Kisah Guru SD Terpencil di Sulteng Bikin 'MBG' Mandiri untuk Puluhan Muridnya

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Riska Andriani, seorang guru sekolah dasar (SD) di daerah pelosok di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, viral di media sosial karena berinisiatif menghadirkan program 'Makanan Bergizi Gratis (MBG) Mandiri' untuk anak didiknya. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Riska Andriani, seorang guru sekolah dasar (SD) di daerah pelosok di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, viral di media sosial karena berinisiatif menghadirkan program 'Makanan Bergizi Gratis (MBG) Mandiri' untuk anak didiknya. Foto: Dok. Istimewa

Riska Andriani, seorang guru sekolah dasar (SD) di daerah pelosok di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, viral di media sosial karena berinisiatif menghadirkan program 'Makanan Bergizi Gratis (MBG) Mandiri' untuk anak didiknya.

Guru muda peserta PPG Prajabatan (Pendidikan Profesi Guru) itu kini mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik di SD Kecil Terpencil Ogolau, Desa Tibu, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong. Sekolah tersebut berada di kawasan puncak gunung.

Di tengah hiruk-pikuk perkotaan yang meributkan birokrasi dan anggaran program Makanan Bergizi Gratis (MBG), ia memilih tak berdiam diri. Ketulusan hatinya berhasil mengetuk pintu hati pengguna media sosial hingga melahirkan sebuah gerakan kemanusiaan bernama "MBG Mandiri" demi 40-an anak didiknya.

MBG Mandiri Terlahir dari Donasi

Riska menceritakan, MBG Mandiri berawal saat ia membuat video momen guru membagikan susu dan camilan ringan sebagai hadiah pemantik semangat belajar bagi murid-muridnya.

Rekaman video itu kemudian diunggah ke media sosial miliknya. Di kolom komentar, salah seorang pengikutnya bertanya apakah di sekolahnya telah mendapatkan MBG. Riska pun menjawab 'tidak'.

"Awalnya begini, saya buat video saat bagi-bagi susu sama snack hanya untuk reward murid saja. Terus dalam video saya itu, ada komentar dan bertanya, apakah MBG ada di sekolah dan saya jawab tidak ada," kata Riska.

Riska Andriani, seorang guru sekolah dasar (SD) di daerah pelosok di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, viral di media sosial karena berinisiatif menghadirkan program 'Makanan Bergizi Gratis (MBG) Mandiri' untuk anak didiknya. Foto: Dok. Istimewa

Jawaban jujur Riska mengetuk hati penonton videonya. Dia mengatakan kepada Riska, ingin berdonasi untuk memberikan makanan siang kepada murid sekolah itu. Dengan tangan terbuka, guru alumni UNM Makassar itu menerima tawaran netizen asing di dunia nyata tersebut.

"Yang mau donasi, minta rekening lalu dikirim lah uang," beber Riska

Sejak awal Mei 2026, pengikut Riska di media sosial pun berbondong-bondong meminta nomor rekeningnya untuk menyisihkan rezeki mereka.

Riska Andriani, seorang guru sekolah dasar (SD) di daerah pelosok di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, viral di media sosial karena berinisiatif menghadirkan program 'Makanan Bergizi Gratis (MBG) Mandiri' untuk anak didiknya. Foto: Dok. Istimewa

Dapur 'Darurat' di Puncak Gunung

Uang yang terkumpul dari para donatur dikelola langsung oleh Riska dan guru lainnya. Dana itu kemudian dibelanjakan untuk membeli bahan-bahan makanan.

Bahan-bahan itu kemudian dikelola di 'Dapur Darurat' yang berada di sekolahnya. Makanan kemudian disajikan dan dibagi-bagikan kepada sekitar 40-an murid di sekolah tersebut.

"Uang itu kami belanjakan bahan-bahan. Lalu bahan-bahan itu kami masak di sekolah lalu berikan kepada anak-anak," beber dia.

Riska Andriani, seorang guru sekolah dasar (SD) di daerah pelosok di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, viral di media sosial karena berinisiatif menghadirkan program 'Makanan Bergizi Gratis (MBG) Mandiri' untuk anak didiknya. Foto: Dok. Istimewa
Riska Andriani, seorang guru sekolah dasar (SD) di daerah pelosok di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, viral di media sosial karena berinisiatif menghadirkan program 'Makanan Bergizi Gratis (MBG) Mandiri' untuk anak didiknya. Foto: Dok. Istimewa

Riska mengaku, MBG itu memang tidak setiap hari diberikan kepada anak didiknya. Makanan baru kembali diberikan ketika dana cukup untuk membuat makanan.

