Konsep Smart City ala Guru Besar ITB

Pertumbuhan penduduk di kota-kota besar yang cepat di satu sisi menciptakan beragam permasalahan. Dibutuhkan solusi-solusi yang inovatif untuk memecahkan permasalahan tersebut.
Guru besar Institut Teknologi Bandung, Profesor Suhono Harso Supangkat, membahas upaya pemecahan masalah kota-kota modern melalui konsep Smart City pada Selasa (12/9). Dia memberikan penjelasan konsep Smart City itu di acara seminar dan workshop yang merupakan hasil kerja sama ITB dengan Jakarta Smart City dan University of Technology Sydney.
Menurut Suhono, definisi Smart City adalah kota yang dapat mengelola semua sumber daya secara efektif dan efisien dalam menyelesaikan berbagai tantangan, menggunakan solusi inovatif, terintegrasi dan berkelanjutan.
"Pengelolaan tersebut semata-mata untuk meningkatkan kualitas hidup warga kota. Dari definisi tersebut, ciri solusi dalam Smart City yaitu berupa pemikiran-pemikiran baru, terintegrasi, antar lembaga pemerintah hingga lembaga non-pemerintah, responsif terhadap persoalan kota," kata dia dalam siaran pers ITB.

Konsep Smart City yang dipaparkan oleh Suhono meliputi tiga aspek yakni smart economy, smart society dan smart environment. Smart economy meliputi pengembangan industri, usaha kecil dan menengah, turisme, hingga perbankan. Smart society meliputi pengembangan kesehatan, pendidikan, layanan publik dan keamanan. Kemudian, smart environment meliputi sektor energi, pengelolaan air, lahan dan udara, pengolahan limbah dan manajemen tata ruang.
Namun, menurutnya, aspek-aspek ini dapat tercapai apabila terjadi hubungan yang baik antara tiga komponen. Ketiganya adalah resources, enabler dan process. Resources merupakan sesuatu yang tersedia dan dapat digunakan oleh kota tersebut. Lalu, enabler adalah teknik atau metode yang memungkinkan diterapkan. Sedangkan process adalah inisiatif atau kegiatan yang dilakukan oleh enabler.
Kunci keberhasilan Smart City, menurut Suhono adalah penerapan seluruh komponen secara holistik. Namun, komponen yang paling penting untuk mengakselerasi penerapan Smart City tidak hanya terletak pada smart infrastruktur, melainkan juga pada warga dan pemerintah kota. Lebih lanjut, Suhono menegaskan bahwa infrastruktur, warga, dan pemerintah kota merupakan enabler yang perlu ditonjolkan.
Sebab, menurutnya tidak sedikit kota yang terjebak hanya mengembangkan teknologi namun mengabaikan enabler dann edukasi kepada masyarakat. Dia mencontohkan, sebuah kota yang sudah memiliki Command Center tetapi tetap saja kemacetan masih terjadi.

Dalam penerapan Smart City ini, kata Suhono, diperlukan adanya forum komunikasi sejenis Dewan Smart City yang terdiri dari pemerintah dan masyarakat. Dewan ini bertugas mengkoordinasi komponen kota agar target proyek Smart City tercapai.
"Setelah mengoptimalkan seluruh komponen kota dan mengeksekusi proyek-proyek yang dibuat, maka diperlukan suatu metode untuk mengukur pencapaian Smart City. Setidaknya terdapat dua indikator utama yakni indikator kualitas hidup dan indikator tingkat kematangan pengembangan Smart City," kata Suhono.
Pada akhirnya, kata dia, konsep Smart City mengajarkan bahwa setiap orang memiliki perannya masing-masing untuk mengusahakan kepentingan bersama. Sebuah kemajuan yang signifikan tidak akan tercapai selama pihak-pihak terkait masih saling menyalahkan.
"Saat ini ITB dan MetroTV sedang bekerja sama untuk menilai kecerdasan pemerintah kota dalam melayani warga. Penilaian ini akan diumumkan di bulan Oktober mendatang," ujar Suhono.
