Kisah Warga di Cianjur Menantang Maut Lewati Jembatan Gantung yang Rusak

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga Kampung Cijeungjing, Desa Karangnunggal, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat harus bertaruh nyawa saat melintasi jembatan gantung untuk membawa hasil panen mereka. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Warga Kampung Cijeungjing, Desa Karangnunggal, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat harus bertaruh nyawa saat melintasi jembatan gantung untuk membawa hasil panen mereka. Foto: Dok. Istimewa

Warga Kampung Cijeungjing, Desa Karangnunggal, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, harus bertaruh nyawa saat melintasi jembatan gantung untuk membawa hasil panen mereka.

Kondisi jembatan gantung yang kali pertama dibangun secara swadaya oleh warga itu sudah sangat memperhatikan dan membahayakan jika dipaksakan dilintasi warga untuk berkegiatan sehari-hari.

Selain kondisi jembatan gantung yang sudah miring, bantalan jembatan yang terbuat dari kayu juga sudah lapuk akibat termakan usia.

Seorang warga setempat, Iman (40), mengatakan jembatan gantung dengan panjang 30 meter dan lebar 1 meter itu menjadi satu-satunya akses utama warga di sejumlah desa di kawasan itu. Di bawahnya aliran deras Sungai Cikondang yang berbatu.

Warga Kampung Cijeungjing, Desa Karangnunggal, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat harus bertaruh nyawa saat melintasi jembatan gantung untuk membawa hasil panen mereka. Foto: Dok. Istimewa

Meskipun terdapat akses jalan yang lebih layak, kata Iman, tetapi warga harus memutar lebih jauh yang jaraknya sekitar 5 kilometer.

"Ini jembatan hasil swadaya warga, memang dibangun untuk mempersingkat jarak tempuh warga dan efisien biaya angkut hasil panen. Tapi sekarang sudah hampir satu tahun, jembatan ini kondisinya sudah rusak. Meski begitu, warga masih saja memanfaatkannya walaupun harus bertaruh nyawa dengan risiko terjatuh ke aliran sungai," kata Iman, kepada wartawan, Sabtu (2/7).

Selain akses utama warga petani, lanjut Iman, jembatan itu juga masih dijadikan akses utama para siswa untuk sampai lebih cepat di sekolah.

"Tapi untuk para siswa, sudah sering kita peringatkan agar tidak lagi menggunakan akses jembatan ini, khawatir jatuh. Karena, kondisinya sudah sangat tidak layak dan berbahaya," jelasnya.

Warga di dua desa di dua kecamatan, yaitu Desa Salamnunggal, Kecamatan Cibeber dan Desa Sukarama, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terpaksa menantang maut dengan bergelantungan melewati jembatan gantung yang rusak untuk beraktivitas sehari-hari.

Jembatan gantung yang hanya tersisa bentangan sling atau tali kawat itu berdiri di atas Sungai Cisokan, Kampung Ciputat, Desa Salamnunggal, Kecamatan Cibeber dan menjadi satu-satunya akses jalan terdekat penghubung warga di wilayah itu.

kumparan post embed

Seorang warga Kampung Ciputat, Desa Salamnunggal, Cibeber Rustandi (35) mengatakan jembatan itu menjadi akses jalan terdekat menuju ladang warga yang ada di Desa Sukarama, Kecamatan Bojongpicung.

Disebutkan Rustandi, jembatan yang membentang sepanjang 52 meter di atas aliran Sungai Cisokan itu sudah mengalami rusak sejak dua tahun terakhir.

"Sering juga khawatir terjatuh, tapi ini satu-satunya akses jalan terdekat menuju ladang warga," kata Rustandi.