Kisah Mantan Mafia Penanam Ganja yang Beralih Jadi Petani Palawija

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fauzan dan Fakri Mantan Petani Ganja  (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Fauzan dan Fakri Mantan Petani Ganja (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)

Hamparan padi itu terletak di kaki bukit pegunungan Seulawah Agam, wilayah Pemukiman Lamteuba, kecamatan Seulimum, Aceh Besar. Kawasan ini terkenal sebagai daerah penghasil ganja terbanyak di Provinsi Aceh. Warga yang menetap di delapan desa di sana hampir 80 persen berprofesi sebagai petani ganja.

Sore di awal Maret, sesosok pria tampak sedang duduk santai di atas gubuk kecil di tengah hamparan ladang padi. Di sebelahnya pria setengah baya berkumis tebal sedikit murung, tatapannya lurus ke arah hamparan tanaman padi. Sesekali melihat ke arah petani, melambaikan tangan dan melepaskan senyuman.

video youtube embed

Kedua sosok tersebut adalah Fauzan dan Fakhri. Mereka adalah tokoh masyarakat di pemukiman Lamteuba yang merupakan mantan mafia penanam ganja. Keduanya menghabiskan sore di tengah lahan yang dulunya hijau dengan tenaman ganja tetapi kini telah berubah menjadi tanaman padi.

Mereka berbeda usia dan angkatan. Fakhri lebih dulu menjadi penanam ganja pada tahun 2000 sementara Fauzan baru mulai mencoba pada tahun 2002 ketika ia masih menyandang status seorang siswa.

Mantan Mafia Penanam Ganja  (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Mantan Mafia Penanam Ganja (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)

Sejak masa konflik Aceh hingga setelah damai, kondisi ekonomi masyarakat Lamteuba mengalami kesulitan. Banyak masyarakat yang kesusahan mencari pekerjaan. Tanaman padi dan kedelai kala itu masih sangat murah, sehingga faktor inilah yang mendorong masyarakat untuk menjadi penanam ganja.

Fauzan mengisahkan, sejak tahun 2002 ketika masih sekolah, dirinya sudah mulai berkecimpung menanam ganja. Hanya saja saat itu menjadi pengangkut tanaman ganja milik orang lain yang sudah panen dengan upah sebesar 50 ribu rupiah.

“Ketika masih anak-anak kita kan suka sekali uang, ketika dikasih sama orang tua Rp 5.000 kan tidak cukup. Nah waktu itu coba-coba angkut punya orang dibayar seharga Rp 50 ribu, upah angkut,” ujarnya.

Lalu pada tahun 2003 Fauzan mencoba menanam ganja bersama lima orang teman-temannya. Mereka tidak memiliki modal untuk menanam, hanya mempunyai bibit dan lahan. Mendapatkan kabar tentang akan ada orang luar Aceh ingin membeli dengan harga mahal, Fauzan tergiur.

Akan tetapi mereka selalu gagal akibat ditipu oleh penampung. Mereka tidak pernah memetik hasil, hingga akhirnya 2005 silam Fauzan memilih berhenti karena lelah kerap bermain kucing-kucingan dengan polisi. Saban hari selalu harus berhati-hati berjalan melewati jalan tikus di tengah hutan.

“Kami sebenarnya petani ganja tidak kaya, yang kaya itu adalah mafia ganja yang menampung dari hasil kami tanam. Kami selalu menjadi korban dibodohi dan ditipu,” kata Fauzan.

Selama menjadi petani ganja Fauzan dan teman-temanya tidak pernah berjumpa dengan orang yang menyuruhnya. Mereka hanya bekerja sebatas menanam, setelah panen maka diambil alih oleh pemiliknya. Hal menyakitkan juga pernah dirasakan Fauzan ketika ditipu oleh seorang penampung mengaku dari Pulau Jawa. Ketika itu, hasil tanaman ganja yang sudah terkirim dilaporkan telah ditangkap oleh polisi.

“Setelah saya selidiki ternyata ganja itu sudah dijual olehnya sendiri dan saya tidak dapat apa-apa, padahal ketika mau mengirimkan barang itu saya hampir ketangkap polisi,” kisahnya.

Fauzan dan Fakri Mantan Petani Ganja  (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Fauzan dan Fakri Mantan Petani Ganja (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)

Setelah memilih berhenti jadi penanam ganja, Fauzan beralih jadi petani cabai. Waktu itu teman-temannya masih berprofesi menjadi petani ganja. Ia membuktikan seorang diri bahwa petani palawija juga bisa sukses dan hidup tenang.

“Pertama saya menanam cabai dari tidak ada modal hingga ada, waktu itu harga cabai lumayan mahal, saya hampir mendapatkan uang Rp 50 juta waktu menanamnya dan ketika itu teman-teman saya tidak mau saja ajak hijrah,” sebutnya.

Melihat hasil kinerja yang diperoleh Fauzan, Oisca Training Center kemudian menawarkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan di Jawa Barat. Di sana ia belajar banyak tentang ilmu pertanian. Selepas pulang dari pelatihan itu, Fauzan kemudian mengajak 15 orang teman-teman para petani ganja untuk berhenti dan mencoba jadi petani palawija.

Bahkan ia juga membentuk satu kelompok tani yang dinami Oisca, sesuai tempat ia menimba ilmu. Hingga akhirnya mereka sukses menjadi pertani asli bukan illegal. Beranggotakan 15 orang mereka mampu meninggalkan kebiasaan lama sebagai petani ganja. Sekarang anggota kelompok itu sudah mencapai 200 orang, yang seluruhnya pernah menjadi petani ganja.

“Setelah pulang saya ajak teman-teman petani ganja untuk hijrah jadi petani biasa, akhirnya terbukti kami sukses mencari rezeki dengan cara halal,” katanya.

Fauzan kemudian terus mengajak warga yang masih menanam ganja untuk ikut menaman palawija. Hingga kini hampir semua warga yang dulunya petani ganja sudah beralih menjadi petani biasa.

Jangan lagi pandang kami sebagai penghasil ganja, itu masa lalu. Mari kita lihat Lamteuba yang baru.

Sejak tahun 2010, ganja sudah tidak lagi ditanam di kawasan bertanah gembur itu. Masyarakat Lamteuba pun sudah mulai membuka diri dengan daerah lain di sekitarnya, termasuk Banda Aceh.

“Dan sekarang seperti inilah Lamteuba dari dasarnya daerah penghasil padi tetapi sekarang sudah berubah menjadi daerah produksi tanaman palawija. Saya berharap orang luar jangan lagi memandang kami sebagai daerah penghasil ganja, karena itu adalah masa lalu. Mari sekarang kita melihat Lamteuba yang baru,” imbuhnya.