Komunitas Borneo Kenalkan Budaya Kalimantan di CFD Thamrin

8 April 2018 9:10 WIB
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Alat musik suku dayak di CFD Bundaran HI (Foto:  Mirsan Simamora/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Alat musik suku dayak di CFD Bundaran HI (Foto: Mirsan Simamora/kumparan)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Car Free Day (CFD) atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor di Bundaran Hotel Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tempat berolahraga. Selain itu, ada pula yang memanfaatkan sebagai tempat menunjukkan seni dan budaya dari daerah tertentu.
ADVERTISEMENT
Seperti yang dilakukan oleh sebuah komunitas bernama Borneo, yang anggotanya berjumlah 7 orang. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Kalimantan. Mereka datang ke CFD dengan mengenakan baju khas dari berbagai daerah di Kalimantan.
Pakaian adat Suku Dayak di CFD Bundaran HI. (Foto: Mirsan Simamora/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pakaian adat Suku Dayak di CFD Bundaran HI. (Foto: Mirsan Simamora/kumparan)
Pantauan kumparan (kumparan.com) di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (8/4), aksi komunitas Borneo ini banyak memikat warga yang hadir di CFD Bundaran HI. Warga asik berfoto bersama anggota komunitas yang mengenakan pakaian adat suku Dayak.
“Asli dari Kalimantan. Ada Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur. Kami sudah satu bulan di Jakarta bersama teman-teman,” kata Tedi salah satu anggota, yang baru satu bulan tinggal di Jakarta.
Saat datang ke CFD, Komunitas Borneo mengenakan pakaian adat beberapa daerah di Kalimantan. Pakaian yang dikenakan merupakan buatan tangan yang sudah dimodifikasi.
ADVERTISEMENT
“Ini hasil modifikasi kita, ada pembuatannya nggak bisa diprediksi berapa lama,” lanjut dia.
Pakaian adat Suku Dayak di CFD Bundaran HI. (Foto: Mirsan Simamora/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pakaian adat Suku Dayak di CFD Bundaran HI. (Foto: Mirsan Simamora/kumparan)
Tedi menegaskan tujuan Komunitas Borneo memakai baju daerah dari Kalimantan adalah untuk memperkenalkan budaya, khususnya Dayak ke masyarakat luas.
“Kita berharap bisa mengenalkan budaya kita pasa masyarakat Jakarta khusunya,” ucap Tedi.
Tak hanya memakai baju daerah saja, Tedi dan kawan-kawan juga membawa alat musik senar dan gendang. Selama CFD mereka memainkan musik-musik tradisional Kalimantan.
“Itu sebagai penghibur yang nadanya khas dari Kalimantan,” tuturnya.