Kebutuhan Oksigen Pasien Isoman Tinggi, Menkes Buka Opsi Sumbangan oleh Relawan
·waktu baca 2 menit

Kebutuhan oksigen yang masih relatif tinggi untuk penanganan pasien COVID-19 saat ini ketersediaannya harus terus diperbanyak.
Kebutuhan oksigen di rumah sakit seluruh Indonesia terkait lonjakan kasus telah mencapai hingga 2000 ton per hari. Angka ini mencapai 5 kali lebih tinggi dari kebutuhan sebelumnya yang hanya sebesar 400 ton per hari. Belum lagi dengan kebutuhan oksigen bagi pasien COVID-19 yang menjalankan isolasi mandiri.
Untuk itu, menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, banyak relawan yang tergerak untuk menyumbangkan oksigen. Sehingga, ia membuka kemungkinan adanya mekanisme peminjaman tabung oksigen untuk pasien isolasi mandiri dengan bantuan dari para relawan.
Dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, mekanisme tersebut rencananya akan dilakukan uji coba di DKI Jakarta. Tabung oksigen tersebut setelah dipakai akan dipinjamkan lagi ke pasien lain yang membutuhkan.
"Dan banyak yang ingin nyumbang. Selain di RS kita juga pengin bikin mekanisme bisa dipinjamkan ke rumah-rumah. 10-20 ribu misalnya ada yang nyumbang, nanti ada relawan yang ini bisa dipakai di Jakarta dulu. Jadi orang yang butuh bisa pinjam dari sini, diantar, mungkin pakai Gojek, mudah-mudahan 10 hari sembuh, ditarik dan kita bisa kasih yang lain," kata Budi secara virtual, Selasa (13/7).
Apabila mekanisme ini berhasil di Jakarta, maka Budi mengatakan hal ini bisa diterapkan di daerah lain. Ia mencontohkan daerah lain seperti Lampung yang kini juga mengalami lonjakan kasus.
"Terus kita juga bisa kalau di Jakarta (kasus) turun ada ledakan (jumlah kasus) di Lampung, kita bisa kirim untuk masyarakat yang mau pinjam," tambahnya.
Dengan adanya mekanisme peminjaman tabung oksigen yang didukung bantuan dari para relawan, Budi mengharapkan ini bisa membantu agar akses kesehatan bisa diperoleh secara adil.
"Nanti kita bisa raise for donors. Kita bangun negara ini sehingga bisa diakses adil untuk seluruh rakyat," tutupnya.
