Kisah Pilu Kakek Bilal di DIY: Wafat di Atas Becak Kesayangan Akibat COVID-19

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang tukang becak beristirahat di Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Seorang tukang becak beristirahat di Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Kisah pilu datang dari Yogyakarta. Bilal, seorang pengayuh becak mengembuskan napas terakhirnya di atas becak kesayangannya dengan status positif COVID-19.

Pria berusia lebih dari 80 tahun ini hidup sendiri di Yogyakarta. Sehari-hari dia hidup di atas becak, benda berharga yang jadi sumber penghidupannya saban hari.

Bilal ditemukan tak bernyawa oleh warga di seputaran Magangan, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta pada Senin 19 Juni sekitar pukul 18.05 WIB. Dia ditemukan warga yang hendak memberinya makan.

kumparan post embed

Bilal memang ber-KTP Ngadisuryan RT 3/RW 01, Patehan. Namun KTP itu merupakan pemberian dari perangkat desa setempat meski Bilal tak memiliki rumah di sana.

"Pak Bilal meninggal itu di atas becak, sebenarnya Pak Bilal itu secara kependudukan merupakan warga kami cuma Pak Bilal ini tidak punya tempat tinggal di situ. Karena Pak Bilal sudah lama mbecak atau mangkal di situ sehingga warga masyarakat sudah anggap sebagai warga," kata Lurah Patehan, Handani, saat berbincang melalui sambungan telepon dengan kumparan.

Bilal memang selalu beraktivitas dengan becaknya. Untuk kebutuhan buang air, dia juga menggunakan WC umum yang ada di lingkungan tersebut.

"Pas kejadian itu mau ada warga kami antar makan di situ tidur dibangunkan nggak bangun akhirnya dilaporkan ke Pak RT lalu disampaikan kita," ujar Handani.

Handani kemudian melaporkan peristiwa ini ke kepolisian. Sesuai prosedur pandemi COVID-19, maka puskesmas melanjutkan dengan tes swab.

Hasilnya, Bilal dinyatakan positif. Pihaknya lalu melapor ke BPBD Kota Yogya. Setelah itu, jenazah Bilal dibawa ke RSUD Kota Yogya.

Ilustrasi positif terkena virus corona. Foto: Shutter Stock

Pengurus RT kemudian mencari informasi ahli waris Bilal ini. Selang beberapa waktu, ada informasi bahwa ahli waris Bilal berada di Bantul.

"Setelah ketemu komunikasi ahli waris disuruh untuk mengurus ke RS Kota Jogja karena itu jadi kewajiban ahli waris. Lalu ahli waris juga datang ke rumah sakit," ujarnya.

Namun ternyata, jenazah Bilal tidak diurus oleh ahli waris. Handani kemudian dihubungi rumah sakit pada Rabu (21/7) bahwa jenazah Bilal belum terurus.

"Saya kaget karena saya kira sudah selesai karena ahli waris sudah mengurus," ujarnya.

Tim Gugus Tugas Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 mengusung jenazah pasien corona di TPU Desa Bakalankrapyak, Kudus, Jawa Tengah, Kamis (27/5/2021). Foto: Yusuf Nugroho/Antara Foto

Proses Pemakaman Bilal Sempat Tidak Ada Kejelasan

Kelurahan lalu menggelar rapat. Dari sana diputuskan agar Bilal dimakamkan di pemakaman dinsos. Setelah dikomunikasikan, hal itu tidak bisa dilakukan sebab Bilal memiliki identitas dan ahli waris. Dinsos khawatir nantinya akan ada gugatan dari ahli waris.

"Kalau sebenarnya orang yang telantar itu tidak punya identitas dan tidak memiliki ahli waris. Sehingga saat penguburan jadi mr X," kata Handani.

Saat itu, jenazah Bilal masih berada di ruang jenazah rumah sakit. Pihak kelurahan kembali menemui ahli waris. Singkat cerita, jenazah masih tidak terurus. Handani pun mengambil sikap kelurahan yang akan memakamkan Bilal.

"Saya inisiatif kalau kaya gini belum ada kepastian belum ada kejelasan kalau tidak mampu serahkan ke saya," ujarnya.

Jenazah Bilal kemudian hendak dimakamkan di makam milik kampung Karanganyar, Brontokusuman. Karena bukan warga setempat, dan ahli waris juga berada di luar wilayah maka ada biaya tersendiri.

"Rp 5 juta bedah bumi untuk kas biasanya yang gali peliharaan makam. Intinya itu kaidah atau kearifan lokal yang berlaku di situ," ujarnya.

Handani juga berbincang dengan juru kunci dan tokoh masyarakat setempat. Jenazah Bilal pun diizinkan dimakamkan di sana meski bukan warga maupun tidak ada ahli waris di wilayah tersebut.

"Malam itu digali kuburnya dan melapor BPBD untuk dukungan menguburkan. Jam 2 malam pemakaman berjalan lancar itu tanggal 22 Juli, dini hari, hari Kamis," kata Handani.

Sejumlah becak terparkir di Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sementara biaya bedah bumi, Handani lantas merogoh koceknya sendiri. Meski selanjutnya diganti oleh Wali Kota Yogyakarta.

"Rp 5 juta pribadi saya awalnya, walaupun sudah diganti Pak Wali Kota," katanya.

Dari kejadian ini, Handani berharap peristiwa memilukan seperti ini tidak terulang kembali. Dia meminta siapa pun orang di wilayahnya untuk segera melapor apabila kondisi badan dirasa tidak enak.

"Karena harusnya dari yang bersangkutan nggih. Lha ini kalau nggak bersangkutan tidak melaporkan, ketua lingkungan nggak ngerti apalagi sehari-hari hidup di atas becak," pungkasnya.