KCI Diminta Tambah Perjalanan KRL untuk Kurangi Kepadatan Penumpang saat PSBB

kumparanNEWSverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas memeriksa suhu tubuh calon penumpang KRL Commuter Line di Stasiun Juanda, Jakarta, Senin (16/3). Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
zoom-in-whitePerbesar
Petugas memeriksa suhu tubuh calon penumpang KRL Commuter Line di Stasiun Juanda, Jakarta, Senin (16/3). Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Pemprov DKI telah menjalankan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB sejak Jumat (10/4) dan akan berlaku selama 14 hari ke depan. Meski Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah meneken Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 33 Tahun 2020, namun sayangnya belum semua patuh pada aturan yang ditetapkan untuk mencegah penyebaran virus corona.

Misalnya, pada Senin (13/4) dan Selasa (14/4) pagi ini, antrean penumpang KRL tampak mengular di beberapa stasiun di wilayah penyangga Jakarta seperti Bogor, Depok, dan Bekasi. Antrean disebabkan adanya pengurangan armada dan jam operasional oleh pihak PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) pada masa PSBB di Jakarta.

Alih-alih menekan banyaknya arus orang menuju Jakarta, aturan itu justru membuat penumpukan di sejumlah stasiun. Imbauan untuk menjaga jarak aman atau physical distancing di tengah pandemi virus corona ini menjadi buyar. Tak ada jarak antara satu penumpang dengan lainnya saat memasuki wilayah stasiun.

Sejumlah penumpang KRL Commuter Line antre menunggu kedatangan kereta di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Senin (13/4). Foto: Antara/Arif Firmansyah

Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (INSTRAN) Deddy Herlambang menyayangkan karena penumpukan penumgpang masih terjadi di sejumlah stasiun, imbas pembatasan waktu operasional. Sehingga, makna physical distancing menjadi hilang.

"Sedih sekali pada Senin 13 April 2020 terjadi penumpukan kembali di beberapa stasiun, semisal di Citayam dan Bogor. Sama halnya terjadi seperti sebelumnya, boleh dikatakan physical distancing gagal lagi karena terjadi antrean panjang di stasiun, sampai pada akhirnya PT KCI menambah perjalanan KRL tambahan lagi untuk mengangkut penumpang yang tidak terangkut," ujar Deddy saat dihubungi kumparan, Selasa (14/4).

Menurut Deddy, kondisi ini diperparah karena masih ada kantor di Jakarta yang tidak memberlakukan work from home (WFH) secara penuh.

"Ternyata ketika PSBB diberlakukan di Jakarta Senin ini, masyarakat yang masih bekerja juga masih banyak, sehingga pembatasan waktu perjalanan pada pukul 06.00 WIB malah menumpuk karena jam KRL normal sebelumnya dimulai jam 04.00. Akibatnya semua berduyun-duyun di stasiun pukul 06.00 WIB dan aturan PSBB angkutan umum massal diizinkan mengangkut 50% (LF/Load Factor) dari total kapasitas normal," beber Deddy.

kumparan post embed

"Sehingga masuk di stasiun pun juga diatur masuk jangan sampai 50% tiap rangkaian KRL, karena di stasiun lain supaya bisa membawa penumpang lain, maka semakin menumpuklah penumpang itu di stasiun-stasiun," sambungnya.

Deddy tak menampik adanya aturan pembatasan ini cukup merugikan karena banyak penumpang yang sudah mengantre dari dini hari, tapi tidak bisa langsung masuk KRL. Ia pun menyarankan, jika pembatasan jam operasional masih berlangsung, maka armada semestinya ditambah.

"Yang tepat adalah mengurangi jumlah penumpangnya bukan jam perjalanannya yang dikurangi. Apalagi bila PSBB hanya diizinkan mengangkut maksimal 50% penumpang, konsekuensi logisnya jumlah perjalanan keretanya harus 2 kali lebih banyak bukan malah dikurangi jam perjalanannya," tuturnya.

Senada dengan Deddy, Pengamat Transportasi Universitas Indonesia (UI), Alvinsyah, juga berharap PT KCI seharusnya jangan mengurangi armada, tetapi justru harus menambahnya agar bisa menampung kebutuhan kapasitas penumpang yang lebih banyak.

Sejumlah penumpang antre masuk ke Stasiun KRL Bojong Gede. Foto: Dok. Fitri

Akibat pengurangan jam operasional, maka semestinya PT KCI paham bahwa penumpukan penumpang di masih mungkin terjadi.

"Ya betul yang dikurangi adalah okupansinya, frekuensi layanan dan jumlah gerbong tiap rangkaian tetap dipertahankan seperti kondisi normal. Untuk rentang waktu layanan sesuai dengan aturan yang diberlakukan saat ini," ujar Alvin.

Alvin berharap seluruh pihak menyiapkan langkah pencegahan. Penerapan aturan physical distancing di area stasiun, kata Alvin, juga harus diperketat agar penumpukan tak terjadi, baik saat masuk stasiun maupun saat berada di dalam KRL.

"Perlu diperhatikan kalau tingkat okupansi penumpang hanya 50%, maka yang harus dimitigasi/dikelola adalah panjang antrean dan jarak antara penumpang saat mau naik ke gerbong," kata Alvin.

"Perlu petugas di dalam diluar gerbong yang mengaturnya serta kerja sama yang baik dari para penumpangnya," tutupnya.

kumparan post embed

=====

kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!