Ketum PP Muhammadiyah Soal Palestina: PBB dan Dunia Internasional Jangan Diam

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir. Foto: muhammadiyah.or.id
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir. Foto: muhammadiyah.or.id

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir angkat bicara soal serangan brutal yang terus dilakukan Israel di Jalur Gaza, terutama yang terjadi di Masjid Al-Aqsa dan kawasan Sheikh Jarrah.

Sampai hari ini, Sabtu (15/5) dilaporkan sudah ada 53 orang termasuk 14 anak-anak, serta lebih dari 300 lainnya terluka dari warga Palestina.

“Kondisi tidak menentu ini sudah berlangsung lebih sebulan dan berpeluang menambah bara konflik Israel dan Palestina yang berkepanjangan,” jelas Haedar dalam keterangan tertulis yang diterima kumparan, Sabtu (15/5).

Haedar menjelaskan, sumber utamanya ialah keserakahan dan kebrutalan Israel.

“Israel dengan ambisi politik ekspansionisnya yang berkepanjangan terus ingin memperluas kawasan kekuasaannya, yang menjadi sumber berbagai masalah di wilayah dan negara Palestina,” terangnya.

Sampai sekarang Israel tidak pernah memperoleh kendali dan hukuman dari dunia internasional khususnya Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), yang justru sebaliknya terkesan dibiarkan dan terlindungi.

Asap membubung setelah serangan rudal Israel di Kota Gaza, Kamis (13/5). Foto: Hatem Moussa/AP Photo

“Karena itu dunia internasional khususnya PBB dan semua negara di dunia internasional yang cinta kemerdekaan abadi hendaknya bertindak tegas terhadap segala bentuk kesewenang-wenangan Israel, serta tidak boleh melindunginya. Hentikan segala bentuk kekerasan, kekejaaman, tindakan pengusiran, dan genosida Israel terhadap bangsa Palestina,” tegas Haedar.

Ia juga berharap, Indonesia terus mengambil langkah tegas dalam mendorong dunia internasional khususnya negara Arab dan PBB untuk bertindak memberi sanksi kepada Israel.

“Muhammadiyah juga mengutuk keras serangan Israel yang penuh kekejaman dan nafsu ekspansi neo-kolonialisme,” tegas Haedar.

Ia menilai, di era dunia modern abad ini semestinya tidak ada lagi praktik penjajahan dan penindasan. Seluruh rakyat dunia seharusnya menjunjung tinggi kebebasan, kemerdekaan dan hak dasar manusia untuk hidup.

“Seluruh dunia yang pro-demokrasi, hak asasi manusia, serta anti kekerasan dan peperangan, mesti bangkit bersama menghentikan segala bentuk ekspansi dan serangan bersenjata oleh satu negara atau pihak terhadap negara dan pihak lain yang berhak untuk kemerdekaan, kebebasan, dan perdamaian di muka bumi,” tutup Haedar.

==

embed from external kumparan