Kepala BGN Sebut Ada Yayasan yang Minta Setoran ke SPPG per Ompreng

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkap adanya yayasan yang meminta setoran kepada mitra pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berdasarkan jumlah ompreng yang disalurkan.
Padahal, menurut Sudaryono, yayasan tersebut tidak memberikan kontribusi terhadap operasional maupun pembinaan dapur SPPG.
“Adanya mitra yang kemudian sudah membangun dapur itu diminta untuk menyetorkan sejumlah uang per ompreng kepada yayasan, di mana yayasan ini tidak melakukan apa pun, tidak memiliki kontribusi apa pun tidak juga aktif di dapur, tidak melakukan pembinaan, tidak mempunyai kontribusi apa pun terhadap jalannya dapur SPPG yang dinaungi oleh yayasan tersebut ,” kata Sudaryono dalam keterangannya yang dikutip, Sabtu (3/10).
Temuan itu didapat BGN saat melakukan proses registrasi untuk pembaruan perjanjian kerja sama dengan yayasan maupun mitra pengelola SPPG di seluruh Indonesia.
Sudaryono menilai praktik tersebut dapat menambah beban mitra dan berpotensi memengaruhi kualitas makanan yang diberikan kepada penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Karena itu, BGN memberikan kesempatan kepada mitra yang merasa dirugikan untuk mengganti yayasan yang menaungi SPPG mereka.
“Atas dasar efisiensi, keadilan, dan pemanfaatan anggaran MBG secara maksimal, kami memberikan ruang kepada mitra yang merasa dirugikan untuk mengganti yayasan yang menaunginya, terutama apabila yayasan tersebut tidak memberikan kontribusi terhadap jalannya dapur,” tegasnya.
BGN telah menyediakan dua portal registrasi, masing-masing untuk yayasan dan mitra.
Melalui mekanisme tersebut, mitra dapat mengajukan yayasan baru sekaligus menyampaikan bukti terkait persoalan maupun kerugian yang dialami dalam kerja sama sebelumnya.
Pengajuan itu selanjutnya akan diproses BGN sesuai mekanisme registrasi yang berlaku.
Sudaryono menegaskan anggaran MBG harus digunakan semaksimal mungkin untuk menghasilkan makanan berkualitas dan memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat.
“Intinya kami ingin pelaksanaan MBG ini betul-betul uang yang tersalurkan itu dikonversi menjadi menu makanan yang kualitasnya baik dan diterima dengan baik, kandungan gizinya baik, pertanggungjawabannya baik, akuntabilitasnya baik dan transparan ,” tutup Sudaryono.
