Kasus Siswi Bunuh Diri Diduga Dibully, DP3A Sukabumi: Perhatikan Keluhan Anak

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Catatan Redaksi: Bunuh diri bukan jalan keluar persoalan kehidupan, segera cari pertolongan atau klik www.healing119.id.

Ilustrasi bunuh diri. Foto: soumen82hazra/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bunuh diri. Foto: soumen82hazra/Shutterstock

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi menyoroti kasus siswi bunuh diri yang diduga dibully. Bagi DP3A kasus ini adalah sebuah alarm serius. Ia meminta semua pihak terkait untuk lebih memperhatikan keluhan anak.

“Saya berharap tidak ada lagi kejadian bullying di sekolah-sekolah dan kalau pun masih ada, saya berharap semua unsur atau pihak baik di sekolah maupun di lingkungan luar sekolah atau keluarga lebih awal lagi terhadap anak-anak kita, lebih memperhatikan lagi apa yang dikeluhkan anak-anak kita,” kata Kepala DP3A Kabupaten Sukabumi, Agus Sanusi, Jumat (31/10).

Menurutnya, sering kali ejekan atau candaan berlebihan dianggap hal biasa padahal bisa melukai perasaan seseorang.

“Jadi jangan menormalisasikan ejekan-ejekan atau candaan-candaan yang berlebih yang sifatnya membuat orang lain merasa tertekan,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa DP3A melalui Bidang Perlindungan Perempuan dan Khusus Anak (PPKA) saat ini tengah gencar melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah, soal bahaya bullying dan pentingnya perlindungan anak.

Selain itu, Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) akan memberikan pendampingan psikologi bagi anak-anak yang diduga membully siswi tersebut.

"Dan untuk keluarga korban akan diberikan penguatan kalau mereka menginginkan pendampingan psikolog, kami siap untuk mendampingi," pungkasnya.

Kasus Siswi MTsN 3 Bunuh Diri Diduga Dibully

Seorang siswi MTsN 3 Kabupaten Sukabumi ditemukan tewas gantung diri di rumahnya di Kecamatan Cikembar, Selasa (28/10) malam. Peristiwa ini viral di media sosial.

Kepala sekolah MTsN 3 Sukabumi, Wawan Setiawan, menyebut korban dikenal sebagai siswi berprestasi dan aktif di kegiatan sekolah, termasuk pramuka dan ekstrakurikuler. Ia terakhir terlihat beraktivitas normal dan izin pulang karena sakit perut.

Wawan menegaskan sekolah tidak pernah menerima laporan atau tanda-tanda bahwa korban mendapat tekanan atau perundungan. Ia menambahkan, sekolah menerapkan prinsip ramah anak dan menolak segala bentuk kekerasan.

Sementara itu Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi, Ferry Supriyadi, usai melayat ke rumah duka pada Rabu (29/10) mengaku mendengar langsung penuturan dari ibu korban mengenai kondisi anaknya sebelum meninggal dunia.

“Barusan saya termasuk Pak Kadus dan rekan-rekan mendengarkan langsung dari ibu korban. Ibu korban katanya sempat menyampaikan kepada wali kelasnya yang bernama Ibu Dewi, kalau enggak salah, terkait hal yang dikeluhkan oleh almarhumah setiap pulang sekolah,” kata Ferry.

Menurut Ferry, wali kelas sempat menanggapi keluhan itu dan berjanji akan menindaklanjutinya.

“Kata pengakuan si wali kelas itu ‘Iya akan ditindaklanjuti, akan diobrolkan mungkin kepada terduga pelakunya.’ Itu sebelum kejadian. Barusan ibu korban menyampaikan seperti itu,” ujarnya menirukan keterangan ibu korban.

Korban meninggalkan surat tulisan tangan berisi permintaan maaf kepada keluarga dan ungkapan sakit hati terhadap teman sekelasnya. Kasus ini kini ditangani Unit PPA Polres Sukabumi.

Surat itu berisi perasaan sakit hatinya terhadap teman-teman sekelasnya dan mengungkapkan keinginannya untuk pindah sekolah.