"Jadi, kalau kami rasa dananya cukup, kami masak lagi di sekolah. Jadi makanannya bukan setiap hari. Hanya ketika kalau dananya sudah cukup, barulah kita masak lagi untuk anak-anak," sambungnya.

Bertarung dengan Lumpur dan Ketinggian

Riska diangkat menjadi guru di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, melalui jalur PPPK pada November 2025 lalu. Kemudian, ia diperintahkan mengajar di SD Kecil Terpencil Ogolau, Desa Tibu, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong.

Ia bercerita, saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah daerah pegunungan Desa Tibu itu, ia sempat kaget. Sebab, sekolah itu berada di kawasan puncak gunung dengan medan jalan tanah liat dan terjal.

Riska mengaku, untuk menuju ke SD Kecil Terpencil Ogolau, ia terpaksa harus membuka jalur. Sebab, ruas jalan yang harus dilalui ke sekolah sudah dipenuhi semak belukar. Jalan tersebut hanya bisa diakses pejalan kaki atau motor ojek khusus.

"Benar-benar waktu itu bisa dikatakan saya yang buka jalan. Jelek sekali jalannya, tak layak dilalui kendaraan. Jalanan tanah dan dipenuhi semak-belukar," katanya.

Riska Andriani, seorang guru sekolah dasar (SD) di daerah pelosok di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, viral di media sosial karena berinisiatif menghadirkan program 'Makanan Bergizi Gratis (MBG) Mandiri' untuk anak didiknya. Foto: Dok. Istimewa

Untuk pergi ke sekolah, Riska harus menempuh perjalanan yang menguji nyali. Jika cuaca bersahabat, ojek motor bisa mengantarnya dalam waktu 30 menit. Namun, saat hujan, Riska harus berjalan kaki karena jalanan berubah menjadi lumpur yang mematikan. Tidak bisa dilalui motor.

"Kalau hujan tidak bisa naik kendaraan. Jadi saya jalan kaki. Karena jalannya itu berlumpur," ucapnya.

Riska Andriani, seorang guru sekolah dasar (SD) di daerah pelosok di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, viral di media sosial karena berinisiatif menghadirkan program 'Makanan Bergizi Gratis (MBG) Mandiri' untuk anak didiknya. Foto: Dok. Istimewa

Meski harus menantang maut, nyali Riska tidak sekalipun ciut. Ia terus mempertaruhkan nyawa untuk berangkat mengajar ke sekolah. Alasannya sederhana, hanya ingin melihat anak didiknya yang terbilang penuh keterbatasan tetap mendapat pendidikan yang layak.

Sebab, rata-rata anak-anak kecil itu orang tuanya kurang mampu. Murid-murid di sana tinggal secara nomaden di kebun milik warga. Mereka berpindah-pindah.

"Anak-anak itu, ada tinggal jaraknya ke sekolah hingga 3 kilometer. Dan ada juga yang dekat sekali. Tergantung jarak kebun orangtuanya," sebutnya.

Perjuangan Riska yang membuka jalan setapak kini mulai membuahkan hasil. Aksinya itu tidak hanya mengenyangkan perut anak-anak polos di sana, tetapi juga menampar kesadaran banyak pihak.

Pemerintah kini mulai menaruh perhatian. Jalanan tanah liat yang dulu tertutup belukar kini mulai diratakan, dan bangunan sekolah baru yang layak sudah ada di depan mata. Pemerintah mulai melakukan revitalisasi sekolah.

"Bangunan lama sudah akan direvitalisasi karena mendapatkan bantuan. Sekarang sementara dibongkar," katanya.

Riska Andriani, seorang guru sekolah dasar (SD) di daerah pelosok di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, viral di media sosial karena berinisiatif menghadirkan program 'Makanan Bergizi Gratis (MBG) Mandiri' untuk anak didiknya. Foto: Dok. Istimewa

Perjuangan Riska telah membuktikan bahwa keterbatasan akses tidak mampu memenjarakan dedikasi. Di atas gunung tanpa listrik dan sinyal, ia bersama netizen Indonesia telah menyalakan lentera kemanusiaan yang paling terang.

Riska memastikan, tidak ada anak bangsa yang kelaparan saat mereka sedang menjemput masa depan.

"Di lokasi sekolah itu tidak ada listrik dan atau jaringan. Jadi harus turun gunung kalau mau berkomunikasi," tandasnya.