Karier Politik Tsamara Amany Dinilai Bisa Panjang Jika Gabung Parpol Mapan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kutua DPP PSI, Tsamara Amany. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kutua DPP PSI, Tsamara Amany. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Tsamara Amany mengundurkan diri sebagai kader dan pengurus PSI. Sebelumnya, Tsamara menjabat sebagai Ketua DPP PSI Bidang Eksternal.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia berpendapat karier politik Tsamara belum berakhir. Menurut dia, Tsamara bisa saja punya karier politik yang panjang jika bergabung dengan partai politik lain yang sudah mapan.

“Tsamara masih miliki peluang panjang, ia cukup memahami jika politik tidak cukup soal nyaring tapi juga soal kualitas. Ia bisa bergabung dengan parpol mapan untuk belajar itu, bukan parpol baru,” kata Tsamara, Selasa (19/4).

“Lihat saja kader-kader muda Golkar, PDIP, Nasdem, juga Gerindra, mereka banyak mengantarkan politisi muda,” kata Dedi menambahkan.

kumparan post embed

Selain itu, Dedi juga mengkritisi awal mula karier politik Tsamara yang dimulai di parpol yang prokekuasaan. Menurut dia, langkah ini kurang tepat. Seharusnya, politikus muda terlebih dulu membangun karakter sehingga mampu bertahan atau bahkan semakin kuat di ranah politik.

“Tren propaganda politik saat ini memang mudah mendapat popularitas, tetapi sulit mendapat kepercayaan publik. Banyak tokoh muda yang gagal atau belum berhasil dengan cara agitatif seperti Tsamara, sementara politisi muda yang lebih teratur dan mampu mengendalikan agitasi politik menuai keberhasilan,“ jelasnya.

Lalu bagi PSI, Dedi menilai kemunduran Tsamara tidak memberikan pengaruh signifikan. Sebab, Tsamara tidak memiliki basis internal yang kuat di PSI.

“PSI nyaris tidak akan alami dampak apa pun. Saat ini, PSI sendiri alami penurunan elektabilitas sudah cukup lama, sejak usai Pilpres 2019 berangsur PSI kehilangan sebagian simpatisan,” kata Dedi.

"Dan sejak Giring memimpin, tren penurunan itu semakin menguat. Setidaknya itu yang terbaca dari survei IPO periode Maret lalu," tutup Dedi.

======

Reporter: Dhania Anindyaswari Puspitaningtyas