Lalu, di Pilpres 2004, Megawati memilih Kiai Hasyim Muzadi sebagai cawapres. Dan Megawati juga memilih Jusuf Kalla (JK) dan Ma'ruf Amin sebagai cawapres Presiden Jokowi di Pilpres 2014 dan 2019.

kumparan post embed

"Sekarang pun Pak Jokowi bersama Kiai Ma'ruf Amin juga tokoh NU. Jadi memang NU adalah sumber kawah candradimuka calon-calon pemimpin bangsa," kata dia.

Wakil Ketua MPR itu menyebut sikap PDIP yang menghargai posisi NU, sejalan dengan sikap Ketum NU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Ia pun mengaku bagian dari NU.

"Dan sikap Ketum PBNU Gus Yahya yang juga akan membawa NU sebagai kekuatan yang akan mengayomi kekuatan bangsa. Kebetulan saya juga adalah salah seorang pengurus NU sebagai Wakil Ketua lembaga kajian dan pengembangan sumber Daya PBNU," tutur Basarah.

PDIP Terus Jalin Komunikasi dengan NU

Basarah mengatakan, PDIP akan terus berkomunikasi dengan NU sebagai bagian dari kekuatan bangsa. Saat ini, kata dia, komunikasi PDIP dan NU berjalan baik.

"Komunikasi silaturahmi itu terus terjalin karena memang silaturahmi itu adalah bagian dari kekuatan bangsa. Saya sore hari ini akan terbang ke Semarang dan kemudian ke Rembang untuk menghadiri acara pernikahan adik Gus Yahya Ketum PBNU yang paling bungsu. Dan saya mewakili Ibu Megawati Soekarnoputri untuk terbang ke Semarang kemudian ke Rembang acaranya besok pagi. Komunikasi kami sangat baik Dan sangat intensif begitu," kata dia.

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Foto: Annisa Thahira Madina/kumparan

Terkait sosok yang diincar sebagai cawapres, Basarah menuturkan hal itu merupakan hal dari Megawati. Ia menuturkan Megawati pasti memiliki pertimbangkan cawapres bersama Presiden Jokowi dan ketum parpol koalisi.

"Ya, sosok yang diincar tentu kalau dalam bahasa Ibu Mega sedang dipikirkan secara kontemplatif, dari nama-nama yang ada baik yang beredar di publik maupun yang tidak beredar di publik. Tapi sekali lagi prosesnya masih cukup panjang, kewenangan itu ada pada Ibu Mega tentu bersama ketum parpol peserta kerja sama politik lainnya," kata dia.

"Akan berdiskusi dengan Pak Jokowi dalam kapasitas sebagai kader PDI Perjuangan. Saya kira otoritas itu ada pada Ibu Mega, Kita tunggu bulan, hari, jam, atau tanggal baiknya," tutup Basarah.