Komunitas Urban Kian Marak: Bertemu Strangers, Berbagi Cerita, Mengusir Kesepian

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Komunitas The Supper Book Cult. Foto: Instagram/@thesupperbookcult
zoom-in-whitePerbesar
Komunitas The Supper Book Cult. Foto: Instagram/@thesupperbookcult

Di tengah padatnya rutinitas perkotaan, komunitas urban berbasis minat spesifik (niche) kian menjamur. Salah satunya adalah komunitas membaca buku The Supper Book Cult atau TSBC (@thesupperbookcult di Instagram).

Komunitas ini menjadi tempat berkumpul bagi anak muda berusia 20 hingga awal 30-an untuk bertemu strangers (orang asing), berbagi cerita, hingga menjalin pertemanan baru. Bagi banyak anggotanya, TSBC juga menjadi ruang sejenak untuk keluar dari rutinitas pekerjaan yang monoton dan mencari pengalaman baru.

"Aku sempat ngobrol sama beberapa anak-anak book club juga. Mereka merasa komunitas bukuku seperti ekstrakurikuler atau ekskul saat kegiatan sekolah. Banyak orang kantoran biasanya cuma pulang, terus kantor, pulang, kantor gitu kan. Mereka merasa komunitas buku ini jadi kegiatan lain seperti ekskul yang bisa diikuti di luar pekerjaan untuk sekadar share interest (membagikan ketertarikan) yang sama," jelas founder The Supper Book Club, Tazkia, kepada kumparan, Selasa (22/7).

Founder Komunitas The Supper Book Cult. Foto: Instagram/@thesupperbookcult

Menurut Tazkia, aktivitas membaca juga sering kali dikaitkan dengan lonely activity (aktivitas kesendirian). Komunitas ini muncul justru sebagai wadah agar membaca tak lagi menjadi aktivitas yang sepi dan membosankan.

"Kita gathering gitu, ngobrol-ngobrol, lama-lama kayak kebanyakan memang orang-orang tuh merasa reading is a lonely activity kan ya walaupun itu sudah jadi hobi. Jadi setelah baca biasanya orang-orang mau ngobrolin isi bukunya apa atau kayak just sharing interest kita gitu," kata Tazkia.

The Supper Book Cult terbentuk sejak Januari 2022. Awalnya, ide ini muncul ketika Tazkia mulai aktif ikut book club secara daring selama pandemi. Pada 2023, orang-orang mulai kembali melakukan perkumpulan komunitas buku secara offline.

Komunitas The Supper Book Cult. Foto: Instagram/@thesupperbookcult

Tazkia juga mengajak temannya untuk melakukan aktivitas membaca buku bersama. Namun, ia berpikir aktivitas bersama temannya itu lama kelamaan membosankan dan terjebak hanya pada satu pemikiran saja.

"Awalnya. Kita baca buku yang sama aja gitu bareng temen, terus lama-lama ada ide 'kita bikin ramean yuk?' kalau berdua atau bertiga point of view-nya itu-itu aja gitu. And that's why Januari 2022, kayak ada artikel di New York Times soal Reading Party. Jadi basically orang datang ke suatu tempat, kayak bar atau coffee shop, terus they just like duduk dan silent reading gitu. Nah, kita pengennya kayak bikin silent reading party gitu awalnya," jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, The Supper Book Cult mengkonsepkan komunitasnya sebagai komunitas reading party (pesta membaca) dan book party (pesta buku).

"Lama-lama kayak reading party gitu atau book party. Jadi, lama-lama berkembang, acaranya nggak cuma silent reading (membaca diam-diam) saja, tapi lebih ke book party. Jadi kita ada temanya, tapi kita bring books (bawa buku) sebagai ideation (ide) untuk the discussion (diskusi) gitu. Mostly kita bahas juga isu-isu yang lagi ramai," tegas Tazkia.

Komunitas The Supper Book Cult. Foto: Instagram/@thesupperbookcult

Salah satu tema yang pernah dibahas TSBC adalah banned books (buku-buku yang pernah dilarang). Mereka membawa dan membaca buku-buku yang pernah dilarang dari berbagai belahan negara. Kemudian, mereka membahas masing-masing intisari dari buku tersebut. Tak hanya itu, partisipan juga saling mengutarakan keresahannya dalam segi politik maupun kehidupan ekonomi.

