Khatib Salat Idul Adha di Istiqlal Soroti Krisis Kemanusiaan Hingga Lingkungan
·waktu baca 2 menit

Jemaah memadati Masjid Istiqlal untuk melaksanakan Salat Idul Adha 1447 Hijriah pada Rabu (27/5) pagi. Sejumlah pejabat tinggi negara turut hadir, di antaranya Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Selain itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, hingga Menteri Kebudayaan Fadli Zon juga terlihat salat di Istiqlal.
Selain jajaran Kabinet Merah Putih, hadir pula Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia Abdulla Salem Al Dhaheri serta sejumlah duta besar dan perwakilan negara sahabat lainnya.
Dalam khutbahnya, Rektor Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Hamdan Juhannis selaku khatib, mengajak umat Islam memaknai Idul Adha tidak sekadar sebagai ritual tahunan, melainkan momentum refleksi untuk memperkuat kepedulian terhadap sesama manusia dan lingkungan.
Khatib membuka khutbah dengan kisah ilustratif tentang seorang profesor yang merasa unggul karena penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi justru tidak memiliki keterampilan dasar berenang saat menghadapi situasi darurat di laut.
Kisah itu disebut sebagai gambaran krisis nilai kemanusiaan, kesombongan, dan absennya penghargaan terhadap jati diri.
“Spirit kurban sejatinya harus melampaui batas-batas simbolik. Dunia menghadapi krisis kemanusiaan dan krisis lingkungan,” kata Hamdan Juhannis dalam khutbahnya, Rabu (27/5).
Khatib juga menyoroti berbagai persoalan global seperti perang, kemiskinan, ketidakadilan, hingga kerusakan lingkungan akibat eksploitasi manusia. Ia mengingatkan bahwa alam bukan sekadar objek, melainkan amanah yang harus dijaga bersama.
“Ibadah kurban mengajarkan kita untuk rela berkorban demi kebaikan yang lebih besar. Jika Nabi Ibrahim rela mengorbankan yang paling dicintainya, maka kita pun saatnya bertanya pada diri kita, apa yang siap kita korbankan untuk menyelamatkan alam dan kemanusiaan,” ujar Hamdan Juhannis.
Selain itu, khatib juga mengingatkan pentingnya tabayyun atau klarifikasi, serta sikap “saring sebelum sharing” di tengah derasnya arus informasi digital.
Menutup khutbah, Hamdan mengajak seluruh jemaah menjadikan Iduladha sebagai jalan menuju pribadi yang lebih tulus, rendah hati, dan bertanggung jawab terhadap bumi yang diwariskan kepada generasi mendatang.
“Idul Adha bukan sekadar tempat berhenti, tetapi jalan menuju diri yang sudah selesai, bahwa hidup ini bukan untuk dijarah tetapi untuk dijaga, bukan untuk dirusak tetapi untuk dirawat,” tuturnya.
