Kata Pakar Kesehatan Masyarakat soal Pengobatan Ida Dayak Begitu Digandrungi
·waktu baca 3 menit

Pengobatan Ida Dayak viral dan digandrungi masyarakat. Banyak pasien yang rela datang dari jauh untuk berharap kesembuhan dari pengobatan perempuan kelahiran Pasir Belengkong, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, 3 Juli 1972 itu.
Metode pengobatan yang diterapkan Ida Dayak tanpa medis atau operasi. Ida hanya menggunakan minyak khusus yang disebut sebagai 'minyak bintang' dan rapalan doa-doa. Dari video-video yang viral di media sosial, pasien yang datang ada yang menderita kelumpuhan, susah bicara hingga patah tulang. Setelah diobati oleh Ida Dayak, para pasien itu diklaim langsung sembuh.
Soal biaya juga tidak ada tarif pastinya. Pasien hanya membayar sukarela.
Lalu mengapa pengobatan tradisional Ida Dayak begitu digandrungi masyarakat?
Ahli kesehatan masyarakat (public health) yang juga peneliti Indonesia dari Universitas Griffith Australia dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH. mengatakan fenomena pengobatan seperti Ida Dayak bukan hal baru. Di Indonesia, pengobatan alternatif begitu menjamur.
Menurutnya, ada sejumlah alasan mengapa masyarakat lebih memilih berobat alternatif daripada medis. Pertama soal rendahnya akses pada pelayanan kesehatan modern.
"Misalnya infrastruktur jalannya jauh, tenaga medis profesional dan alatnya yang terbatas. Sehingga traditional medicine ini menjadi satu-satunya pilihan," kata Dicky kepada kumparan, Selasa (4/4)
Alasan kedua karena adanya kepercayaan secara budaya dan juga praktis yang mengakar kuat. Pasien tumbuh dan besar dengan melihat orang tua dan kakek neneknya menggunakan pengobatan tradisional, sehingga terbangun kepercayaan pada pengobatan tersebut.
"Selanjutnya ketiga soal cost, biaya yang mahal. Meskipun ini (pengobatan modern) tersedia di suatu wilayah tapi mungkin terlalu mahal sehingga nggak terjangkau, sehingga traditional spiritual medicine ini menjadi pilihan yang lebih terjangkau," jelasnya.
Keempat karena rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan modern. Hal ini bisa terjadi karena rekam jejak kegagalan kasus pengobatan atau reputasi tenaga medis yang tidak mereka percaya.
"Sehingga mereka mencari alternatif terapi lain," katanya.
Alasan terakhir, kata Dicky, karena keterbatasan literasi kesehatan. Hal ini membuat mereka tidak memiliki pemahaman dan tidak bisa mengambil keputusan tentang kesehatan mereka. Sehingga mereka kesulitan untuk mengakses fasilitas kesehatan modern.
"Kelima hal ini yang harus di-address oleh pemerintah pusat ataupun daerah. Dalam hal ini Kemenkes," katanya.
Namun bukan berarti traditional spiritual medicine itu buruk, tidak juga. Bisa saja jadi bermanfaat dan digunakan sebagai pelengkap terapi modern yang ada tapi harus disaintifikasi agar bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, sehingga tidak merugikan masyarakat," ungkap Dicky.
Ida Dayak viral
Pengobatan Ida Dayak selalu menyita perhatian masyarakat luas. Seperti yang baru-baru ini terjadi di Asrama Divif I Kostrad, Cilodong, Depok, Senin (3/4).
Sejak terdengar Ida Dayak akan melakukan pengobatan, ratusan orang mendatangi Markas Divisi Infanteri 1/Kostrad Depok. Membeludaknya masyarakat itu menyebabkan kemacetan di jalan sekitar Kostrad hingga Jalan raya Bogor.
Selain itu, sempat terjadi kericuhan antar masyarakat yang ingin berobat kepada Ida Dayak. Masyarakat yang datang ingin saling mendahului untuk mendapatkan penanganan tradisional Ida Dayak yang menggunakan minyak bintang.
Karena situasi yang tidak kondusif, akhirnya pengobatan Ida Dayak yang seharusnya digelar Senin dan Selasa, 3-4 April 2023 terpaksa dibatalkan.
Pembatalan itu dikonfirmasi oleh Panglima Divisi Infanteri 1/Kostrad, Mayjen TNI Bobby Rinal Makmun. Menurutnya, Ida Dayak membatalkan pengobatan dikarenakan jumlah masyarakat membeludak hingga menimbulkan kemacetan panjang.
"Mohon maaf saya mengumumkan, Ibu tidak bersedia atau tidak mampu untuk melakukan pengobatan karena kondisinya ramai," ujar Bobby saat dikonfirmasi, Senin (3/4).
Bobby mengungkapkan, untuk mengobati masyarakat yang datang dengan jumlah seperti Senin (3/4) kemarin itu membutuhkan waktu empat hingga lima hari.
Melihat jumlah yang begitu banyak tidak memungkinkan Ida Dayak mengobati penyakit yang dialami masyarakat satu persatu, sehingga pengobatan yang direncanakan kemarin dan hari ini dibatalkan.
“Saya evaluasi dulu, saya pending dulu, tidak ada pengobatan praktik pengobatan," tegas Bobby.
