Kisah Riyang di Sleman Mulai Usaha Ngarit Online: Ketika Rumput Ikut Go Digital

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ngarit online. Riyang Gati (26 tahun) warga Kalurahan Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman manfaatkan medsos untuk jualan rumput online. Rumputnya pun sampai Tangerang, Banten. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ngarit online. Riyang Gati (26 tahun) warga Kalurahan Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman manfaatkan medsos untuk jualan rumput online. Rumputnya pun sampai Tangerang, Banten. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Mencari rumput untuk ternak alias ngarit biasanya jadi rutinitas peternak sapi dan kambing. Tapi di Kapanewon Moyudan, Sleman, aktivitas itu mulai punya “jalan pintas.” Para peternak yang sibuk atau tak sempat turun ke sawah kini bisa membeli rumput secara daring.

Penjualnya bukan kelompok besar, melainkan seorang pemuda 26 tahun bernama Riyang Gati, warga Kalurahan Sumberagung.

Minggu (16/11), kumparan mendatangi rumah Riyang. Alamatnya gampang ditemukan; cukup cari “Bakul Suket Jogja (Suketin.id)” di maps. Nama itu juga jadi akun media sosial tempat Riyang mempromosikan hasil ngaritnya.

Sebuah spanduk “Bakul Suket” terpasang di depan rumah, lengkap dengan slogan yang merangkum semangat usahanya: “Suket Ora Trending Tapi Suket Itu Penting.”

Tak lama setelah tiba, sebuah motor melintas. Pengendaranya memakai baju hijau, tangan kanan memegang setang, tangan kiri menjinjing dua karung rumput. Satu karung lagi menumpang di bagian tengah motor. Total tiga karung. Pemilik motor itu tak lain adalah Riyang yang baru balik dari sawah.

“Sehari minimal lima sampai enam karung sehari,” katanya membuka obrolan.

Usaha ini baru berjalan sekitar tiga minggu. Pasarnya jelas: para peternak yang punya pekerjaan ganda atau sedang ada acara sehingga tak sempat ngarit sendiri.

Ngarit online. Riyang Gati (26 tahun) warga Kalurahan Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman manfaatkan medsos untuk jualan rumput online. Rumputnya pun sampai Tangerang, Banten. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Dari Sawah Gagal Panen ke Ide Jualan Suket

Kisah Riyang berangkat dari kondisi yang jauh dari ideal. “Awal mulanya pertama karena saya nganggur, yang kedua sawah milik keluarga yang di bulak Kedung Banteng beberapa kali ditanami padi nggak panen. Yang ketiga karena melihara kambing, kemarin rencana buat bank pakan tetapi terlalu luas. Buat stok kambing saya kebanyakan,” jelasnya.

Karena sawah di sekitar juga sedang libur tanam, Riyang dan pamannya memutuskan menanami lahan itu dengan rumput. Ia memang sudah berniat menjualnya. Sebelumnya, Riyang sempat bekerja di ekspedisi, dekorasi nikahan, hingga PPS saat Pemilu.

Ngarit online. Riyang Gati (26 tahun) warga Kalurahan Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman manfaatkan medsos untuk jualan rumput online. Rumputnya pun sampai Tangerang, Banten. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Membangun “Bakul Suket” Lewat Media Sosial

Agar usahanya jelas identitasnya, Riyang memilih nama Bakul Suket yang mudah diingat warga sekitar. “Saya kan di Sleman paling pojok kalau pakai istilah nggak mudeng. Menyesuaikan pasar saja,” ujarnya.

Untuk menjangkau pasar yang lebih luas, ia memakai nama suketin.id di media sosial. “Medsos biasanya kaum muda, sasarannya kan misalnya kaum muda orang tuanya ada yang punya ternak. Ini kan bisa ‘ini lho, Pak, ada yang jual pakan’ gitu,” tuturnya.

Ada tiga platform yang ia gunakan: TikTok, Instagram, dan Facebook. Untuk logo, Riyang memanfaatkan kecerdasan buatan. Kontennya sederhana tetapi konsisten: rumput, rumput, dan rumput.

“Video aja rumput. Monggo juragan suketnya sudah di-ready-kan. Ngarit online. Pertama kali ada ngarit online di situ,” jelasnya.

Rumput dijual Rp 25 ribu per karung. Pengantaran gratis jika dekat, sementara pembeli yang jauh biasanya memberi tips tambahan.

Banyak yang awalnya meragukan apakah rumput bisa laku dijual online. Riyang menirukan komentar mereka: “Apa ya payu.”

Ngarit online. Riyang Gati (26 tahun) warga Kalurahan Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman manfaatkan medsos untuk jualan rumput online. Rumputnya pun sampai Tangerang, Banten. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Pelanggan Pertama, Marmut, dan Order dari Tangerang

Tanggal 31 Oktober, pelanggan online pertamanya datang dari Sedayu, Bantul. Riyang sempat mengira rumput itu untuk kambing atau sapi. “Ternyata sampai sana cuma buat pakan marmut. Pesannya tetap sekarung,” kata Riyang sambil tertawa heran.

Setelah kontennya mulai ditonton banyak orang, Riyang mencoba memasarkan rumputnya lewat marketplace. Tak disangka, pesanan datang dari Tangerang. “Saya upload tidak saya iklan dan sebagainya… Setelah sehari ada yang beli,” ujarnya.

Rumput dikirim dengan kondisi tidak basah, karung digandakan dengan trash bag. Harga di marketplace Rp 30 ribu per karung. “Suketku tekan Tangerang. Orangnya nggak kompain berarti aman,” katanya.

Beberapa daerah lain seperti Magetan, Wonosobo, dan Cilacap, mulai menanyakan ketersediaan rumput.

Ngarit online. Riyang Gati (26 tahun) warga Kalurahan Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman manfaatkan medsos untuk jualan rumput online. Rumputnya pun sampai Tangerang, Banten. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Ngarit Dua Kali Sehari

Setiap hari Riyang ngarit dua kali: pagi dan siang sampai sore. Rata-rata enam karung. Ada pelanggan yang memilih mengambil sendiri selepas pulang kerja, terutama dari Nanggulan, Kulon Progo. Ada pula pelanggan di Wirobrajan, Yogyakarta, yang membuat Riyang baru tahu bahwa di tengah kota pun ada yang beternak kambing.

Antusiasme yang tinggi membuat Riyang berpikir sawahnya tak akan cukup. “Tetap ekspansi sekitar. Mau tidak mau nyewa,” katanya.

Menurut Riyang, kualitas rumput harus dijaga. Yang bagus ialah rumput yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda.

Ngarit online. Riyang Gati (26 tahun) warga Kalurahan Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman manfaatkan medsos untuk jualan rumput online. Rumputnya pun sampai Tangerang, Banten. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Rumput Ukuran Mini dan Rencana Serius

Karena pembelinya bukan hanya peternak tetapi juga penghobi hewan seperti pemilik marmut, Riyang berencana membuat ukuran kemasan lebih kecil. “Kalau nggak ukuran karung pupuk urea. Marketplace lebih murah. Kalau pakai karung besar dikirim mahal ongkirnya,” ucapnya.

Ia ingin menseriusi usaha ini dan berharap bisa membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar. “Misal lancar di atas delapan (karung), rencanaku kan di sini banyak yang ternak kambing… Kalau misal sudah banyak order ‘Pak Dhe mau ngarit nggak’ (diajak kerja),” bebernya.