Kisah Inisiator Kopi Sarongge: Pernah Jadi Wartawan dan Ditangkap

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lahan pertanian di Kampung Sarongge, Desa Ciputri, Kecamatan Pacet, Cianjur. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradilla.
zoom-in-whitePerbesar
Lahan pertanian di Kampung Sarongge, Desa Ciputri, Kecamatan Pacet, Cianjur. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradilla.

Hutan yang punah tak pernah hilang sendirian. Ia menjadi awal punahnya makhluk-mahluk lain, termasuk manusia.

-Tosca Santoso

Sosok Tosca Santoso tersenyum semringah di pintu masuk tempat pengolahan kopi di Sarongge, Desa Ciputri, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sambil berdiri dibantu sebilah tongkat, ia menyambut tim kumparan yang datang bersama panitia Komite Pelaksana Market Focus Indonesia untuk London Book Fair 2019.

Tak lama, seorang pekerja di pengolahan kopi tersebut menyeduhkan kepada masing-masing tamu segelas Arabica fullwash asli Sarongge. Sembari minum, Tosca lalu bercerita soal kopi yang diolah basah atau fullwash, difermentasikan selama 12 jam pasca-panen.

Kopi itu katanya, ditanam pada ketinggian 1.000 - 1.600 mdpl, demi menghasilkan cita rasa asam yang lembut, segar buah, dan sedikit manis di ujungnya.

Tosca Santoso, wartawan pendiri AJI, inisiator Kopi Sarongge. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradilla.
zoom-in-whitePerbesar
Tosca Santoso, wartawan pendiri AJI, inisiator Kopi Sarongge. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradilla.

Sebelum mengelola kebun kopi, Tosca punya sejarah panjang sebagai wartawan. Dalam debut fiksinya berjudul ‘Sarongge’--Ayu Utami yang bersahabat dengannya selama dua dekade--menggambarkan sosok Tosca bukan sekadar wartawan, tapi juga aktivis.

Pria 54 tahun yang juga pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) itu pernah ditangkap polisi saat mendampingi petani Cimacan yang tanahnya hendak dijadikan lapangan golf Cibodas.

“Kejadian itu seingat saya waktu tahun 1986. Tapi waktu itu banyak aktivis pendamping petani ditangkapi. Bukan hal yang istimewa,” ujar Tosca.

Antara periode 1994-1998 ketika rezim Orde Baru kian represif, Tosca bukannya ciut. Bersama sejumlah jurnalis sejawatnya, ia berdemo di depan gedung Dewan Pers setelah pemerintah memberedel tiga media: Tempo, Editor, dan Detik.

“Represi Orde Baru makin keras. Kebebasan dipasung. Saya turut dalam gelombang perlawanan untuk kemerdekaan pers,” ujar Tosca mengenang masa-masa kelam Orba.

Dua bulan berikutnya, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Indonesia, tepatnya 7 Agustus 1994--yang langsung masuk daftar organisasi terlarang. Agar tak tercium aparat, pergerakannya dengan sesama aktivis AJI dilakukan bawah tanah.

Pada masa itu pula, nama ‘Tosca’ lahir. Sebagai nama samaran yang diberikan teman-teman wartawan selama bergerilya pada masa-masa akhir Pemerintahan Soeharto.

Begitu rezim Orba tumbang, Tosca mendirikan stasiun radio KBR 68H, kantor berita swasta independen pertama di Indonesia. Baginya, KBR 68H adalah buah kemerdekaan yang menyenangkan.

Kepekaan sosialnya tak pernah padam. Berbagai peristiwa yang dialaminya semasa menjadi wartawan semakin menautkan cintanya pada hutan dan lingkungan. Kecintaan tersebut bukan berawal saat dirinya menyaksikan langsung gejolak perlawanan petani Cimacan 33 tahun lalu, tapi jauh sebelum itu.

“Saya suka mendaki sejak mahasiswa dan makin fokus perhatian pada lingkungan sejak mengelola Green Radio pada 2007. Penanaman hutan kembali di area bukit-bukit Sarongge adalah salah satu program Green Radio, bekerja sama dengan petani, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, dan adopter (donatur pohon),” ujarnya.

Sebagai salah satu kelanjutan program tersebut adalah produksi kopi Sarongge mulai tahun 2015. Kopi yang ditanam berasal dari dua jenis, Robusta dan Arabica dari varietas campuran Lini S, Sigararutang, Andungsari, dan Typica.

Tosca membina sebanyak 65 petani kopi. Mereka merupakan petani di lereng Gunung Pangrango yang dua tahun sebelum reforestasi menggarap lahan menjadi kebun sayur-sayuran.

Prioritas untuk upaya penghijauan tak pula mengesampingkan nasib mata pencaharian petani yang sebelumnya hidup dari menggarap lahan tersebut. Selain produksi kopi, para petani juga beralih menyambung hidup dengan membentuk koperasi, peternakan kelinci dan domba, serta penyewaan camping ground sebagai ekowisata.

Tosca mewujudkan mimpinya tanpa mengubur mimpi orang lain. Ia sadar betul, keberlangsungan lingkungan berarti pula keberlangsungan umat manusia. Seperti yang ia tulis dalam Sarongge: Hutan yang punah tak pernah hilang sendirian. Ia menjadi awal punahnya makhluk-mahluk lain, termasuk manusia.

Berikut foto-foto perkebunan kopi Sarongge yang diinisiasi oleh Tosca Santoso.

Kebun kopi Sarongge, Desa Ciputri, Kecamatan Pacet, Cianjur. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradilla.
zoom-in-whitePerbesar
Kebun kopi Sarongge, Desa Ciputri, Kecamatan Pacet, Cianjur. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradilla.
Pohon kopi di lahan Sarongge. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradila.
zoom-in-whitePerbesar
Pohon kopi di lahan Sarongge. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradila.
Melihat lahan kopi yang diinisiasi Tosca Santoso. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradila.
zoom-in-whitePerbesar
Melihat lahan kopi yang diinisiasi Tosca Santoso. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradila.
Tosca menunjukkan hasil lahan kebun kopinya kepada kumparan dan Komite Pelaksana London book Fair 2019. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradila.
zoom-in-whitePerbesar
Tosca menunjukkan hasil lahan kebun kopinya kepada kumparan dan Komite Pelaksana London book Fair 2019. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradila.
Biji kopi di lahan pertanian Sarongge. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradilla.
zoom-in-whitePerbesar
Biji kopi di lahan pertanian Sarongge. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradilla.
kumparan disuguhi kopi hasil lahan kebun kopi Sarongge. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradila.
zoom-in-whitePerbesar
kumparan disuguhi kopi hasil lahan kebun kopi Sarongge. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradila.
Tosca dan tim kumparan melihat biji kopi yang sudah dipanen. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradila.
zoom-in-whitePerbesar
Tosca dan tim kumparan melihat biji kopi yang sudah dipanen. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradila.
Kopi hasil lahan pertanian Sarongge yang diinisiasi Tosca Santoso. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradila.
zoom-in-whitePerbesar
Kopi hasil lahan pertanian Sarongge yang diinisiasi Tosca Santoso. Foto: kumparan/Selli Nisrina Faradila.