Keluarnya Tsamara Dinilai Akibat Perubahan Gaya Politik PSI yang Pragmatis
·waktu baca 2 menit

Tsamara Amany Alatas, resmi mundur sebagai pengurus dan kader PSI. Ia mengungkapkan, keputusan tersebut berdasarkan pertimbangan pribadi untuk memulai perjalanan baru di luar partai.
Peneliti Politik BRIN, Wasisto Raharjo Jati, menilai bahwa keluarnya Tsamara diakibatkan perbedaan gaya politik PSI dulu dan kini. Menurut dia, semula PSI bersifat kritis terhadap isu-isu di masyarakat tapi kini PSI cenderung dekat dengan kekuasaan karena statusnya sebagai partai koalisi pemerintah.
“Keluarnya Tsamara menunjukkan adanya indikasi perubahan gaya berpolitik PSI yang dulunya itu sangat progresif dengan berbagai isu, kini cenderung pragmatis dan akomodatif dengan kekuasaan. Ini mengakibatkan idealisme-idealisme yang diusung sebelumnya menjadi berkurang,” kata Wasis ketika dihubungi, Selasa (19/4).
Wasis melihat, Tsamara merupakan salah satu tokoh penting yang membangun ideologi kepartaian di PSI. Terlebih, identitas Islam pluralis dan kalangan milenial yang dimiliki Tsamara membawa keuntungan bagi PSI untuk mendulang suara.
“Sosok Tsamara adalah bagian dari elite PSI yang membesarkan PSI dari awal. Peran Tsamara vital karena sebenarnya dialah yang bisa membangun narasi Islam pluralis, kebetulan Tsamara juga dari kalangan Islam, dan juga masih merujuk pada anak muda,” papar dia.
“Peran Tsamara sebagai bentuk vote getter bagi PSI sebelumnya, terutama bagi kalangan pemilih muslim muda yang masih mengambang. Menjadi motor dari identitas feminim yang juga didorong oleh PSI. Artinya bisa dikatakan Tsamara adalah otak ideologinya PSI,” lanjutnya.
Karena itu, Wasis mengimbau agar PSI segera mencari cara untuk tetap mempertahankan dukungan dari masyarakat muslim urban dan milenial yang sebelumnya didapatkan karena ketokohan Tsamara.
“PSI perlu mencari cara bagaimana bisa meraup orang-orang pemilih muslim urban yang mana kala itu menjadi identitas Tsamara Amany Alatas. Apalagi dengan manuver ketua PSI sekarang yang vis a vis dengan kelompok Islam. Jadinya ini yang menjadi ganjalan atau gap suara yang menjadi tantangan PSI,” tutup dia.
