Kisah Polisi Anak Tukang Kayu yang Jadi Kandidat Doktor di UI

Seorang polisi berseragam lengkap tampak memacu sepeda motornya ke dalam kebun yang berjarak dua jam perjalanan dari Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Laki-laki itu adalah Brigadir Kepala Yudi Apriadi. Dia merupakan anggota Bhabinkantibmas yang dipercaya untuk membina masyarakat Desa Dalil, Bakam, Kabupaten Bangka.
Sekilas polisi berkepala plontos ini tak ubahnya aparat negara biasa. Kata-kata yang dia lontarkan sederhana. Padahal, Yudi adalah kandidat doktor ilmu hukum di Universitas Indonesia.
Studi doktoral Yudi terbilang ditempuh dalam usia relatif muda. Saat ini, dia masih berusia 39 tahun. Untuk sampai ke jenjang itu pun dicapainya cukup cepat.
Yudi lulus Sekolah Polisi Negara di Betung, Sumatera Selatan, pada tahun 2003. Namun, laki-laki kelahiran Palembang ini baru mengenyam bangku kuliah di universitas pada tahun 2008.
"Setelah beberapa lama saya bekerja sebagai polisi, terpikir ingin melihat dunia. Karena itu, saya putuskan untuk berkuliah," kata Yudi saat berbincang dengan kumparan (kumparan.com), Jumat (27/10).
Lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Pertiba Pangkalpinang pada tahun 2012, Yudi langsung melanjutkan studi magister dalam ilmu hukum di kampus yang sama. Pada tahun 2016, Yudi menuntaskan kuliah S2-nya dan kemudian dilanjutkan ke program doktoral.
"Malah kalau bisa saya mau jadi profesor," ujarnya.
Tingginya latar belakang pendidikan Yudi bertolak belakang dengan orang tuanya. "Orang tua saya hanya lulusan SD," sebut polisi ini.
Pendidikan orang tuanya dan kerasnya masa kecil diakuinya sebagai cambuk yang membuat ia ingin terus belajar. Apalagi jika dia mengenang sulitnya perjuangan untuk bisa lulus SMA.
Berbeda dengan anak-anak lainnya yang sudah masuk sekolah dasar pada usia 7 tahun, Yudi baru bersekolah pada usia 8 tahun. Ayahnya yang bekerja sebagai tukang kayu dan ibunya hanya buruh pabrik industri rumahan, tak punya cukup uang untuk menyekolahkan anaknya tepat waktu.

Selama jenjang sekolah dasar, Yudi beberapa kali hampir putus sekolah karena tak punya cukup biaya. Agar tetap bisa sekolah, dia rela mengorbankan waktu bermain untuk bekerja.
"Saya pernah jualan plastik, jadi kernet bus, mengumpulkan barang bekas, sampai jadi supir," kenangnya.
Pengorbanan Yudi untuk tetap belajar tidak berhenti meski sudah masuk sekolah polisi. "Banyak puasa saya waktu di SPN," ujarnya.
Kini bapak tiga anak ini sudah menyandang gelar master ilmu hukum. Kondisi itu pun dia manfaatkannya untuk berbagi ilmu kepada orang lain. Yudi kini tercatat sebagai dosen aktif di Universitas Bangka Belitung dan Universitas Terbuka. Dia mengajar mahasiswa S1 setiap Kamis.
Untuk mendapat gelar doktor, Yudi pun rela terbang ke Jakarta setiap akhir pekan dan mengorbankan hari liburnya.

Tetap Laksanakan Tugas Polisi
Meski mengajar di dua universitas dan bolak-balik Jakarta-Bangka setiap akhir pekan, Yudi tetap melaksanakan tugas sebagai Bhabinkantibmas. Dia sampai punya tekad mengurangi pengangguran di Desa Dalil yang menurutnya tinggi.
"Pertama kali saya datang, Dalil ini dikenal karena anak muda suka mabuk-mabuk. Mereka juga banyak yang pengangguran," ujarnya.
Masalah itu coba dituntaskan Yudi dengan memanfaatkan lahan seluas 500 meter persegi milik desa. Lahan tidur bekas perkebunan kelapa sawit diubah menjadi kebun cabai dan buah naga.
"Tumbuhan itu saya pilih setelah koordinasi dengan dinas pertanian. Kata mereka tanah di sini asam, cocok dengan cabai," kata Yudi.

Kini perkebunan kecil yang dikelola Yudi dan empat warga Dalil selama satu tahun itu mulai membuahkan hasil. Cabainya sudah siap panen, sedangkan buah naganya akan panen dalam satu bulan mendatang.
Merahnya cabai itu pun dilihat sebagai kesempatan oleh warga lain. Mulai banyak warga yang ingin ikut terlibat dalam perkebunan itu.
"Sudah ada teman-teman saya yang tanya, 'bagaimana kalau mau kerja di ladang ini'," kata Suantar yang bekerja di kebun binaan Yudi.
Sedangkan Direktur Pembinaan Masyarakat Polda Bangka Belitung, Kombes Badya Widjaja, mengaku kagum dengan hasil pembinaan Yudi. Meski sudah menjadi tugas, Bhabinkamtibmas untuk membina desa tempat tugasnya, tapi tidak semuanya bisa seperti Yudi.
"Luar biasa ini," sebut Badya saat melihat kebun yang dibina Yudi.

