Kemensos: 26 Orang Meninggal Saat Banjir dan Longsor di Jabodetabek

Sebanyak 26 orang menjadi korban meninggal dunia saat banjir dan longsor melanda Jabodetabek setelah hujan deras di wilayah tersebut pada malam pergantian tahun, Rabu (1/1).
Data tersebut mengacu pada data terakhir Kemensos dalam laporan Penanganan Korban Bencana Banjir di Provinsi DKI Jakarta, Jabar, dan Banten Tahun 2020, Kamis (2/1), pukul 14.00 WIB.
Korban meninggal dengan sebab yang beragam. Yakni karena hipotermia (2 orang), tersengat listrik (4 orang), tenggelam (3 orang), terseret arus banjir (12 orang), tertimpa longsor (4 orang), hingga tertimpa turap (1 orang).
Korban termuda merupakan balita berusia 5 tahun bernama Carli. Ia adalah warga Kampung Sinar Harapan, Desa Harkat Jaya, Kecamatan Sukajaya, Bogor yang meninggal karena terseret arus banjir
Sedangkan korban paling tua yakni Siti Hawa (72), warga Kelurahan Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Ia meninggal karena hipotermia.
Dilansir Antara (2/1), Kementerian Sosial akan memberi santunan kepada keluarga korban banjir. Jumlahnya sebesar Rp 15 juta bagi masing-masing ahli waris.
Santunan itu sudah diberikan Mensos Juliari Batubara kala ia meninjau korban Banjir di Universitas Borobudur, Cipinang Melayu. Ia bahkan sempat mengobrol dengan suami Siti Hawa yang jadi korban tertua di bencana banjir dan tanah longsor ini.
"Kami ke sini untuk memastikan bantuan sudah memadai. Dan kami harapkan bantuan yang telah diberikan bisa mencukupi kebutuhan di sini," kata Juliari di pelataran masjid Universitas Borobudur, Jakarta Timur, Kamis (2/1).
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat korban banjir dan longsor di Jabodetabek berjumlah 16 orang hingga Kamis (2/1) pagi. Namun jumlah itu bisa saja bertambah.
"Saat ini BNPB masih terus melakukan pendataan dari berbagai sumber dan kemungkinan jumlah korban bisa bertambah," Kapusdatinkom BNPB, Agus Wibowo, dalam siaran persnya.
