Kriya Nusa 2026 Digelar 26-30 September: Dihadiri 257 Peserta, Siapkan 410 Booth

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian bersama jajaran pengurus menyampaikan keterangan pers Pameran Kerajinan Nusantara (Kriya Nusa) 2026 di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Jumat (18/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian bersama jajaran pengurus menyampaikan keterangan pers Pameran Kerajinan Nusantara (Kriya Nusa) 2026 di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Jumat (18/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) menyiapkan Pameran Kerajinan Nusantara atau Kriya Nusa 2026 yang akan digelar pada 26-30 September 2026. Pameran tersebut akan diikuti 257 peserta dengan 410 booth yang disiapkan di JHCC.

Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian mengatakan persiapan Kriya Nusa 2026 telah mencapai hampir 100 persen.

“Tahun ini Kriya Nusa 2026 akan diselenggarakan tanggal 26 sampai 30 September di mana persiapan kita hampir 100% sudah bisa dibilang siap,” kata Tri dalam konferensi pers menuju Kriya Nusa 2026 di Gedung Komdigi, Jakarta Pusat, Jumat (18/9).

Tri mengatakan Kriya Nusa 2025 ditunda karena adanya force majeure berupa kerusuhan. Penundaan tersebut membuat persiapan penyelenggaraan tahun ini menjadi lebih matang, termasuk dari sisi peserta, ikon pameran, promosi, panitia, hingga persiapan pembukaan.

“Karena harusnya tahun 2025 kami menyelenggarakan, tapi karena ada force majeure di mana ada kerusuhan saat itu, sehingga kegiatan Kriya Nusa 2025 diundur 2026 ini. Sehingga kesiapannya sebenarnya jauh lebih matang, yaitu penyiapan peserta, kemudian segala sesuatu ikon juga,” ujarnya.

Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian bersama jajaran pengurus menyampaikan keterangan pers Pameran Kerajinan Nusantara (Kriya Nusa) 2026 di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Jumat (18/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Ketua Panitia Pelaksana Kriya Nusa 2026 Ayu Heni Rosan mengatakan peserta pameran berasal dari berbagai unsur, mulai dari Dekranasda provinsi, kabupaten, dan kota, kementerian dan lembaga, peserta umum, yayasan, hingga sektor kuliner.

“Insyaallah peserta yang diikuti ada 257 peserta dengan booth yang kami sediakan ada 410. Dan pesertanya cukup beragam ya, tadi saya sebutkan tadi, ada dari lembaga atau kementerian dan lembaga, Dekranasda provinsi, kabupaten, kota, umum, dan ada dari yayasan juga, serta kuliner,” kata Ayu.

Dia menambahkan panitia juga telah melakukan kurasi terhadap produk-produk yang akan ditampilkan dalam pameran.

“Dan sebelumnya juga persiapan tidak hanya terkait dengan tempat, yang insyaallah akan diadakan di JHCC tanggal 26 sampai 30 September ini, tetapi juga kita sudah melakukan kurasi dengan berbagai, produk-produk yang akan dipersiapkan di sana,” ungkapnya.

Sumsel Jadi Ikon Kriya Nusa 2026

Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian bersama jajaran pengurus menyampaikan keterangan pers Pameran Kerajinan Nusantara (Kriya Nusa) 2026 di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Jumat (18/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Dalam Kriya Nusa 2026, Sumatera Selatan dipilih menjadi ikon pameran. Tri mengatakan produk-produk dari Sumsel akan mendapat porsi lebih banyak dalam penyelenggaraan tahun ini. Desain pameran juga akan menekankan budaya Sumatera Selatan.

“Sumsel akan menjadi ikon, di mana produk-produk Sumsel ini akan lebih banyak ada di sini, dan juga desain dari Kriya Nusa ini kita tekankan pada budaya Sumatera Selatan,” kata Tri.

Ketua Dekranasda Provinsi Sumatera Selatan Febrita Lustia Herman Deru mengatakan pihaknya telah menyiapkan perajin dari 17 kabupaten/kota di Sumsel untuk mengikuti pameran tersebut.

“Kami memboyong perajin-perajin terbaik dari 17 kabupaten/kota se-Sumatera Selatan,” kata Febrita.

Berbagai produk kerajinan khas Sumsel akan ditampilkan dalam Kriya Nusa 2026, mulai dari Songket Palembang, kain jumputan, kriya ukir kayu khas Palembang, hingga kerajinan anyaman dan gerabah.

“Kami akan menampilkan berbagai warstra adati seperti Songket Palembang, Kain Jumputan, Kriya Ukir Kayu Khas Palembang, serta kerajinan anyaman dan gerabah. Kami juga menyiapkan pertunjukan seni budaya terbaik untuk mengisi Panggung Utama,” tutur dia.

Konsep Sumatera Selatan juga akan dibawa ke panggung utama. Penanggung Jawab Acara Panggung Utama Kriya Nusa 2026 Evi Agus Andrianto mengatakan konsep tersebut mengangkat kekayaan budaya, kriya, dan warisan budaya Sumsel.

“Konsep utama dari Kriya Nusa 2026 tahun ini sesuai dengan pakaian yang kami gunakan, ini pesona Sumatera Selatan. Di mana kaya akan budaya, kaya akan kriya, dan warisan dan warisan budayanya menjadi inspirasi utama untuk konsep tahun ini,” kata Evi.

Menurut Evi, unsur tradisional Sumsel akan dipadukan dengan konsep kontemporer dan modern pada visualisasi panggung.

