Kejagung: Alarm Berbunyi saat Kebakaran, tapi Namanya Musibah Tak Ada yang Tahu

Kebakaran melanda gedung utama di Kompleks Kejaksaan Agung (Kejagung), Jakarta Selatan, pada Sabtu (22/8) malam. Padahal, sebagai cagar budaya (heritage), gedung ini memiliki sistem keamanan atau pengingat kebakaran yang baik.
"Karena masuk dalam kategori heritage keamanannya sudah sesuai standar. Alarm itu kan bunyi setelah terbakar, iya toh? Asap munculnya apa? Api toh," Kepala Pusat Penerangan Kejaksaan Agung Hari Setiyono kepada wartawan, Minggu (23/8).
Hari mengatakan, kebakaran adalah musibah, jadi mau bagaimana lagi. Secanggih apa pun sistemnya, kata dia, musibah bisa terjadi kapan saja.
"Sekali lagi yang namanya musibah kita semua tidak tahu. Dengan sistem seperti apa pun kalau yang namanya musibah dan kebetulan juga hari libur, Tentu musibah ini bukan keinginan bersama," jelas dia.
Soal renovas gedung, lanjut dia, akan ada perlakuan berbeda. Sebab gedung ini merupakan cagar budaya di bawah Pemprov DKI Jakarta.
"Kita sangat menyayangkan gedung yang mempunyai nilai sejarah ini terbakar. betul sudah ditetapkan sebagai cagar budaya tentu perlakuannya berbeda dengan gedung lain, tapi namanya musibah," tutur dia.
Ia juga memastikan pasokan air sebenarnya juga cukup. Namun kobaran api begitu besar sehingga petugas butuh 12 jam lebih untuk memadamkannya.
"Instalasi air cukup, namun karena kobaran api besar dan debit air menembus," tutupnya.
Api di gedung Kejagung baru bisa dipadamkan Minggu (23/8) subuh. 22 unit damkar berjibaku untuk mengendalikan si jago merah.
