Kemenhub Nilai Drone Jadi Solusi Angkutan Barang ke Pulau Kecil-Wilayah 3TP

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengembangkan penggunaan drone sebagai salah satu alternatif pengangkutan barang dari wilayah kepulauan dan daerah tertinggal, terdepan, terluar dan perbatasan (3TP) menuju titik hub transportasi.
Direktur Jenderal Integrasi Moda Transportasi (Intramoda) Kemenhub Risal Wasal mengatakan penggunaan drone diarahkan untuk mengatasi keterbatasan konektivitas transportasi di pulau-pulau kecil yang sulit dijangkau kapal berukuran besar.
"Di pulau-pulau kecil di daerah timur itu untuk menata spoke-nya, penumpukan dari spoke ke hub, kita mulai menggunakan drone untuk pengangkutan barang," kata Risal dalam Seminar Nasional Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) di Millenium Hotel Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (4/8)
Menurut Risal, drone tersebut nantinya digunakan untuk mengangkut barang dari titik-titik kecil (spoke) menuju hub (posisi) yang menjadi lokasi persinggahan kapal tol laut. Hal ini dilakukan karena kapal berukuran besar tidak memungkinkan untuk masuk hingga ke pulau-pulau kecil.
"Drone-drone kecil nih Pak, yang bisa angkut 5 kilo sampai 1 ton, dia akan ke penumpukan kapal tol laut hanya di hub-hub besar Pak, kapal-kapal besar nggak mungkin masuk ke yang kecil," ujarnya.
Risal menjelaskan konsep tersebut merupakan bagian dari penataan sistem hub and spoke dalam integrasi transportasi. Barang dari wilayah kecil dikumpulkan terlebih dahulu di titik spoke sebelum kemudian dibawa menuju hub untuk diteruskan menggunakan moda transportasi dengan kapasitas lebih besar.
Menurutnya, pemanfaatan drone tersebut juga terhubung dengan konsep big data dan super apps transportasi yang tengah dikembangkan pemerintah. Sistem tersebut akan memuat informasi mengenai ketersediaan drone, jenis barang yang diangkut hingga biaya pengiriman.
"Dan itu ada di big data dan super apps-nya. Siapa yang punya drone-nya, barangnya seperti apa, biayanya ada, ada seperti di dalamnya. Data ini cukup lengkap di dalam super apps nanti untuk memastikan bagaimana kita dari hulu ke hilir melayani sistem transportasi," kata Risal.
Risal mengatakan penggunaan drone menjadi salah satu cara untuk mengatasi kesenjangan layanan transportasi, terutama di wilayah 3TP. Menurut dia, daerah-daerah tersebut memiliki potensi ekonomi yang besar, tetapi distribusi hasil produksinya masih terkendala keterbatasan akses transportasi.
"Sudah kita siapkan super apps-nya ini masalah apa daripada mengatasi gap angkutan barang dan penumpang di beberapa wilayah remote yang kita sebut juga ada 3TP," ujarnya.
Risal mencontohkan sejumlah produk dari wilayah 3TP, termasuk hasil perikanan, yang memiliki potensi ekonomi tetapi membutuhkan konektivitas transportasi agar dapat keluar dari daerah asalnya.
"Produk mereka luar biasa di 3TP, entah ikan dan lain-lain, dengan konsep ini memastikan mereka akan barang itu bisa keluar hingga bisa terjadi pertumbuhan," katanya.
Risal sebelumnya menjelaskan integrasi transportasi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, tetapi juga mencakup jaringan, informasi, pembayaran, dan kelembagaan. Menurutnya, seluruh aspek tersebut dibutuhkan agar konektivitas transportasi nasional tidak berhenti pada keterhubungan antardaerah, tetapi juga menghasilkan layanan yang berkualitas.
"Big data itu berisi data-data terkait dengan supply-demand, operator, dan lain-lain ya Pak ya. Super apps itu membuat memastikan bahwa bagaimana dia kemudahan untuk melaksanakan daripada layanan transportasi," ujar Risal.
Melalui konsep tersebut, Risal berharap keterbatasan akses transportasi di wilayah-wilayah terpencil dapat dikurangi sehingga distribusi barang dan mobilitas masyarakat menjadi lebih mudah. Pemanfaatan drone menjadi salah satu alternatif untuk menjembatani wilayah kecil yang tidak dapat dijangkau langsung oleh moda transportasi berkapasitas besar.
