News
·
2 Mei 2019 10:28

Kapolri Ungkap Kelompok Hitam Merah yang Ricuh Saat May Day

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kapolri Ungkap Kelompok Hitam Merah yang Ricuh Saat May Day (214601)
Coret-coretan massa buruh usai aksi di depan Halte Tosari. Foto: Andesta Herli/kumparan
Perayaan Hari Buruh atau May Day di Indonesia diwarnai sejumlah kericuhan. Kericuhan ini dilakukan oleh kelompok berbaju hitam merah yang sama, yakni Anarcho-syndicalism.
ADVERTISEMENT
“Saya mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan buruh karena aksi May Day seluruh Indonesia relatif aman. Tapi ada satu kelompok namanya Anarcho-syndicalism dengan huruf A. Ini bukan kelompok fenomena lokal, tapi fenomena internasional,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Ruptama Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (2/5).
Kapolri Ungkap Kelompok Hitam Merah yang Ricuh Saat May Day (214602)
Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Rupatama Mabes Polri. Foto: Mirsan Simamora/kumparan
Tito menjelaskan, Kelompok tersebut berasal dari luar negeri dan dikenal bersifat anarkis. Mereka terafiliasi doktrin luar negeri yang menolak adanya aturan pada buruh. Anarcho-syndicalism tersebut berkembang di Rusia, Eropa, hingga Asia.
Kapolri Ungkap Kelompok Hitam Merah yang Ricuh Saat May Day (214603)
Sejumlah kendaraan jadi korban vandalisme pada saat Hari Buruh di Bandung. Foto: Istimewa
“Ini memang ada semacam doktrin dari alih di luar negeri mengenai masalah pekerja di antaranya adalah pekerja jangan diatur. Jadi pekerja lepas dari aturan, mereka menentukan sendiri makanya disebut dengan Anarcho-syndicalism,” ujar Tito.
ADVERTISEMENT
“Ini sudah lama berkembang di Rusia, kemudian di Eropa, Amerika selatan termasuk di Asia,” lanjut Tito.
Kapolri Ungkap Kelompok Hitam Merah yang Ricuh Saat May Day (214604)
Coret-coretan massa buruh usai aksi di depan Halte Tosari. Foto: Andesta Herli/kumparan
Untuk di Indonesia, kata Tito, perkembangan kelompok Anarcho-syndicalism tersebar di Yogyakarta, Bandung, hingga Jakarta. Dalam menjalankan aksinya, kelompok tersebut juga melakukan aksi vandalisme.
“Di Indonesia baru berkembang beberapa tahun ini. Kita lihat mereka tahun lalu ada di Yogya, ada di Bandung, sekarang ada di Surabaya, ada di Jakarta mereka sayangnya melakukan kekerasan aksi vandalisme,“ ucap Tito.