Sementara itu, ada lagi komunitas urban lain yang tak kalah spesifiknya. Tak hanya berdasarkan pada lingkaran minat yang sama (niche), tetapi juga dipilih atas pengalaman hidup yang sama. Komunitas itu adalah Kata Nona (@berkatanona di Instagram).

Awalnya, komunitas ini terbentuk atas dasar pengalaman pribadi yang sama antara founder dan co-founder. Aya Canina sebagai founder, Milla Christia dan Sasha Trisha sebagai co-founder. Komunitas ini didirikan pada Maret 2024 yang bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional.

Komunitas Kata Nona. Foto: Instagram/@berkatanona

Bukan tanpa alasan, komunitas Kata Nona memang dibentuk sebagai ruang aman bagi perempuan untuk berdiskusi, saling mendengar, dan saling menguatkan. Kata Nona pun punya slogan yang mereka dengungkan sebagai semangat #sisterhood.

Aktivitas perkumpulan kelompoknya pun beragam. Fokusnya membahas isu-isu perempuan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari persoalan sosial, ekonomi, kesehatan hingga pemberdayaan diri.

"Jadi biasanya dalam dalam diskusi, itu biasanya akan ada formulir dulu nih. Kita bakal bikin poster, kita bikin form pendaftaran. Nah, di dalam form itu biasanya akan ada juga satu pertanyaan pemantik yang sudah diisi sama peserta. Nah, nanti pada saat diskusi, pertanyaan pemantik itu akan kita bawa, kita olah, dan jawaban-jawabannya akan kita pakai untuk mengolah pertanyaan-pertanyaan pemantik lainnya di sesi diskusi, gitu," jelas Sasha kepada kumparan, Selasa (22/7).

Sasha juga menjelaskan semua pengurus juga terlibat dalam menyiapkan bahan bacaan untuk keperluan diskusi.

"Nah, di sela-sela itu pasti kita juga menyiapkan bahan bacaan. Gitu, jadi biasanya kita diskusi. Aku, Aya, dan Kak Amel selalu diskusi dan sharing bahan bacaan, seperti jurnal atau artikel, yang relate sama isu atau topik yang lagi dibawa. Atau biasanya kita juga cari kasus-kasus yang lagi viral, misalkan, kita bahas bareng-bareng," katanya.

Komunitas Kata Nona. Foto: Instagram/@berkatanona

Biasanya, satu kali perkumpulan di komunitas Kota Nona terdapat 8 sampai 10 orang yang bergabung. Usia para perempuan yang ikut dalam komunitas ini pun beragam, mulai dari 21 tahun hingga 40 tahun.

Uniknya, komunitas Kata Nona ini juga memberikan semacam rules (aturan) kepada perempuan-perempuan yang ingin bergabung. Mereka bisa memilih perannya, terlibat dalam cerita, ataupun hadir hanya untuk mendengar/menyimak sepanjang diskusi.

Menurut Sasha, tujuan mereka bergabung dalam komunitas Kata Nona pun bermacam-macam. Mulai dari hadir karena memiliki pengalaman yang sama dengan isu yang sedang dibahas, butuh insight (wawasan) baru, hingga sekadar cari teman.

"Jadi memang ada di acara diskusi bertema khusus, ada yang datang karena punya pengalaman yang sama. Tapi ada di tema-tema yang lebih umum atau cuma di workshop itu, ada yang datang hanya untuk mencari teman. Mereka ingin ikut kegiatan baru dan butuh refreshing, atau bahkan berusaha mencari teman untuk bisa dibantu keluar dari hubungan berkekerasan," jelas Sasha

Komunitas Kata Nona. Foto: Instagram/@berkatanona

"Terus ada juga yang memang dia butuh insight. Waktu itu pernah ada ibu rumah tangga yang juga merupakan ibu pekerja, gitu. Dan dia tuh butuh insight dari orang-orang lain yang juga sesama perempuan pekerja," tambahnya.

Sasha juga menyebut beberapa isu pemantik diskusi dan aktivitas yang pernah dilakukan komunitas Kata Nona.

"Waktu itu diskusi kita pernah mengenai rahim, judulnya adalah Jika Rahim Bisa Bicara. Jadi ngomongin soal bagaimana perempuan itu diekspektasikan karena rahimnya. Terus, "Merespons Tubuh Melalui Puisi", ini workshop. Jadi kita merespons trauma-trauma di tubuh kita dengan puisi," kata Sasha.

