Kisah Siti Anak Pemulung di Karawang, Kerap Bawa Pulang MBG untuk Ibu di Rumah
·waktu baca 4 menit

Jumat (21/11) siang itu, jam dinding di SDN Cibalongsari 3 Klari, Karawang, menunjukkan pukul 11.30 WIB. Suara riuh terdengar dari anak-anak yang menerima kotak makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di tengah keriuhan itu, Siti Nurohmah, siswi kelas 4, duduk diam sambil menatap kotak makanannya. Sambil menunduk, ia memindahkan paket makanan bergizi itu ke dalam plastik bening, lalu memasukkannya ke dalam tas berwarna hitam. Tanpa banyak bicara, Siti kemudian bergegas pulang.
Tasnya tampak menggantung berat di punggung, tetapi langkah kakinya kecil dan cepat, menembus teriknya matahari.
Menyusuri Gang Sempit
Dari jalan raya di seberang sekolah, Siti masuk ke sebuah gang sempit. Di kiri-kanan, bangunan berdempetan. Siti berjalan pelan, menghindari genangan air di sepanjang jalan. Setelah berjalan sekitar 300 meter, Siti berhenti dan menoleh ke sebuah gerbang rumah yang disusun dari triplek bekas. Ia mendorong pelan untuk masuk ke halaman rumahnya yang kecil.
“Assalamualaikum, Mah… Siti pulang,” ucapnya.
"Waalaikumsalam.. Sini neng," jawab seorang perempuan tua di depan pintu rumah. Perempuan itu bernama Sri Mulya Darmayanti, ibu dari Siti.
Rumah sederhana itu menjadi tempat mereka tinggal. Bangunannya berkelir merah dan biru toska, berukuran kurang lebih 5x7 meter. Di dalamnya hanya ada ruang tamu kecil dan dua kamar. Lantai rumah beralas semen, beberapa sudut lembap, dan cahaya matahari hanya masuk melalui celah kecil jendela.
Menyuapi Sang Ibu
Siti meletakkan tasnya di dalam rumah, lalu kembali keluar menghampiri ibunya sambil membawa plastik putih berisi paket berupa roti sandwich berisi sepotong ayam. “Ini buat mamah,” kata Siti.
Sri tersenyum, namun matanya tampak berkaca-kaca. “Makasih ya neng,” jawabnya lembut seraya memeluk sang anak.
Dengan sigap, Siti membuka plastik tersebut lalu menyuapkan sepotong roti ke mulut ibunya.
Di tengah momen itu, Sri bercerita dengan suara bergetar, “Siti itu anaknya penyayang. Kadang saya bilang makan saja di sekolah, tapi dia tetap bawa pulang buat saya sama kakaknya.”
Siti merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Di rumah itu, ia tinggal bersama ibunya Sri, ayahnya Rahmat Hidayat, serta tiga kakaknya. "Yang gede udah SMA, yang kedua gak lanjut SMP, ikut bapaknya kerja, yang ketiga SMP," sebut Sri.
Semangat Sekolah demi MBG
Kepada kumparan, Sri mengaku program yang diinisiasi Presiden Prabowo itu membuat Siti lebih bersemangat saat berangkat sekolah. Ia bahkan ingat satu kejadian ketika Siti sedang demam ringan.
“Katanya nggak mau ketinggalan, karena mau dapat MBG. ‘Yang lain pada dapet, pengen juga,’ katanya,” tutur Sri.
Dengan kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, Sri dan suaminya sehari-hari menggantungkan hidup dari memulung dan bekerja serabutan. Namun begitu, mereka tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak.
Rumah yang kini mereka tempati pun baru berdiri berkat program rumah layak huni pemerintah, setelah sebelumnya mereka tinggal di bangunan berdinding bilik yang bercampur dengan kandang kambing.
"Ini dibantu dari pemerintah, baru setahun kemarin," katanya.
Merasa Sangat Terbantu
Bagi Sri, kehadiran program makan bergizi gratis ini sangat membantu ekonomi keluarganya di tengah penghasilan harian yang rata-rata hanya Rp 50 ribu. Angka yang jelas tak cukup untuk memastikan kebutuhan gizi anak-anak terpenuhi setiap hari.
"Alhamdulillah kebantu, sekarang mah dia (Siti) ditabungin kalau ada sisa (bekal jajan)," ujarnya.
Karena layanan ini menanggung satu kali makan di sekolah, uang jajan yang tadinya digunakan untuk lauk atau bekal bisa dialihkan untuk kebutuhan lain, bahkan sebagian ditabung untuk Siti.
Hadirkan Rasa Peduli
Kepala SDN Cibalongsari 3 Klari, Karawang, Lela Nurlaela, menyebut sekolahnya total menerima 941 paket yang dibagi dalam tiga sesi. “Misalnya kelas pagi kelas 1, 2 pulang jam 9 pagi, pengiriman kedua jam 10 kelas 3, 4, 5 dan 6, sama siang juga jam 1,” kata Lela.
Sekolahnya baru menerima layanan ini sejak 27 Oktober 2025. Meski masih baru dan belum memiliki dapur sendiri, Lela melihat antusiasme anak sangat tinggi. “Kalau anak-anak sih tentu antusias ya, kami pun sering request ke SPPG soal menunya. Misal minggu ini telor terus, bosen, minta diganti yang lain, gitu, alhamdulillah lah tentunya bisa dirasakan manfaatnya oleh anak-anak,” papar Lela.
Program MBG di sekolah seperti SDN Cibalongsari 3 Klari memberi dampak nyata bagi keluarga dengan penghasilan pas-pasan. Satu porsi makan yang diterima setiap hari membuat orang tua tak lagi memikirkan bekal tambahan, dan anak-anak lebih semangat datang ke sekolah.
Sedangkan bagi Siti, program ini bukan hanya makanan yang bisa menghemat uang jajan, tetapi juga menjadi bentuk perhatian kecil yang ia bawa pulang untuk ibunya. Program ini bukan hanya membantu anak-anak tetap kenyang dan sehat, tetapi juga menghadirkan rasa peduli pada orang-orang terkasih.
