Kata Ahli Budaya Soal Ruwatan yang Bikin Bocah di Temanggung Meninggal Dunia

Bocah berumur tujuh tahun yang ditemukan meninggal karena ritual ruwatan (menghilangkan sial) di Temanggung, Jawa Tengah, menghebohkan publik. Korban meninggal usai dimandikan lalu disimpan selama empat bulan di rumah oleh orang tua atas saran dukun.
Polisi mengatakan, berdasarkan pengakuan dukun, anak tersebut diruwat karena merupakan keturunan genderuwo (salah satu jenis setan dalam kepercayaan Jawa). Untuk menghilangkan pengaruh setan itu, makan sang anak harus diruwat.
Terkait insiden itu, ahli budaya Sugeng Nugroho, mengatakan praktik tersebut bukan model ruwatan dalam Budaya Jawa. Tradisi Jawa juga tak mengenal adanya anak keturunan genderuwo.
"Menurut pendapat saya, praktik yang dilakukan oleh dukun tersebut bukan termasuk ruwatan. Budaya Jawa tidak mengenal model ruwatan seperti itu," ujar Sugeng kepada kumparan, Selasa (18/5).
Apa itu ruwatan?
Ia mengatakan ruwatan adalah tradisi Jawa untuk menghilangkan sial. Tradisi ini merupakan peninggalan dari kepercayaan animisme.
"Ketika Islam masuk, itu masih juga diyakini oleh orang Jawa. Ruwatan itu biasanya untuk menghilangkan superto. Superto adalah sial," tambahnya.
Menurut sepengetahuan Sugeng, ada 40 jenis ruwatan, mulai dari manusia sial, ruwatan bumi, hingga ruwatan rumah.
Ia menegaskan, ruwatan karena anak nakal di Jawa tidak ada. Dalam tradisi Jawa, anak dikatakan sial di antaranya adalah anak satu-satunya (ontang-anting), dua anak laki-laki atau perempuan, anak lima laki-laki (Pandawa) atau perempuan semua (Pendawi).
"Itu untuk golongan anak yang dianggap sial sejak lahir," imbuhnya.
Pelaksanaan ritual ruwatan
Ia menambahkan, ada sejumlah perlengkapan yang harus disiapkan untuk membuang sial. Di antaranya adalah kain mori berwarna putih, kain batik berbagai motif, umbi-umbian, dan hewan ternak.
"Kain mori putih biasanya dipakai yang bersangkutan. Kalau di Jawa Timur, itu sangat lengkap. Ada tumbuh-tumbuhan," paparnya.
Dalam pelaksanaannya, bisanya keluarga mempercayakan kepada dalang (wayang). Kemudian dibacakan mantra.
"Setelah itu kemudian yang bersangkutan dimandikan air bunga kemudian dipotong rambutnya. Sudah hanya itu," pungkasnya.
