Kepala BGN dan Cerita MBG dari Papua
·waktu baca 3 menit

Setiap pagi, seorang nenek di pelosok Papua tak lagi harus bersusah payah membangunkan cucunya untuk pergi ke sekolah. Justru sang cucu yang lebih dulu bangun, tergopoh-gopoh membangunkan neneknya agar cepat bersiap. Hal itu karena: Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bagi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Prof. Dadan Hindayana, kisah sederhana itu menjadi salah satu cerita paling membekas selama menjalankan program MBG. Program ini merupakan inisiatif pemerintah untuk memastikan setiap anak Indonesia mendapat asupan gizi yang layak di sekolah.
“Ada seorang cucu yang paling susah dibangunkan untuk pergi sekolah pagi hari. Nah, setelah ada MBG ini sekarang cucunya paling rajin membangunkan neneknya, bangun untuk pergi ke sekolah. Ya, itu cerita yang menarik,” tutur Dadan sambil tersenyum mengenang kisah itu kepada kumparan, saat ditemui di Bekasi, Jumat (17/10) malam.
Program MBG yang mulai bergulir sekitar 10 bulan lalu, ternyata bukan sekadar soal makan siang gratis. Lebih dari itu, program ini menyalakan kembali semangat anak-anak Indonesia untuk datang ke sekolah.
"Sekolah-sekolah yang tadinya diisi hanya 70-80 persen, sekarang kehadirannya semakin banyak ya. Bahkan ada sekolah-sekolah yang menjadi favorit adalah sekolah-sekolah yang sudah menerima MBG, menjadi pilihan," ujarnya.
Ketika Anak-Anak Baru Pertama Kali Minum Susu
Bagi sebagian masyarakat kota, segelas susu atau sebutir telur mungkin bukan hal istimewa. Tapi bagi sebagian anak-anak Indonesia lainnya, dua hal itu bisa jadi kemewahan.
Dadan mengungkapkan, berdasarkan hasil temuan BGN, sekitar 60 persen anak Indonesia tidak punya akses terhadap menu dengan gizi seimbang, dan angka yang sama tidak pernah minum susu karena keterbatasan ekonomi.
“Jadi banyak anak itu yang baru merasakan minum susu ketika ada program. Ya, dan banyak anak yang bisa makan daging itu ternyata sekarang, ayam rutin itu sekarang, kemudian telur secara rutin juga sekarang," kata dia.
Cerita-cerita seperti itu, menurutnya, menjadi pengingat betapa masih lebarnya jurang ketimpangan gizi di negeri ini.
"Itulah sesuatu yang sangat menurut saya bikin terenyuh ya. Karena mungkin sebagian besar orang di perkotaan yang sudah menengah ke atas tidak merasakan itu, tetapi banyak anak-anak kita yang populasinya lebih dari 60 persen ternyata akses terhadap menu gizi seimbang itu adalah sesuatu yang umum terjadi di Indonesia," sambungnya.
Dampak Nyata di Lapangan
Meski baru berjalan 10 bulan secara nasional, BGN sudah memiliki gambaran awal tentang dampak positif MBG. Di daerah percontohan seperti Warungkiara, Sukabumi, program ini telah berlangsung sekitar 1,5 tahun dan menunjukkan hasil yang signifikan.
"Peningkatan kadar protein dalam tubuh, ya, ada bobot tubuh yang naik dan berkurangnya orang yang kurang berat badannya. Kemudian, meningkatnya apa, kualitas gizi anak," kata dia.
"Tapi secara umum, mungkin program ini baru akan kita evaluasi tahun depan dan itu yang mengevaluasi bukan Badan Gizi ya, mungkin Kementerian Kesehatan atau lembaga lain. Yang jelas sih kalau dari Badan Gizi melihat bahwa aspek kehadiran adalah indikator yang paling nyata terlihat," sambungnya.
Selain perbaikan gizi dan kehadiran, BGN juga berharap dampak jangka panjang program ini bisa terlihat dalam peningkatan prestasi akademik anak-anak Indonesia.
"Kita punya data dasar yang baik ya di seluruh Indonesia bahwa IQ rata-rata kita kan rendah, ya, dan juga nilai prestasi kita juga skor PISA juga tidak terlalu tinggi. Nah, nanti kita akan lihat setelah setahun, dua tahun intervensi (MBG) apa yang akan terjadi. Karena saya sangat yakin bahwa faktor-faktor itu nanti akan naik," pungkasnya.