Selain diskusi, Kata Nona juga melakukan aktivitas yang lebih menyenangkan dan ringan, seperti coloring (mewarnai), menulis puisi, hingga journaling (menulis jurnal).

"Kemudian, ada juga workshop coloring bareng sama kolaborator kita. Nah, itu ngomongin soal trauma anak di dalam diri kita, trauma masa lalu, trauma masa kecil. Kita juga pernah saling sharing beban-beban anak pertama, gitu. Bahas juga relasi ibu dan anak dan sebagainya," sambungnya.

Mereka yang Kesepian di Era Digital

Akademisi UI dan ahli budaya populer, Dr. Shuri Mariasih Gietty. Foto: Dok. Pribadi

Pakar budaya populer FIB UI, Dr. Shuri Mariasih Gietty, menjelaskan orang yang merasa kesepian itu bukan berarti tidak memiliki teman, tetapi hubungan sosial yang lebih bermakna tidak ada.

"Menurut saya, isu kesepian semakin sering dibicarakan karena ada perbedaan mendasar antara banyaknya koneksi digital dan kualitas hubungan sosial yang sebenarnya dibutuhkan manusia. Kesepian bukan berarti seseorang tidak punya teman, tetapi muncul karena kebutuhan hubungan sosial yang bermakna tidak terpenuhi," jelas Gietty kepada kumparan, Kamis (23/7).

Era pertemanan digital juga menjadi persoalan sendiri bagi Ghietty. Sebab, kata dia, jaringan pertemanan di media sosial sering kali terasa dangkal atau tidak berarti.

"Sekarang banyak orang punya jaringan pertemanan yang sangat luas di media sosial, tetapi hubungan tersebut sering kali terasa dangkal dan tidak memberikan dukungan emosional yang dibutuhkan. Akhirnya bisa merasa kesepian meskipun selalu terhubung dengan banyak orang," sambungnya.

Ilustrasi wanita makan mie sambil screen time. Foto: PBXStudio/Shutterstock

Gietty juga menegaskan isolasi emosional hingga merasa kesepian yang terjadi akibat konektivitas melalui ruang digital dilihat sebagai sesuatu yang lebih kompleks.

"Dalam perspektif cultural studies, paradoks antara konektivitas digital yang masif dan isolasi emosional tidak dilihat sebagai fenomena hitam-putih, melainkan sebagai sebuah kondisi kompleks. Dunia digital dan dunia nyata tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling terhubung dan membentuk cara kita berinteraksi sehari-hari," jelas Ghietty.

Fenomena semakin menjamurnya komunitas niche untuk bisa terhubung dengan orang-orang asing ini, menurutnya, justru menjadi perubahan cara manusia dalam membangun relasi.

"Karena itu, fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai perubahan cara manusia membangun relasi, bukan semata-mata krisis hubungan sosial. Saat ini, orang tidak lagi hanya membangun hubungan berdasarkan kedekatan geografis, seperti keluarga atau tetangga, tetapi juga melalui berbagai jaringan yang dipilih sesuai minat atau kebutuhan (networked individualism," sambungnya.

Anggota komunitas Teman Sharing Beroda beraktivitas di Taman Menteng, Jakarta, Selasa (30/6/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Menurut Ghietty, seseorang bergabung dengan komunitas niche karena komunitas tersebut mampu memenuhi kebutuhan sosial dan emosional yang belum tentu mereka dapatkan di lingkungan sekitarnya.

Selain menjadi tempat mencari dukungan, lanjutnya, komunitas juga berfungsi sebagai ruang untuk membangun identitas. Di sana, seseorang dapat dikenal sebagai penulis, fotografer, pelari, gamer, atau penggemar suatu bidang tertentu. Mereka pun, kata dia, merasa lebih dipahami dan diterima karena bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat serta pengalaman yang serupa.

"Seseorang bergabung dengan komunitas biasanya karena komunitas tersebut memenuhi kebutuhan sosial dan emosional yang mungkin tidak mereka dapatkan di lingkungan sekitarnya. Pertama, komunitas memberikan rasa memiliki (sense of belonging) sehingga seseorang tidak merasa sendirian. Komunitas juga bisa menjadi tempat mencari dukungan, baik secara emosional maupun praktis, misalnya berbagi pengalaman atau informasi," jelasnya.