Kisah Pakat, Nahkoda Perahu Kayu Penjelajah Sungai di Belantara Aceh

Semilir angin menyentuh tubuh kekar pria itu. Di atas punggung perahu kayu, ia berdiri sambil menarik sebatang rokok melepas dinginnya udara. Suara jangkrik, air mengalir, sahutan burung bersatu memecah keheningan malam.
Dari arah Barat laut, Gunung Bur Bujang Selamat menjulang tinggi. Di atas perahu kayu itu, Pakat (35) warga Desa Melidi, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur, membelah sungai Hulu Tamiang di malam hari. Sesekali, arus menghantam perahunya hingga berayun-ayun.
Langit semakin gelap dan hanya menyisakan awan mendung. Jarak pandang tinggal berkisar 100 meter. Pakat begitu lihai mengemudikan perahunya menghindari setiap kayu hanyut yang terbawa arus. Pakat seakan mempunyai mata ketiga, hingga begitu peka dengan kondisi medan, mengetahui setiap sisi sungai yang harus dilewati.

Tatapan Pakat fokus ke ujung perahu. Badannya tegap, sesekali membungkuk, dan memicingkan mata. Menghidupkan cahaya senter, Pakat seolah mengintip jalur sungai yang akan di lalui agar terhindar dari kayu dan air dangkal.
Begitulah aktifitas sehari-hari Pakat sebagai seorang nahkoda perahu. Melayani penumpang yang menggunakan jasanya baik pagi hari, siang maupun malam. Ia menanggung beban dan tanggung jawab besar melindungi warga agar terhindar dari bahaya, agar selamat sampai tujuan.
kumparan (kumparan.com) mencoba menumpangi perahu Pakat dari desa Tampur Paloh menuju Melidi dengan jarak tempuh sekitar 45 menit. Kedua desa ini berada di Pedalaman Aceh Timur. Perahu kayu menjadi akses utama alat transportasi harapan masyarakat di sana. Dengan biaya Rp 50 ribu, perahu itu hanya mampu mengangkut 12 penumpang.
Saban hari, Pakat melawan arus membelah sungai Tamiang. Bila kondisi air tinggi maka nyawa menjadi taruhan, sementara jika air surut perahu akan kandas. Begitulah perjuangan Pakat sebagai pengemudi perahu kayu. Di atas perahu itu, Pakat menaruh harapan hidup demi menafkahi keluarga.
“Bebannya besar sekali, selain menjaga diri sendiri juga menjaga keselamatan nyawa orang lain,”kata Pakat saat menceritakan kisahnya pada kumparan (Kumparan.com) beberapa waktu lalu.

Pakat telah menjalani pekerjaan ini sejak sekitar 2007 silam. Meski telah dipercaya sebagai pengemudi perahu kayu, Pakat pernah mengalami pengalaman pahit. Suatu hari perahunya pernah terbalik dan tenggelam saat melewati batu katak. Batu berukuran besar dan membentang di tengah-tengah sungai.
“Waktu itu air memang lagi deras, sebelum melewati batu Katak saya menurunkan penumpang meminta mereka melewati jalur darat. Sementara, seluruh barang mereka di dalam boat. Nah, waktu itu boatnya tidak bisa melewati batu Katak. Lalu ketika mundur air masuk dan boat pun tenggelam. Hanyut semua barang orang. Ya, terpaksa saya bayar, memang tidak sesuai hanya Rp 800 ribu, tapi belanjaan orang sampai 20 juta.” tutur Pakat.

Selain itu pengalaman pahit yang pernah dialami Pakat, pada pertengahan 2013, tiga orang meninggal dunia akibat perahunya menabrak batu Katak.
“Kalau bahaya cuma di batu Katak ini. Mau kita hancurin tapi orang tua di kampung tidak setuju. Karena batu itu punya nilai mistis yang tinggi,” tutur Pakat.
Penghasilan Pakat menjadi sopir boat tidak menentu. Pakat mematok tarif sebanyak Rp 50 ribu per orang menuju ke Aceh Tamiang. Sementara bagi rombongan khusus, biaya dikenakan Pakat sekitar Rp 1,5 juta pulang-pergi.
“Kalau ada yang ajak turun (dari Melidi ke Aceh Taminang) ya turun. Kadang ongkosnya cuma Rp 500 ribu. Waktu baliknya penumpang kosong. Belum lagi beli minyak habis Rp 300 ribu, untungnya cuma Rp 200 ribu jarang dapat untuk 1 juta,” ucap Pakat sambil tertawa.
Ayah dua anak ini mengaku, menjadi supir boat merupakan satu-satunya jalan pekerjaan yang dilakoninya untuk mengais rezeki. Meski harus beraturuh nyawa di atas bentangan sungai Tamiang, ia tetap berjuang demi menafkahi keluarga.
“Ya gimana lagi bang, pekerjaan kita cuma itu. Lain memang sudah enggak ada,”cetusya.
