KBRI Dili Promosikan Tenun NTT yang Dipakai Jokowi di HUT RI, Ingatkan 4 Pesan

Duta Besar Indonesia untuk Timor Leste, Sahat Sitorus, mengingatkan pesan penting yang dibawa Presiden Jokowi terkait penggunaan baju daerah di acara kenegaraan. Sahat menyebut ada empat pesan penting yang dibawa Jokowi melalui baju daerah yang dikenakan.
Hal itu disampaikan Sahat dalam acara seminar secara virtual berjudul Potensi Tenun Ikat Memperkuat Ekonomi Masyarakat Perbatasan RI-RDTL: Tenun Ikat NTT dan Tais Oecusse Go Global. Acara tersebut diikuti sekitar 150 orang peserta dari Indonesia dan Timor Leste.
"Ada empat pesan yang ingin disampaikan Presiden Joko Widodo yang mengenakan pakaian tenun khas NTT dari Kabupaten Sabu Raijua dan Kabupaten Timor Tengah Selatan pada dua acara nasional kenegaraan yaitu Pidato Tahunan MPR 2020 dan Upacara Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke-75 di Istana Negara," ujar Sahat dalam pernyataannya di seminar virtual, Rabu (30/9).
Seminar tersebut digelar KBRI Dili guna memfasilitasi upaya penguatan sektor usaha informal berupa kerajinan tenun ikat, khususnya di perbatasan Indonesia-Timor-Leste.
Empat kabupaten di NTT yang berbatasan darat langsung dengan tiga provinsi di Timor Leste, yaitu Kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Utara berbatasan dengan Provinsi Oecusse, Kabupaten Belu berbatasan dengan Provinsi Bobonaro dan Kabupaten Malaka berbatasan dengan Provinsi Covalima.
Empat pesan yang dimaksud Sahat itu pertama, budaya daerah perlu selalu diapresiasi setinggi-tingginya di tengah arus modernisasi dan globalisasi. Kedua, tenun ikat/tais adalah karya seni tinggi yang melambangkan nilai sosial budaya masyarakat yang harus dilestarikan secara berkelanjutan.
"Ketiga kaum perempuan penenun telah bertransformasi menjadi penggerak perekonomian bangsa. Lalu pesan keempat Pulau Timor terdiri dari dua negara yaitu Indonesia dan Timor-Leste, memiliki keseragaman budaya membuat tenun/tais, yang artinya, kedua negara terus menenun kerja sama di berbagai tingkatan dan lapisan untuk kesejahteraan dan kemakmuran bersama," ucap Sahat.
Agar posisinya makin diperhitungkan kelak, Ketua Dekranasda NTT Julie Laiskodat, menyarankan agar Timor-Leste dapat menyelenggarakan ajang bergengsi sebagai langkah membudayakan jenis kain tenun tersebut.
"Saya butuh 15 tahun untuk membuat masyarakat NTT mengenal tenunnya sendiri yang berasal dari 22 kabupaten dengan total 832 motif. Daya jual kita di tingkat internasional adalah cerita atau literasi di balik makna setiap motif tenun. Timor-Leste perlu membuat cerita di balik setiap motif tenun yang dimiliki masyarakatnya," beber Julie.
Supaya langkah itu berhasil, menurut Julie, peran serta Pemerintah Timor Leste seperti misalnya mengadakan anggaran nasional dan regional di bidang pelestarian dan pembinaan kelompok penenun, jelas akan jadi solusi di kemudian hari.
"Pemerintah perlu turun langsung ke kelompok penenun, menyediakan material tenun karena mama-mama penenun perlu modal untuk produksi," ucap Julie.
Sementara Wakil Menteri Pariwisata dan Budaya Timor Leste, Inacia Teixeira, menyambut baik tujuan pemerintah Indonesia tersebut. Ia bahkan memimpikan karya tenun khas Timor Leste dapat pula menyamai kualitas karya tenun milik Indonesia.
"(Saya) berharap tais Timor-Leste dapat go global seperti tais/tenun dari NTT yang sudah masuk ke pasar internasional di Eropa dan Amerika," ucap Inacia.
"(Saya juga) berharap kedua negara dapat membuat nota kesepahaman (memorandum of understanding) di bidang pariwisata, kebudayaan dan usaha informal untuk memperkuat sektor-sektor informal kerajinan masyarakat kedua negara," tutupnya.
