Ketua RW Mengaku Tak Tahu Ada Kegiatan Renang yang Tewaskan 2 Siswa SD di Bekasi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penampakan gedung kolam renang milik SDIT Ibnul Jazari di Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat pada Rabu (13/8).  Foto: Abid Raihan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Penampakan gedung kolam renang milik SDIT Ibnul Jazari di Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat pada Rabu (13/8). Foto: Abid Raihan/kumparan

Dua orang siswi kelas 1 SDIT Ibnul Jazari di Babelan, Kabupaten Bekasi, tewas diduga tenggelam saat mengikuti ekstrakurikuler renang di kolam renang milik sekolahannya pada Senin (11/8).

Ketua RW 24, Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, Anwarudin, mengaku tak tahu bahwa selama ini ada kegiatan eksul berenang untuk murid SD di lingkungannya. Selain itu, ia juga mengaku tak tahu banyak soal SDIT Ibnul Jazari.

“Selama ini sih belum pernah (tahu ada kegiatan berenang),” ucapnya saat ditemui, Rabu (13/8).

“Selama ini, saya selama jadi ke RW 3 periode ini, saya belum pernah. Makanya saya nggak tahu struktur pengurusannya, yayasan ini, ada sekolah termasuk ada kolam renang ini gitu kan. Termasuk di dalam, saya baru pernah juga tadi masuk gitu kan,” tambahnya.

Ia menyebut hanya mendengar bahwa di dalam salah satu bangunan di lingkungannya terdapat sebuah kolam renang. Ia pun terkejut saat tahu ada dua siswi meninggal dunia.

Ketua RW 24, Kelurahan Bahagia, Babelan, Kabupaten Bekasi, Anwarudin. Foto: Abid Raihan/kumparan

“Ya saya cuma denger katanya ada kolam renang, cuman kan kalau ke sini selalu tertutup. Dan pernah saya kerja bakti di luar sini, ibu-ibu saya nggak boleh masuk kan. Jadi, padahal minggu kemarin nih pas ngeratain area Fasum ini,” ucap Anwarudin.

“Jadi, saya kaget juga, saya ikut berduka sama keluarga korban. Mudah-mudahan korban ini khusnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran. Atas nama lingkungan, karena TKP-nya meninggalnya di sini, saya ikut berduka yang mendalam,” tambah dia.

Hari ini, Anwarudin bersama Polsek Babelan mengecek langsung lokasi kolam renang tersebut. Ia pun baru tahu bahwa kolam renang itu sempit dan pengap.

“Kalau saya, karena ini kan kolam renang tertutup ya, satu. Dari segi ventilasi, kurang. Terus kalau tadi saya lihat kita bareng-bareng, kan harus ada standarnya,” ucap Anwarudin.

“Bahwa kalau kolam renang, apalagi untuk anak-anak kan harus ada ukurannya ya. Mana ketinggian yang harus masih dalam pemula, kan gitu kan mungkin ya. Itu mungkin dari istilahnya 50 cm, 80 cm, 100 cm, sehingga mana yang perlu untuk anak-anak belajar,” tambahnya.

Suasana kolam renang tempat dua bocah SD tenggelam di Babelan, Kabupaten Bekasi. Foto: Abid Raihan/kumparan

Menurut Anwarudin, kolam renang itu seharusnya lebih disesuaikan lagi dengan standar yang berlaku.

“Karena sifatnya ini kan anak-anak pemula, anak kelas 1 kan ya. Kami menganalisa dari segi fisik kolam renang itu tadi, harus ada standarnya lah. Kalau ada tulisannya di situ bahwa ini 60 cm, ini 80 cm,” ucap dia.

“Apalagi anak-anak yang masih pemula lah, kelas 1 ya. Kami sangat disayangkan, karena kita juga punya anak kecil ya kan. Punya saudara, paling enggak kan ada kegiatan di sekolah seperti apalah SOP-nya. Itu ranahnya dari pihak dinas pendidikan, gitu kan, dalam kegiatan ekstrakurikuler,” tambahnya.

Ia pun mengimbau kepada sekolah agar senantiasa meminta izin kepada yang berwenang untuk kegiatan-kegiatan yang ingin dilakukan.

“Baik itu dari dinas pendidikan, dari kecamatan seperti apa kan. Karena kami hanya mengakomodir warga yang melaporkan. Warga tinggal aja harus melaporkan gitu kan,” ucap Anwarudin.

“Nah, jadi ya kami berharap lah siapa pun, apa pun yayasan apa pun, sekalilah kita saling bersinergi. Untuk interaksi di lingkungan supaya nanti ada kejadian apa pun bisa diminimalisir. Harapannya demikian,” tandasnya.

Kepala Sekolah SDIT Ibnul Jazari Babelan, Kabupaten Bekasi, Unaiz. Foto: Abid Raihan/kumparan

Di sisi lain, Kepala Sekolah SDIT Ibnul Jazari, Unaiz menjelaskan bahwa pada saat kejadian, ada 25 orang siswa yang ikut ekskul renang. Mereka diawasi oleh 2 orang yang terdiri dari pelatih dan koordinator.

“intinya itu gurunya, pelatihnya itu mendapati anak muridnya tenggelam dari anak lain gitu. ‘Bu ada yang tenggelam’ gitu. Kemudian gurunya langsung melihat, langsung diangkat gitu,” jelas Unaiz di kesempatan yang sama.

“Saat itu emang gurunya lagi menaikan murid-murid karena mau pemanasan gitu. Jadi mungkin pengalihannya ter apa sih namanya, teralihkan penglihatannya, penglihatannya. Jadi saat itu dalam waktu yang ya tidak tahu ya saat itu terjadinya karena saya juga nggak di lokasi,” tambahnya.

Kedua siswa itu pun langsung dibawa ke Rumah Sakit Viola yang berada sekitar 300 meter dari lokasi kejadian. Sayangnya, nyawa kedua anak itu tak bisa diselamatkan.

Atas kejadian ini, keluarga korban pun melapor ke polisi. Kini, kasus tersebut tengah diselidiki oleh Polsek Babelan bersama Polres Metro Kabupaten Bekasi.