Kepala BNPT: Teroris Ingin Menarik Simpati Umat Islam, tapi Rugikan Islam

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala BNPT Komjen Boy Rafly Amar. Foto: Fadlan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala BNPT Komjen Boy Rafly Amar. Foto: Fadlan/kumparan

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar mengingatkan semua pihak bahwa terorisme adalah tindakan antiagama. Hal ini diungkapkan Boy menanggapi sorotan bahwa terorisme kerap dikaitkan dengan Islam.

"Jangan sampai umat kita terkecoh penggunaan narasi agama, padahal sebenernya mereka melakukan tindakan antiagama. Halalkan bom bunuh diri dan sebagainya. Itu gambaran di Indonesia, ini juga dilakukan global. ISIS," kata Boy dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR di Senayan, Jakarta, Senin (13/2).

Boy menerangkan, karakter terorisme berdasarkan identifikasi BNPT di Indonesia dalam 20 tahun terakhir selalu bersifat antikonstitusi, anti-NKRI, dan anti-Pancasila. Kerap membentuk ideologi bahwa Indonesia kafir dan tak sesuai agama Islam atau lainnya.

"Terorisme ini tidak identik dengan Islam. Islam tentu marah jika narasi jaringan (teroris) menggunakan Islam. Mereka ingin bangun negara berdasarkan agama dan konsep pemerintah khilafah dan sebagainya. Ini jargon dari beberapa penelitian BNPT. Mereka katakan negara ini kafir karena gunakan hukum."

- Boy Rafly.

"Kedua, transaksional ideologi. Mereka halalkan kekerasan. Padahal di negara kita ideologi Pancasila tidak mengajarkan, halalkan, kekerasan. Dan karakter mereka intoleran," imbuh dia.

Petugas INAFIS Polda Jabar tiba di kawasan Astana Anyar, Bandung, Jawa Barat, usai ledakan bom bunuh diri, Rabu (7/12/2022). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Meski begitu, Boy mengakui bahwa mayoritas teroris menyasar simpati umat Islam, yang merupakan penganut agama terbesar di Indonesia.

"Sering sekali teroris menyalahgunakan agama, makanya organisasinya nyerempet agama, bahasa Arab, dan lain-lain. Mereka ingin narik simpati umat Islam yang jumlahnya besar. Ini merugikan agama Islam. Sering kita sampaikan ke masyarakat bahwa jaringan teroris di negara kita membajak agama, tapi tujuannya jauh dari agama," ujar Boy.

"Mereka juga menggunakan kekerasan ekstrem. Ini karakternya, sehingga kita lihat mereka seolah berjuang atas nama agama. Justifikasi apa yang dilakukan negara keliru, yang tidak sepaham mereka harus diperangi. Ini tantangan," tegas Boy.