KNKT Soroti Beda Jalur Komunikasi KA dan KRL, Buat Ada Jeda Informasi Kecelakaan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas memeriksa kondisi gerbong KRL Commuterline yang bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). Foto: Paramayuda/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas memeriksa kondisi gerbong KRL Commuterline yang bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). Foto: Paramayuda/ANTARA FOTO

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyoroti adanya perbedaan jalur komunikasi antara kereta jarak jauh (KA) dan KRL dalam insiden KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur pada April lalu. Hal itu dinilai menjadi salah satu faktor yang menyebabkan keterlambatan penanganan.

Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, menjelaskan terdapat jeda komunikasi karena laporan kecelakaan dari KRL terlebih dahulu diteruskan ke pengendali wilayah berbeda sebelum informasi sampai ke pengendali KA Argo Bromo Anggrek.

“Yang kedua, memang ketika diberikan komunikasi dari PK Timur itu ada jeda karena ada pertama dari Commuter Line yang melaporkan terjadi tabrakan itu ke stasiun, ke pengendali Selatan, Pak. Ini juga sementara yang Argo Bromo Anggrek ini kan ada di pengendali Timur, Pak. Iya, itu dua orang pengendali yang berbeda,” kata Soerjanto dalam rapat bersama Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5).

Menurut dia, kondisi tersebut membuat proses komunikasi menjadi lebih panjang. Sebab, pengendali Selatan harus lebih dulu menyampaikan informasi kepada Chief sebelum diteruskan ke PK Timur untuk menghubungi masinis.

“Tapi komunikasi yang terjadi di KRL di Timur itu dilakukan oleh PK Selatan. Nah, ini yang membikin jeda agak terlalu lama karena PK Selatan harus memberitahu kepada Chief, Chief memberitahu kepada PK Timur untuk mengontak masinisnya. Ini yang juga perlu ada perbaikan, Pak,” ujarnya.

Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono saat Rapat Kerja dan RDP dengan Komisi V di DPR RI, Senayan, Kamis (21/5/2026). Foto: YouTube/ TVR Parlemen

KNKT pun meminta adanya pembenahan sistem komunikasi untuk mencegah kecelakaan serupa terulang.

“Iya. Ini ada jeda waktu juga. Jadi di sini salah satu hal untuk menanggulangi kecelakaan ini adalah sistem komunikasi juga harus diperbaikin, Pak,” ucap Soerjanto.

Selain persoalan komunikasi, KNKT juga menyoroti gangguan pada sinyal bantu yang terdistraksi cahaya dari lingkungan sekitar rel, seperti pasar dan perumahan. Kondisi itu disebut membuat masinis dan asisten masinis kesulitan melihat sinyal.

“Pertama, sinyal bantu tadi yang terdistraksi dengan lampu-lampu sekitarnya. Kalau masinis bisa melihat sinyal bantu dengan baik, itu juga jaraknya sekitar dari tabrakan itu dari dengan penampakan 200 meter di muka sinyal bantu itu juga bisa membantu menghindari kecelakaan tersebut. Tapi karena ada distraction, maka si masinis dan asisten masinis tidak bisa melihat dan artinya di sini ada gangguan di sinyal UB tadi, Pak,” kata dia.

Soerjanto juga mengungkap adanya masalah pada sistem sinyal di Bekasi yang tidak bisa mendeteksi keberadaan rangkaian KRL di Bekasi Timur saat insiden terjadi.

“Jadi salah satu penyebabnya adalah selain tadi ada beberapa masalah sinyal di Bekasi yang tidak bisa mendeteksi adanya 5568 di Bekasi Timur, itu juga ada satu kondisi yang unsafe condition di kondisi itu, Pak. Selain itu juga ada gangguan distraksi sinyal ulang yang ada lampu-lampu dari sekitarnya pasar dan perumahan di sekitar sinyal tersebut. Yang ketiga adalah masalah komunikasi, Pak,” tutur dia.

Kondisi taksi online yang terlibat kecelakaan dengan KRL Commuterline di Bekasi Timur, Senin (27/4/2026). Foto: Sena Pratama/kumparan

Adapun kecelakaan bermula dari sebuah Taksi Green SM tertabrak KRL dari arah Cikarang menuju Jakarta di perlintasan sebidang dekat Stasiun Bekasi Timur.

Akibat kecelakaan itu, KRL yang ditabrak KA Argo Bromo harus berhenti di Stasiun Bekasi Timur. Akibatnya, 16 orang perempuan meninggal dunia.