Kisah Pilu Siswa SD di NTT yang Bunuh Diri: Jualan Kayu Bakar untuk Makan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

Foto makam Yohanes Bastian Roja. Foto: Kemensos RI
zoom-in-whitePerbesar
Foto makam Yohanes Bastian Roja. Foto: Kemensos RI

Tragedi anak SD, Yohanes Bastian Roja (10), mengakhiri hidupnya sendiri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) karena tak mampu membeli pena dan buku akibat kemiskinan, menjadi sorotan masyarakat luas.

Terkait hal itu, Maria Goreti Te’a (47) ibu kandung Yohanes, akhirnya buka suara. Maria Goreti menceritakan bahwa sebelum tragedi itu terjadi, pagi harinya, anaknya mengeluh pusing dan tidak mau berangkat ke sekolah.

Namun karena khawatir tertinggal pelajaran, sang ibu tetap memintanya masuk sekolah.

"Saya nasihati, minta dia rajin ke sekolah. Saya lalu tahan (pesan) ojek, minta antar ke neneknya," ungkapnya.

video from internal kumparan

Ibu Yohanes dan neneknya tinggal di desa berbeda. Rumah neneknya yang berupa pondok sederhana di kebun satu rute dengan sekolah Yohanes. Yohanes sehari-hari juga tinggal dengan neneknya, sedangkan ibunya tinggal bersama 4 anaknya yang lain dan ayah sambung Yohanes. Adapun ayah kandung Yohanes sudah lama meninggal.

Maria mengatakan, setelah mengirim Yohane ke rumah nenek, ia berpikir anak bungsunya itu sudah berangkat ke sekolah. Hingga siang harinya, kabar duka itu datang.

"Saya kaget mendengar kabar ditemukan meninggal dunia," ujarnya sedih.

Hari-hari Makan Pisang dan Ubi

Sebagai keluarga miskin, Maria mengandalkan hasil kebun seadanya, pisang dan ubi menjadi menu makanan paling sering.

"Saya hidupi anak saya dari jualan kayu api dan hasil kebun," ucapnya.

Bantu Nenek Jual Kayu Bakar

Yohanes adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya meninggal dunia sejak ia masih dalam kandungan.

Sejak berusia 1 tahun 7 bulan, ia tak lagi tinggal bersama ibu kandungnya dan diasuh oleh neneknya di pondok sederhana berdinding bambu.

Sehari-hari, selain bersekolah, Yohanes kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar untuk makan.

Rumah tinggal Yohanes Bastian Roja di Ngada. Foto: Dok. Istimewa

Surat Terakhir Korban

Dalam proses olah TKP, polisi menemukan sepucuk surat untuk ibunya. Surat yang ditulis tangan oleh korban ditemukan di sekitar lokasi kejadian.

Begini bunyi surat korban dalam bahasa daerah Ngada:

Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama, saya pergi dulu)

Mama molo Ja'o ( Mama, relakan saya pergi)

Galo mata Mae Rita ee Mama (Jangan menangis, Mama)

Mama jao Galo Mata (Mama, saya pergi)

Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya)

Molo Mama (Selamat tinggal, Mama)

Surat terakhir bocah SD yang bunuh diri untuk ibunya, karena masalah ekonomi. Foto: Dok. Istimewa

Buku dan Pena Jadi Permintaan Terakhir

Gregorius Kodo, saksi mata, menuturkan kondisi keluarga korban banyak tantangan. Itu yang membuat korban memilih tinggal bersama neneknya di pondok. Ketika kejadian berlangsung, nenek korban yang berusia sekitar 80 tahun itu tengah berada di rumah tetangga.

Menurutnya, korban kurang kasih sayang orang tua. Ayah korban meninggal dunia pada saat korban masih dalam kandungan. Ayah korban merupakan suami ketiga dari ibunya. Ibunya menafkahi lima anak, termasuk korban.

Sebelum bunuh diri, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Namun, permohonan itu tidak dikabulkan karena ibunya tidak punya uang," kata Gregorius.