KKP Surabaya Buka Suara soal 94 Calon Jemaah Umrah Gagal Terbang
·waktu baca 2 menit

Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Surabaya, Slamet Mulsiswanto, buka suara soal 94 calon jemaah umrah asal Jawa Timur yang gagal berangkat ke tanah suci.
Slamet membenarkan pihaknya tidak ada di Bandara Juanda saat para calon jemaah ingin mengajukan validasi vaksin meningitis sebagai syarat perjalanan umrah pada Senin (25/9) kemarin.
Namun, ia menampik bahwa KKP yang bersalah dalam kejadian ini. Slamet mengatakan, tertundanya keberangkatan umrah puluhan jemaah itu disebabkan oleh kesalahpahaman teknis antara KKP dengan pihak maskapai.
Dia mengaku bahwa KKP baru mendapat kabar kalau ada rombongan jemaah umrah sekitar pukul 04.43 WIB.
"Kalau kemarin memang terlambat keberangkatan. Masalahnya sekarang adalah kita ini dapat informasi sudah jam 04.43 WIB. Setelah dapat informasi, kita langsung ke bandara dan melakukan validasi," katanya saat dikonfirmasi, Selasa (27/9).
Slamet menjelaskan, pihaknya telah menanyakan informasi terkait jemaah umrah yang akan berangkat pada hari sebelumnya, yakni Minggu (24/9).
Namun, informasi yang diterima KKP, rombongan jemaah yang akan terbang ke Tanah Suci pada Senin (25/9) pukul 10.00 WIB. Sehingga, petugas KKP menyepakati akan datang ke lokasi Bandara Juanda tiga jam sebelum berangkat, tepatnya pukul 07.00 WIB untuk memvalidasi.
"Yang kita lakukan selama ini itu maskapai 1 hari sebelumnya itu sudah menyampaikan besok jam sekian penerbangan, ini ada yang mau berangkat. Sehingga 3 jam sebelum keberangkatan, petugas kami sudah ada di tempat," jelasnya.
"Malamnya [hari Minggu] kita sudah tanya [Tidak ada informasi jemaah umrah pukul 05.00 WIB]. Iya bisa dikatakan [ada informasi yang tidak sampai] seperti itu. Karena yang disampaikan yang pukul 10.00 WIB, tidak ada masalah," lanjut dia.
Meski adanya kesalahpahaman, KKP tetap datang ke Bandara Juanda untuk memvalidasi seluruh jemaah. Sehingga, sudah ada 27 jemaah umrah yang dapat diberangkat pada Selasa (27/9) pagi tadi.
Mereka berangkat menggunakan maskapai yang berbeda dan harus transit ke Jakarta dan Kuala Lumpur, Malaysia. Sementara jemaah sisanya belum diketahui akan berangkat kapan.
"Transit itu harus ada surat persetujuan dari Direktorat Jenderal Kemenag," terangnya.
Sebelumnya, sebanyak 94 calon jemaah umrah asal Jawa Timur gagal berangkat ke Tanah Suci akibat vaksin meningitis belum tervalidasi, Senin (26/9) kemarin.
Mereka 94 calon jemaah umrah tersebut berasal dari berbagai daerah di Jatim, di antaranya Probolinggo, Bondowoso, Jember, dan Situbondo.
