Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi Penopang Pertumbuhan Ekonomi 2018

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Sri Mulyani di Komisi XI DPR. (Foto: Edy Sofyan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Sri Mulyani di Komisi XI DPR. (Foto: Edy Sofyan/kumparan)

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada tahun depan mencapai 5,4 hingga 6,1 persen. Angka itu lebih tinggi dibandingkan target pemerintah dalam APBN 2017 yang mencapai 5,1 persen.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan berbagai strategi akan dilakukan untuk mencapai target tersebut. Antara lain meningkatkan seluruh sumber pertumbuhan seperti konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor, dan belanja produktif.

[Baca juga: Bank Dunia Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 5,3 Persen Pada 2018]

"Konsumsi rumah tangga dijaga di kisaran 5,4 persen, hal ini dilakukan nelalui kesempatan kerja, menjaga inflasi yang lebih rendah, dan dukungan belanja sosial," kata Sri Mulyani di Ruang Rapat Paripurna, DPR RI, Jakarta, Selasa (6/6).

Sementara itu, nilai investasi diproyeksikan tumbuh 8 persen pada tahun depan sejalan dengan keberlanjutan belanja infrastruktur pemerintah. Pemerintah, kata Sri Mulyani, juga terus mengoptimalisasikan sumber pembiayaan investasi di luar APBN.

[Baca juga: Sri Mulyani Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 2017 Mencapai 5,3 Persen]

"Peningkatan peringkat rating lndonesia menjadi Investment Grade oleh Standard & Poor's (S&P) diharapkan memperbaiki kepercayaan swasta dan meningkatkan aliran modal masuk ke indonesia," katanya.

Menurut Sri Mulyani, dengan peningkatan investasi maka kapasitas produksi diharapkan terus meningkat dan lapangan kerja baru dapat diciptakan.

[Baca juga: RI Butuh Pertumbuhan Ekonomi 7-10 Persen Agar Rakyat Sejahtera]

Selain itu, pemerintah juga akan mendorong perbaikan pertumbuhan ekonomi global, ekspor produk manufaktur yang kompetitif, dan komoditas sumber daya alam yang bernilai tambah serta perluasan pasar.

Sehingga, perbaikan produktivitas baik dari sisi sistem logistik, infrastruktur, regulasi yang sederhana, dan kualitas manusia akan menjadi fokus pemerintah.

"Industrialisasi bernilai tambah tinggi harus diupayakan dengan memanfaatkan teknologi dan efisiensi dengan bertumpu pada sektor pertanian yang makin produktif dan efisien, serta pengembangan industri hulu dan berbasis sumber daya alam, khususnya agro industri," katanya.