Kepala Sekolah SMKN 2 Tak Akan DO Muridnya yang Serang SMAN 10 Bandung

Kepala Sekolah SMKN 2 Bandung dan SMAN 10 Bandung mendatangi Polrestabes Bandung, Jawa Barat, Jumat (1/11). Kedatangan mereka untuk membahas aksi penyerangan yang terjadi di SMAN 10 Bandung pada Minggu (27/10).
Kepala Sekolah SMKN 2 Bandung, Tatang Gunawan mengaku bahagia sebab kedua sekolah sepakat untuk menyelesaikan kasus tersebut secara kekeluargaan. Ia berharap agar peristiwa serupa tidak terulang kembali di kemudian hari.
"Alhamdulillah, kita tentunya berbahagia karena kita sudah bersepakat untuk diselesaikan secara kekeluargaan, ke depannya kita akan lakukan langkah intensif, terutama untuk pembinaan siswa kami maupun alumni kami," kata Tatang di Polrestabes Bandung.
Tatang memastikan peristiwa penyerangan itu akan dijadikan pelajaran. Ia menduga ada paham yang menyusupi murid-murid mereka sehingga nekat melakukan tindakan anarkis.
Namun, dia tidak menjelaskan paham apa yang dimaksud. Dia mengaku akan melakukan pendekatan melalui kerohanian maupun karakter pada murid-murid yang terlibat.
"Ini jadi pembelajaran bagi kita, mungkin ada paham-paham yang menyusup ke anak-anak kami, di luar kemampuan kami," ucap dia.
Tatang mengatakan, akhir dari peristiwa itu masih belum jelas karena proses hukum yang dilakukan polisi masih terus berlangsung. Ada lima orang berstatus murid dan alumni SMKN 2 Bandung yang masih menjalani pemeriksaan secara intensif.
"Tentunya endingnya belum jelas, proses hukum masih berjalan. Tapi tetap kami juga harapkan ada hal-hal yang penting jadi pembelajaran," ungkap dia.
Tatang memastikan, murid yang masih menjalani pemeriksaan masih berstatus sebagai murid SMKN 2 Bandung. Dia belum menentukan sanksi yang akan diberikan kepada murid-murid tersebut. Disinggung mengenai opsi hukuman drop out (DO), dia menegaskan bukan putusan yang tepat karena akan berdampak pada psikologis mereka.
"Jadi kami tidak sejauh itu memberikan sanksi, karena kita harus perhatikan psikis mereka, karena apabila kita DO menyelesaikan solusi? Tidak," tegas dia.
"Kami anggap mereka anak kami, kami tidak ada perbedaan SMK-SMA, kita harus selamatkan masa depannya, kalau kami main DO, bagaimana mereka ke depannya? Saya kira itu bukan solusi yang tepat," lanjut dia.
Tatang mengatakan, dua sekolah ini ke depan akan melakukan saling kunjungan untuk merekatkan hubungan yang diprakarsai oleh pengurus OSIS dari masing-masing sekolah.
"Kami berencana mungkin dari pengurus OSIS kita bisa merekatkan, kita akan saling berkunjung, supaya silaturahmi harus kita jaga," kata dia.
Sementara itu, Kepala Seksi Pelayanan Dinas Pendidikan Jabar, Toni Metriawan mengatakan, pihaknya akan menempuh upaya pembinaan dan pengawasan secara lebih intens pada dua sekolah itu.
"Kita akan melakukan pembinaan-pembinaan yang lebih intens dan melakukan pengawasan yang lebih ketat lagi terhadap sekolah ini," kata Toni.
