Kemendikbud: Mayoritas Siswa Hanya Belajar 2 Jam per Hari di Rumah

Pandemi corona membuat segala aktivitas harus dilaksanakan dari rumah, termasuk kegiatan belajar mengajar. Kemendikbud pun mengadakan survei untuk mengetahui efektivitas pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi corona.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Kabalitbangbuk) Kemendikbud, Totok Suprayitno, mengatakan berdasarkan hasil survei, mayoritas siswa mengalami hambatan dalam PJJ.
"Memang mayoritas anak-anak belajar dari rumah selama COVID-19, 95 persen menyatakan belajar dari rumah full. Namun ada beberapa hambatan anak-anak dalam belajar. Sehingga, ada potensi pengalaman belajar yang hilang," ujar Totok dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR, Jakarta, Senin (22/6).
Totok menjelaskan hambatan yang dialami di antaranya durasi waktu belajar siswa yang berbeda. Selama belajar dari rumah, mayoritas siswa hanya belajar selama 2 jam setiap hari. Siswa juga tak belajar penuh selama 5 hari dalam sepekan yang berakibat hilangnya pengalaman belajar siswa.
"Pertama hal pokok yang disampaikan kenapa hambatan belajar, terjadi variasi jumlah jam belajar anak itu mayoritas belajar hanya 2 jam sehari dan kebanyakan enggak full 5 hari, kebanyakan maksimal 4 hari. Kemungkinan kehilangan pengalaman belajar bisa terjadi di situ," ucap Totok.
Selain itu, kata Totok, siswa juga sulit memahami pelajaran yang berasal dari buku materi selama belajar dari rumah. Meski demikian, 90 persen orang tua bersedia mendampingi anaknya belajar dari rumah.
"Dalam kontrol kesulitan memahami materi kalau dari dalam buku, tampaknya siswa dalam memahami materi masih butuh bantuan dari guru. Yang menggembirakan 89 persen atau hampir 90 persen orang tua dampingi anak di semua level. Sehingga, ini hal yang baru orang tua tergerak untuk dampingi anak," kata dia.
Menyikapi hal tersebut, lanjut Totok, Kemendikbud akan membuat modul yang dikemas lebih sederhana agar siswa lebih mudah ketika belajar dari rumah. Modul pun juga akan dikemas lebih menarik agar siswa tak merasa bosan.
"Kami mencoba ke depan ini bukan satu-satunya solusi tapi untuk memitigasi dan bagian dari solusi kami akan sediakan modul-modul, memudahkan anak belajar sendiri atau minimal panduan guru, modul-modul bisa berupa lebih menarik agar mengurangi bosen anak," jelasnya.
Sementara bagi sekolah yang akan melaksanakan tatap muka, diharapkan melakukan uji awal kemampuan siswa. Sehingga materi pembelajaran dapat disesuaikan dengan kemampuan anak selama belajar dari rumah.
"Awal pelajaran harus ada assessment awal untuk identifikasi kemampuan pengetahuan anak sampai di mana. Dan guru perlu melakukan, guru mengajar pada level anaknya bukan sesuai dengan tuntutan kurikulum. Model assessment sebagai contoh sedang kami siapkan. Sehingga di awal tahun pelajaran sudah siap," tutupnya.
***
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
