Kemenkes Rekrut 1.832 Tenaga Kesehatan untuk Ditugaskan Selama Musim Haji 2022

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana jemaah lempar jumrah pada hari keempat haji 2021, Rabu (21/7). Foto: Kemenhaj Arab Saudi
zoom-in-whitePerbesar
Suasana jemaah lempar jumrah pada hari keempat haji 2021, Rabu (21/7). Foto: Kemenhaj Arab Saudi

Kemenkes berencana mengirim ribuan tenaga kesehatan untuk membantu jemaah haji yang membutuhkan layanan kesehatan selama berada di Arab Saudi. Kapus Haji Kemenkes, dr. Budi Sylvana, mengatakan pihaknya akan merekrut dokter spesialis, dokter umum hingga perawat untuk ditugaskan di Arab Saudi.

"Kemenkes melakukan rekrutmen tenaga kesehatan haji untuk ditugaskan pada musim haji tahun ini. Telah disiapkan 1.832 orang petugas kesehatan haji dengan rincian sebagai berikut: tenaga kesehatan kloter yang terdiri atas 1 dokter dan 2 perawat sehingga berjumlah 1.521 orang," kata Budi dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VIII DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (22/3).

Budi mengatakan, jumlah itu muncul dengan asumsi pemerintah memberangkatkan 100% jemaah haji. Selain tenaga kesehatan per kloter, ada juga 311 orang yang terdiri dari dokter spesialis, umum, gigi, dan perawat.

Mereka ini nantinya akan ditempatkan juga di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI). Dokter spesialis yang akan ditempatkan di antaranya dokter penyakit dalam, paru, jantung, jiwa, syaraf, anestesi, bedah, dan rehabilitasi medik.

kumparan post embed

"Karena saat ini memang masih berlangsung COVID, jadi kami fokus penyakit dalam, jantung, dan paru [untuk] mengantisipasi jika ada jemaah yang membutuhkan pelayanan-pelayanan ini," ujarnya.

Lebih lanjut, Kemenkes mengajukan anggaran kesehatan haji tahun 2022 sebesar Rp 327,67 miliar untuk kesehatan haji yang dibagi dalam 4 kelompok. 4 kelompok itu adalah obat-obatan, vaksin meningitis, sewa gedung KKHI, dan penempatan tenaga kesehatan haji.

"Paling tidak ada 4 hal pokok yang kami anggarkan. Pertama adalah terkait obat-obatan dan alat perbekalan kesehatan kurang lebih Rp 50 miliar. Memang cukup besar ini. Kedua adalah terkait dengan untuk vaksin meningitis sebesar Rp 30 miliar karena sampai saat ini Saudi masih mensyaratkan, mandatory sifatnya untuk vaksin meningitis disyaratkan bagi pelaku perjalanan yang ingin masuk Saudi," ungkapnya.

"Ketiga, penyewaan gedung Klinik Kesehatan Haji Indonesia di Jeddah, Makkah, dan Madinah dan operasionalnya total nilainya Rp 37 miliar. Yang terakhir adalah terkait dengan...ini komponen terbesar, penugasan tenaga kesehatan haji sebesar Rp 209 miliar. Kenapa besar? Karena ini menyangkut terkait dengan tiket petugas yang harus kami tanggung dan akomodasinya. Jadi Rp 209 miliar ini diasumsikan untuk memberangkatkan sekitar 1.800 tenaga kesehatan yang akan ditugaskan ke Arab Saudi," pungkasnya.