Korsel Ingin Perbaiki Hubungan dengan Korut, Adik Kim Jong-un Tak Tertarik
ยทwaktu baca 2 menit

Adik Kim Jong-un sekaligus pejabat tinggi Partai Buruh Korut, Kim Yo-jong, menyatakan negaranya tidak tertarik untuk berdialog dengan Korsel.
Sejak Presiden Lee Jae-myung terpilih pada pilpres Juni lalu, dia menegaskan komitmennya untuk memperbaiki hubungan dengan Korut. Beberapa kebijakan diambil pemerintahan Lee, di antaranya menghentikan siaran propaganda melalui pengeras suara di sepanjang perbatasan.
Korut juga telah menghentikan siaran propagandanya -- menyiarkan suara aneh dan mengerikan ke wilayah Korsel.
Meski demikian, Kim Yo-jong mengatakan langkah itu bukan berarti Korsel mengharapkan mencairkan hubungan kedua negara cair.
"Jika Korsel berharap dapat membalikkan semua hasil yang telah dicapainya dengan beberapa kata sentimental, tidak ada kesalahan perhitungan yang lebih serius dari itu," kata Kim Yo-jong dalam keterangan yang disiarkan oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), dikutip dari AFP, Senin (28/7).
"Kami sekali lagi menegaskan pendirian resmi bahwa apa pun kebijakan yang diadopsi dan apa pun proposal yang diajukan di Seoul, kami tidak tertarik dan tidak ada alasan untuk bertemu atau membahas masalah itu dengan Korsel," lanjutnya.
"Hubungan Korut-Korsel telah melampaui konsep zona waktu homogen," katanya lagi.
Pernyataan Kim Yo-jong itu dibalas oleh pemerintah Korsel. Juru bicara Kementerian Unifikasi, Koo Byung-sam, mengatakan pernyataan Korut kembali menegaskan tingginya ketidakpercayaan dua Korea akibat kebijakan permusuhan selama bertahun-tahun.
"Kami menganggap ini sebagai sinyal bahwa Korut sedang memantau secara ketat kebijakan Korut pemerintahan Lee," kata Koo dalam konferensi pers.
Sementara itu, analis senior dari Korea Institute for National Unification, Hong Min, menilai pernyataan Kim Yo-jong menggarisbawahi sikap anti-Korsel yang sudah mengakar.
"Pernyataan itu mendeklarasikan bahwa persepsi permusuhannya terhadap Korsel tidak dapat diubah," katanya.
Kedua Korea secara teknis masih berperang. Perang Korea pada 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Sekutu keamanan utama Korsel, AS, tetap menempatkan sekitar 28 ribu pasukannya untuk membantu Korsel mempertahankan diri dari Korut yang bersenjata nuklir.
