Kasus Balita Meninggal Diduga Malapraktik RSUD Prambanan, Satgas PPA DIY Usut
ยทwaktu baca 4 menit

Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak Daerah Istimewa Yogyakarta (PPA DIY) turun tangan mendampingi Anastacia Niken Purwandari (36), ibu yang kehilangan putrinya Naura Dwi Medyta Putri (3 tahun 11 bulan) yang diduga jadi korban malapraktik RSUD Prambanan, Kabupaten Sleman.
"Di sini mengenai kasus yang terjadi yang Bu (Anastacia) Niken, kami bersama-sama dengan berbagai pihak untuk menggandeng membantu kasus ini supaya mendapat keadilan," kata Koordinator Satgas PPA DIY, Yekti Utami, kepada wartawan di Bantul, Kamis (4/6).
Hal-hal yang dibutuhkan keluarga korban dapat disampaikan ke Satgas PPA DIY, khususnya penanganan kasus ke depan.
"Pendampingannya nanti kami akan berusaha untuk tetap melink-kan (menyambungkan) dengan pemerintah atau nanti kita bekerja sama bagian tadi sudah ada dari UPTD, dari KPAID (instansi-instansi terkait)," katanya.
"Kalau pendampingan hukum, kita sudah ada nggih. Jadi mungkin nanti dari pendampingan hukum nanti kira-kira apa lagi yang diperlukan mungkin nanti dari dinas nanti yang akan membantu," ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, anak Anastacia meninggal dunia setelah diberi tiga kali suntikan penenang sebelum CT scan di RSUD Prambanan. Naura meninggal dunia di rumah sakit tersebut pada 28 April lalu.
Anastacia memeriksakan anaknya ke RSUD Prambanan pada 27 April pagi setelah mendapat rujukan dari klinik dan Posyandu karena lingkar kepala anaknya dinilai kurang.
"Anak saya itu periksa melingkarnya aja (lingkar kepala). Tapi sana ternyata di bulan April itu emang dia emang masih garis merah di situ (lingkar kepalanya kurang). Terus dia diperiksa di situ, terus dokter meminta untuk CT scan, ya udah saya mengizinkan," kata Anastacia ditemui di Polda DIY, Selasa (2/6).
"Di situ ternyata setelah di-CT scan kejadiannya seperti itu, sampai dia nggak sadar," katanya.
Naura, kata Anastacia, diberi suntikan lewat infus sebanyak tiga kali.
"Tiga kali (suntikan). Di situ saya mendampingi anak saya. Setelah saya anak saya tidur, saya baru keluar. Setelah saya keluar itu saya nggak tahu di dalam dokter melakukan apa," katanya.
Lanjutnya, dokter lalu mengatakan kondisi Naura mengalami muntah hingga henti napas.
"Dokter udah mengatakan anak saya seperti itu kondisinya, yang dia udah muntah, dia udah henti napas, dia yang udah dipasang alat bantu pernapasan, dia yang udah nggak sadar," katanya.
Naura disuntik sekitar pukul 10.30 WIB. Lalu dibawa ke ICU sekira jam 13.00 WIB
"Proses penyuntikan itu sampai ya sampai tiga kali suntikan adalah, 1 jam selang 1 jam, gitu. Terus setelah itu saya keluar, saya udah nggak tahu di dalam kenapa," kenapa.
"Kondisinya (anak saya) sehat, dia tuh normal, ceria, aktif. Terus begitu diperiksain di rumah sakit itu dia kayak gitu, terus pemeriksaan CT scan sampai dia enggak sadar, sampai dia meninggal itu yang mau saya pertanyakan ke pihak rumah sakit," katanya.
"Saya pengin tahu rumah sakit tuh ngomongnya kayak apa, soalnya waktu anak saya enggak ada pun pihak rumah sakit juga belum ada konfirmasi apa pun," ujarnya.
Kata Kepolisian
Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan membenarkan telah menerima laporan kasus ini. Penyelidikan masih dilakukan kepolisian. Sejumlah saksi juga telah dipanggil.
"Saat ini masih dalam proses penyelidikan ya dari penyidik Ditreskrimsus. LP sudah ada tapi masih dalam proses penyelidikan," kata Ihsan.
Kata Direktur RSUD Prambanan
Direktur RSUD Prambanan Sleman, Ratih Susila, mengatakan pihaknya sedang merencanakan untuk jadwal pemberian keterangan medis kepada pihak keluarga dan kuasa hukumnya.
"Dan ini kami sedang menunggu jadwal dari kuasa hukum pihak keluarga, seperti itu," kata Ratih di Pemkab Sleman.
Ratih mengatakan pihaknya sudah melakukan audit medis.
"Kalau untuk internal kami rumah sakit, kami sudah melakukan audit medis. Sesuai dengan prosedur, tim kami internal sudah melakukan sesuai dengan komite etik dan komite medik, seperti itu," katanya.
Ratih mengatakan dalam kasus ini dokter yang menangani adalah dokter spesialis anak. Saat ini, dokter tersebut masih aktif.
"Masih aktif. (Dokter) spesialis anak," katanya.
Disinggung soal pemberian obat penenang sebelum CT scan, Ratih belum memberikan keterangan lebih lanjut.
"Jadi, nanti saya beserta tim akan melakukan konsolidasi terlebih dahulu, seperti itu," katanya.
Termasuk soal dugaan tak ada pendampingan dokter anestesi dalam pemberian obat penenang.
"Nanti di lokasi beserta tenaga medis, tenaga kesehatan yang ada akan kami sampaikan di jumpa pers," katanya.
Soal meninggalnya korban, Ratih mengaku sudah melakukan audit medis. Namun, belum menjelaskan secara detail.
"Nanti kami sampaikan pada saat jumpa pers," katanya.
