Kisah Siswa di Kediri Rakit Drone dari Barang Bekas

Sejak Indonesia menghadapi pandemi COVID-19, sekitar 68 juta siswa harus melakukan kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Bagi beberapa siswa, kondisi ini tentu tidak mudah. Suasana rumah yang membosankan, tidak bertemu teman untuk bermain, penjelasan guru yang hanya di layar, dan hal-hal lain yang bisa membuat siswa jenuh.
Namun, hal tersebut tidak menghalangi seorang siswa di Kediri untuk berinovasi. Untuk mengisi waktu luangnya selama belajar di rumah, Muhammad Azhar Syahrudin berhasil membuat drone yang sebagian komponennya dari barang bekas.
Azhar mengambil chip dari remote control atau matrix yang sudah tak terpakai, kemudian menyetel ulang chip tersebut agar bisa digunakan di drone buatannya. Tak hanya itu, frame drone juga dibuat dari limbah plastik yang dibakar dan dicetak menyesuaikan ukuran drone agar performanya maksimal saat diterbangkan. Azhar juga mendesain dan mewarnai sendiri frame drone miliknya.
Dalam pengoperasiannya, drone ramah lingkungan buatan Azhar menggunakan tenaga baterai dari kandungan asam pohon pepaya yang diubah menjadi tenaga listrik.
Azhar mengaku bahwa dirinya sudah mengembangkan drone sejak setahun lalu, namun sempat terhenti. Imbauan untuk di rumah aja selama pandemi pun Azhar jadikan ajang untuk melanjutkan proyeknya.
Bukan tanpa alasan, niat Azhar membuat drone pun sangat menjunjung nilai kemanusiaan. Murid kelas XI MAN 2 Kota Kediri ini menuturkan, drone yang dirancangnya dapat digunakan sebagai server untuk menangkap sinyal hingga satu kilometer dengan ketinggian 350-400 meter di daerah yang sedang terjadi bencana alam. Dengan begitu, komunikasi tetap bisa berjalan tanpa terkendala sinyal.
Meski masih dalam tahap pengembangan, drone berbahan bekas tersebut banyak menarik minat masyarakat. Azhar mengaku, sudah lebih dari tiga orang yang memesan drone buatannya.
Cerminkan karakter pelajar Pancasila
Inovasi yang dilakukan Azhar dalam mengisi waktu luang selama pandemi mencerminkan karakter pelajar Pancasila yang bernalar kritis dan mandiri. Azhar mampu menganalisis informasi, memproses gagasan miliknya, dan mengambil keputusan. Ia lantas bertanggung jawab atas proses belajarnya. Meski belajar secara otodidak, Azhar berhasil mengembangkan drone dengan bahan dasar limbah.
Tak hanya itu, Azhar juga mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermanfaat, sekaligus berdampak bagi masyarakat. Hal ini mencerminkan sikap pelajar Pancasila yang kreatif.
Mengusung nilai-nilai yang ada pada Pancasila, pelajar Pancasila memiliki enam karakter utama, yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa serta berkepribadian mulia, mandiri, bernalar kritis, bergotong royong, kreatif, dan menjunjung kebhinekaan global.
Melalui unit organisasi bernama Pusat Penguatan Karakter (Puspeka), Kemdikbud terus berkomitmen dalam memajukan pendidikan bangsa. Dalam melaksanakan tugasnya, Puspeka berperan dalam mewujudkan siswa Indonesia menjadi pelajar Pancasila. Sehingga, terlahir SDM unggul yang berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila dan memiliki kompetensi global.
Selama pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ), Puspeka menghadirkan kampanye publik terkait penguatan karakter dan contoh praktik dalam mendukung pembelajaran kreatif di rumah. Program BdR (Belajar dari Rumah) yang ditayangkan melalui TVRI misalnya. Tak hanya menyajikan konten menarik untuk ditonton selama belajar di rumah, BdR juga dapat menjadi pemantik kreativitas siswa.
Tak hanya itu, Puspeka juga menyajikan banyak aktivitas daring yang bisa diikuti oleh seluruh siswa di Indonesia. Mulai dari peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2020 di TVRI, sayembara menulis surat untuk Mendikbud Nadiem Makarim, Lomba Dalam Rangka Memperingati Hari Pancasila, Nobar Virtual Film Battle of Surabaya, Kemah Karakter Virtual Anak Indonesia, hingga webinar Pusat Penguatan Karakter yang akan mengupas topik-topik seru di kala pandemi.
