KDM Bicara SPMB: Jangan Kekeh di Sekolah yang Sudah Numpuk Pesertanya
ยทwaktu baca 3 menit

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengimbau para orang tua calon peserta didik baru untuk tidak panik maupun khawatir dalam mengikuti proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026.
Menurutnya, masih banyak sekolah negeri di Jawa Barat yang belum terpenuhi kuota siswanya.
"Ayo seluruh orang tua siswa pagi hari ini tidak usah lagi repot untuk daftar, karena hari ini SPMB dibuka tanggal 15 Juni sampai 14 Juli 2026," demikian pernyataan Dedi dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya @dedimulyadi71, Senin (15/6).
Dedi menjelaskan, siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA dan SMK pada dasarnya telah terdata dalam sistem. Karena itu, orang tua hanya perlu mengikuti petunjuk yang tersedia pada aplikasi SPMB.
"Karena siswa-siswa kita yang masuk SMA, SMK sudah terdaftar di SPMB. Selanjutnya nama-nama tersebut persyaratannya sudah lengkap di SPMB ini, nanti tinggal klik saja sesuai dengan petunjuk teknis yang ada di aplikasi SPMB," ujarnya.
Tidak Terpaku di Satu Sekolah
Ia juga meminta masyarakat tidak terpaku pada sekolah-sekolah tertentu yang jumlah pendaftarnya sudah sangat tinggi. Berdasarkan data yang dimiliki Pemerintah Provinsi Jawa Barat, masih terdapat sejumlah sekolah negeri yang belum memenuhi kuota.
"Masih banyak sekolah-sekolah negeri yang belum cukup peminatnya, manfaatkan ruang ini dengan baik, jangan kekeh di sekolah yang sudah numpuk pesertanya," kata Dedi.
Bagi calon siswa yang tinggal di wilayah perbatasan, Pemprov Jabar juga telah menyiapkan skema sekolah penyangga untuk mengakomodasi kebutuhan pendidikan.
"Bagi yang wilayah perbatasan nanti ada namanya sekolah penyangga, manfaatkan yang penting anak-anak kita sekolah," ujarnya.
Selain itu, Dedi turut mengingatkan adanya fasilitas SMA Terbuka yang dapat dimanfaatkan siswa yang memiliki keterbatasan untuk mengikuti pembelajaran tatap muka setiap hari.
"Bagi mereka yang anak-anaknya tidak bisa tiap hari ke sekolah, manfaatkan namanya sekolah terbuka, SMA terbuka. Nah ini juga negeri, nanti ijazahnya ijazah negeri," katanya.
Menurut Dedi, SMA Terbuka dapat menjadi alternatif bagi siswa yang membutuhkan fleksibilitas dalam proses belajar tanpa kehilangan hak memperoleh ijazah sekolah negeri.
Di sisi lain, Pemprov Jabar juga memperluas akses pendidikan melalui kerja sama dengan sekolah swasta. Dedi menyebut terdapat sekitar 700 sekolah swasta yang telah menjalin kerja sama dengan pemerintah provinsi.
"Nanti bisa masuk ke sekolah swasta yang siang ini nota kesepahamannya ditandatangani. Berdasarkan informasi dari Kepala Dinas Pendidikan ada 700 sekolah swasta yang menjalin kerja sama dengan pemerintah provinsi," ujarnya.
Melalui kerja sama tersebut, Pemprov Jabar menargetkan pendidikan menengah dapat diakses lebih luas oleh masyarakat tanpa terbebani biaya sekolah.
"Kita nanti memasuki era di mana anak-anak sekolah negeri dan sekolah swasta yang bekerja sama dengan pemerintah provinsi tidak dipungut biaya oleh sekolah, karena biayanya sudah diberikan dalam bentuk beasiswa Pancawaluya," kata Dedi.
Ia menegaskan kebijakan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memperluas akses pendidikan bagi seluruh warga Jawa Barat.
"Sehingga kita memasuki sebuah era di mana negara bertanggung jawab terhadap pendidikan warganya," ujar Dedi.
Menutup pesannya, Dedi berharap seluruh orang tua tetap semangat dalam menyekolahkan anak-anaknya dan memanfaatkan seluruh fasilitas pendidikan yang telah disiapkan pemerintah.
"Hatur nuhun ya, semoga sehat, berkah, penuh semangat untuk menyekolahkan anak-anak kita," katanya.
