Kisah Warga di Sleman Bantu Jual Dagangan Tetangga yang Sedang Isoman

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Andreas Tri Pamungkas bersama warga lain di RT6 Sengkan, Padukuhan Joho, Kelurahan Condongcatur, Kapenawon Depok, Kabupaten Sleman bahu membahu membantu tetangga yang terdampak pandemi. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Andreas Tri Pamungkas bersama warga lain di RT6 Sengkan, Padukuhan Joho, Kelurahan Condongcatur, Kapenawon Depok, Kabupaten Sleman bahu membahu membantu tetangga yang terdampak pandemi. Foto: Dok. Pribadi

Semangat warga di Sleman, DIY, untuk ikut membantu mereka yang terdampak COVID-19 terus bermunculan. Seperti di RT 6 Sengkan, Padukuhan Joho, Kelurahan Condongcatur, Kapenawon Depok, Kabupaten Sleman.

Warga di sana membantu menjualkan barang dagangan warga lain yang sedang menjalani isolasi mandiri. Andreas Tri Pamungkas merupakan salah seorang yang menginisiasi gerakan 'Warga Bantu Warga'.

Andreas mengatakan, warga di RT-nya memang sejak awal pandemi semangat untuk saling membantu. Misalnya, ikut memantau kondisi warga yang tengah terpapar corona dan menjalani isolasi hingga mencarikan warga oksigen.

kumparan post embed

Seiring berjalannya waktu, muncul ide membantu menjualkan dagangan warga yang sedang menjalani isoman. Peristiwa ini bermula saat ada warga yang berprofesi sebagai pedagang di Pasar Colombo tidak bisa berjualan karena harus menjalani isolasi.

"Jadi yang kami jualkan barang dagangannya ini awalnya itu yang sakit anak pertamanya. Jadi ibu ini kan tulang punggung keluarga ya. Dia punya tiga anak gitu, nah awal pertama kali yang positif itu yang sulung," ujar Andreas dikonfirmasi kumparan, Kamis (12/8).

Andreas menuturkan, karena anaknya positif, ibu tersebut kemudian mengungsi sementara ke rumah keluarganya di Kota Yogyakarta. Otomatis, karena si ibu ini sedang mengungsi dia tidak bisa berjualan di Pasar Colombo.

"Nah di situ kami ada solusi untuk mencarikan rumah warga yang bersedia untuk di tempat tinggali, rumah kosong gitu. Selesai dari situ dia berjualan lah, tapi ternyata ketika yang sulung ini sembuh, giliran ibu ini yang kemudian positif juga dan isoman beserta dua anaknya yang lain tadi," ucap dia.

Petugas mendata warga yang sedang isolasi mandiri akan mendapatkan bantuan makanan dari dapur umum. Foto: Fauzan/ANTARA FOTO

Kondisi itu tentu berat bagi si ibu, berhari-hari dia harus menjalani isolasi mandiri dan tidak bisa mencari nafkah. Padahal, ibu ini sudah kulakan banyak barang dagangan seperti bawang merah, bawang putih, bombay hingga beras.

"Yang kita selamatkan dulu adalah karena dia sakit, tulang punggung keluarga dan praktis dia akan memikirkan bagaimana keberlangsungan hidup anak-anaknya. Apalagi mereka sekolah," ucapnya.

Sebagai bentuk dukungan dan motivasi, Andreas bersama warga lain berinisiatif menjualkan barang dagangan ibu tersebut. Semua barang dagangan dihitung dan di share di grup WA antar RT.

"Jadi kalau di RW 59 ini ada tiga RT. Satu RT itu jumlahnya cukup banyak. Bisa 100-150 KK ya. Kemudian kita sebarkan begitu saja, kemudian mereka yang mau order tinggal menyebutkan nama, RT mana, berapa jumlah yang dipesan. Itu kemudian kami beri judul Donasi COVID-19, Bawang Dijual Murah," katanya.

ilustrasi pedagang sayur di pasar Foto: Shutterstock

Barang Dagangan Dijual Murah

Barang dagangan dijual murah karena si ibu meminta dagangannya dijual sesuai harga kulakan. Warga tetap boleh menjual lebih tinggi tapi tetap di bawah harga pasar agar si ibu tetap mendapat untung. Tidak hanya bawang, beras dagangan si ibu juga dibantu untuk dijualkan.

Dia menjelaskan, gerakan warga bantu warga ini menyesuaikan kondisi. Karena ada juga warga yang menjalani isoman tapi secara ekonomi tidak terlalu terdampak karena memiliki penghasilan tetap.

Andreas menuturkan, gerakan ini sudah dimulai sejak sebelum PPKM. Ketika lonjakan kasus di DIY sudah mulai terjadi, warga sudah merasa perlu ada gerakan yang menjadi sistem penanganan di kampung.

"Nah dari situ kita melakukan penggalangan donasi yang itu keperluannya untuk beli APD, untuk membantu warga seperti ini gitu," ujarnya.

Ilustrasi swab test. Foto: Shutter Stock

Donasi dari warga itu juga digunakan untuk melakukan swab warga yang membutuhkan. Warga juga saling memetakan potensi apa yang dimiliki oleh kampung.

"Misalnya latar belakangnya dia memang suka dalam kegiatan kerelawanan, oh dia kegiatannya tenaga kesehatan," ujarnya.

Namun kadang kala ada warga yang berprofesi sebagai nakes sedang sakit maka Andreas yang tidak memiliki latar belakang kesehatan jadi pengganti. Dia mengecek kondisi warga yang isoman secara berkala.

"Baik sekadar saturasi, kemudian distribusi oksigen, ketika mereka membutuhkan," katanya.

"Tidak semua warga berani masuk ke rumah menggunakan APD lengkap lalu mengecek saturasi, belum lagi nanti memasangkannya, memasang oksigen. Itu kan kalau ngga panggilan hati ya sudah takut duluan," tutup dia.