Konflik Azerbaijan-Armenia Tewaskan Warga Sipil

Armenia mengumumkan darurat militer pada Minggu (27/9) setelah terjadi baku tembak dengan Azerbaijan di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh.
Mengutip Reuters, akibat pertempuran tersebut sejumlah korban sipil dilaporkan tewas, meskipun jumlah korban belum diketahui secara pasti.
Pihak Armenia mengatakan Azerbaijan (Azeri) telah melakukan serangan udara di Nagorno-Karabakh, sementara Azerbaijan mengatakan serangan itu sebagai balasan setelah pasukan Armenia menembaki militer Azeri.
Sementara itu Kementerian Luar Negeri Rusia yang menjadi penengah dalam beberapa dekade konflik antara Armenia dan Azerbaijan, mendesak kedua belah pihak untuk segera melakukan gencatan senjata.
Kementerian Pertahanan Armenia mengatakan pasukannya telah menghancurkan 3 tank, menembak jatuh 2 helikopter dan tiga drone sebagai tanggapan atas serangan terhadap sasaran sipil termasuk ibu kota regional Stepanakert.
"Kami tetap kuat di samping tentara kami untuk melindungi tanah air kami dari invasi Azeri," tulis Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, di akun Twitternya.
Di sisi lain, Azerbaijan membantah pernyataan Kementerian Pertahanan Armenia, dan mengatakan bahwa pihaknya memiliki keunggulan penuh atas musuh di garis depan.
Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengatakan Armenia telah menyerang permukiman sipil dan posisi militer di sepanjang "garis kontak".
"Kami mempertahankan wilayah kami, tujuan kami benar!" Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev dalam pidatonya.
Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengatakan beberapa warga sipil telah terbunuh sebagai akibat dari penembakan intensif oleh Armenia, dan Azerbaijan telah mengambil tindakan pembalasan.
Armenia dan Azerbaijan adalah dua negara pecahan Uni Soviet yang dikenal sebagai musuh bebuyutan.
Konflik berkepanjangan terjadi akibat sengketa wilayah Nagorno-Karabakh.
Sedikitnya 200 orang tewas dalam gejolak konflik antara Armenia dan Azerbaijan pada April 2016. Sementara dalam bentrokan pada Juli lalu mengakibatkan 16 orang tewas.
