Kapal Induk AS Berlayar ke Korea Selatan untuk Latihan Militer Bersama
ยทwaktu baca 3 menit

Amerika Serikat (AS) mengerahkan kapal induk USS Ronald Reagan menuju Korea Selatan untuk pertama kalinya sejak 2018 pada Senin (19/9).
Kapal induk kelas Nimitz tersebut akan mengikuti latihan militer bersama dengan Korsel. Angkatan Laut Korsel memperkirakan, USS Ronald Reagan akan berlabuh di Busan pada Jumat (23/9). Kedua negara itu menggelar latma ketika ancaman nuklir sedang menjulang dari Korea Utara.
"Dengan melakukan latihan gabungan, Angkatan Laut kedua negara berencana untuk memperkuat kesiapan militer mereka dan menunjukkan tekad kuat dari aliansi Korea Selatan-AS untuk perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea," tulis pernyataan Angkatan Laut Korsel, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (20/9).
Korut mengesahkan undang-undang terkait persenjataan nuklirnya pada awal September. UU tersebut memungkinkan senjata nuklir digunakan sebagai serangan pencegahan.
Definisi longgar seputar tindakan pencegahan tersebut menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi tetangganya. Sebagian menduga, Korut akan memanfaatkan dasar hukum itu sebagai intimidasi dalam menuntut konsesi terkait pembatasan persenjataan nuklir.
Korut menyatakan, statusnya sebagai negara bersenjata nuklir tidak dapat diubah. Pemimpin Korut, Kim Jong-un, menggarisbawahi bahwa negaranya tidak akan pernah menyerahkan senjata nuklir mereka.
Kim mengaku tidak melepaskannya meskipun menghadapi sanksi selama seratus tahun. Dia mengatakan, Korut membutuhkan senjata nuklir untuk melawan ancaman AS.
Melanggar hukum internasional, Korut mengadakan uji coba senjata nuklir pertamanya pada 2006. Sejak itu, Dewan Keamanan PBB bertubi-tubi menjatuhkan sanksi terhadap Korut.
Mantan Presiden AS, Donald Trump, sempat terlibat dalam negosiasi dengan Kim. Setelah pertemuan pertama mereka pada 2018, AS dan Korut merilis pernyataan bersama. Mereka berjanji bahwa Korut akan berkomitmen mencapai denuklirisasi di Semenanjung Korea.
Namun, janji tersebut tidak ditepati. Sepanjang tahun ini, Kim bahkan mengadakan rentetan uji coba senjata, termasuk penembakan rudal balistik antar benua pertamanya dalam lima tahun terakhir.
Pemerintah AS dan Korsel kemudian mengeluarkan pernyataan bersama pada pekan lalu. Mereka menggarisbawahi keprihatinan atas eskalasi dan destabilisasi yang ditimbulkan Korut.
"Kedua belah pihak berkomitmen untuk melanjutkan upaya untuk menggunakan semua elemen kekuatan nasional kedua negara untuk memperkuat postur pencegahan Aliansi," bunyi pernyataan itu.
"Amerika Serikat menegaskan kembali komitmennya yang kuat dan tak tergoyahkan untuk memanfaatkan berbagai kemampuan militernya, termasuk nuklir, konvensional, pertahanan rudal, dan kemampuan non-nuklir canggih lainnya, untuk memberikan pencegahan yang diperluas bagi ROK [Korsel]," imbuhnya.
Korsel bukan merupakan negara bersenjata nuklir. Tetapi pihaknya terlindung oleh 'payung nuklir' milik Washington. AS telah berjanji akan membela sekutunya bila serangan nuklir terjadi.
Korsel dan AS pun menggelar latihan militer terbesar mereka selama bertahun-tahun pada Agustus. Korut mengecam pengerahan militer tersebut. Pihaknya mengatakan, mereka tengah melakukan latihan untuk perang. Korut memandang latma sebagai latihan untuk perang.
"Menjaga perdamaian di semenanjung Korea dibangun di atas postur keamanan kami yang tanpa cela," cetus Presiden Korsel, Yoon Suk-yeol.