“Dan juga nanti untuk visualisasi dari arsitekturnya juga menggambarkan tradisional dengan ada Bunga Pacik. Bunga Pacik ini adalah satu bunga tradisional di Sumatera Selatan. Nanti dikonsep kontemporer dan modern,” kata dia.

Ada Instalasi Digital Imersif

Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian bersama jajaran pengurus menyampaikan keterangan pers Pameran Kerajinan Nusantara (Kriya Nusa) 2026 di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Jumat (18/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Selain menampilkan produk kriya dari berbagai daerah, Kriya Nusa 2026 juga menyiapkan instalasi digital imersif sebagai salah satu hal baru dalam pameran tahun ini.

Tri mengatakan instalasi tersebut disiapkan untuk memberikan pengalaman interaktif kepada pengunjung. Konsep tersebut disebut terinspirasi dari stan Indonesia dalam World Expo Osaka.

“Tayangan digital ya, immersive digital, di mana di sana para pengunjung bisa mempunyai pengalaman yang menarik karena ini memang di eranya digital,” kata Tri.

Dia menjelaskan instalasi tersebut memungkinkan pengunjung berinteraksi dengan tampilan digital melalui sentuhan maupun wajah.

“Di sana kita bisa memasuki ruangan dengan suasana yang menyatu dengan pengunjung, di mana dengan sentuhan-sentuhan tangan ataupun nanti dengan apa, wajah kita, itu akan nanti ditampilkan secara digital,” ungkapnya.

Tri menjelaskan konsep instalasi digital Kriya Nusa 2026 berbeda dari instalasi yang ada di World Expo Osaka. Instalasi tersebut akan berfokus pada unsur-unsur kriya dan ditujukan antara lain untuk mengenalkan kerajinan kepada generasi muda.

“Untuk digital imersif, temanya beda. Jadi karena ini kerajinan, khusus tentang yang terdiri dari apa 8 unsur yaitu dari kayu, logam, kemudian serat, dan lain-lain, nah kita tanamkan fokus kepada kerajinan yang dari sumber 8 sumber tersebut,” kata Tri.

Dia mengatakan pengunjung nantinya dapat melakukan sejumlah aktivitas secara digital.

“Jadi sebetulnya ini apa memang menarik ya, karena kita ingin menarik ke pasar anak muda yang pastinya mereka dengan apa pertunjukan digital ini tentunya bisa lebih mengenal dengan baik karena mereka bisa praktik melukis secara digital, kemudian menampilkan dirinya mereka pantesnya pakai baju pakai kain asal dari mana, kemudian mereka melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kerajinan ini melalui cara digital,” jelasnya.

Selain instalasi digital, panggung utama akan diisi berbagai kegiatan, mulai dari seremoni pembukaan, tarian, fashion show, talkshow, hiburan musik, hingga lokakarya.

“Rangkaian acara sudah pasti pertama ada seremoni, disambut dengan tarian, Tarian Gending. Tarian Gending ini adalah tarian ciri khas sambutan kalau untuk di Sumatera Selatan,” katanya.

Fashion show juga akan mengangkat kain songket Sumatera Selatan. Evi mengatakan kegiatan tersebut melibatkan pengurus Dekranas, OASE Kabinet Indonesia Maju, Dekranasda Sumatera Selatan, serta desainer muda dari Sumsel.

“Dan ada juga ada fashion show, fashion show tapi menggunakan kain songket dari Sumatera Selatan. Karena tadi temanya Sumatera Selatan, jadi kami juga mengangkat kain-kain songket dari Sumatera Selatan,” kata Evi.

Selain itu, terdapat lokakarya pembuatan perhiasan, pelatihan ecoprint, tata rias, dan fashion styling. Panitia juga menyiapkan lomba peragaan busana kerja wanita berwastra Nusantara serta lomba tari daerah kreasi modern dan lomba band kreasi lagu daerah untuk anak-anak sekolah.

Ayu mengatakan masyarakat tidak hanya dapat melihat produk kerajinan dari berbagai daerah, tetapi juga membeli produk yang ditampilkan dalam pameran.

“Karena menurut saya, kalau kita membeli suatu produk kriya, tidak hanya membeli suatu barang, tetapi kita juga mengapresiasi perajin-perajin kita dengan usaha hengkarnya, dengan tenaganya, dan ciptaan produknya yang diberikan,” kata Ayu.

Tri menambahkan Kriya Nusa tidak hanya ditujukan sebagai tempat pameran, tetapi juga menjadi kesempatan bagi perajin untuk mempromosikan produk dan mendapatkan buyer.

“Harapan kami bahwa para peserta memanfaatkan kesempatan ini untuk menampilkan produk-produk binaan mereka, karena tentu ini salah satu kesempatan untuk promosi mendapatkan buyer,” kata dia.

Dia mengatakan Dekranas juga membuka peluang bagi produk potensial untuk mengikuti pameran lain di dalam maupun luar negeri.

“Kami memberikan kesempatan untuk ikut lomba produk-produk potensial terbaik, karena produk-produk ini akan mendapatkan kesempatan juga mengikuti pameran-pameran tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri,” kata Tri.

Kriya Nusa 2026 mengusung tema “Cinta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia”. Melalui tema tersebut, Tri mengatakan Dekranas ingin mendorong keberlanjutan produk kriya sekaligus memperluas pasar kerajinan Indonesia.

“Cinta Kriya Berkelanjutan Perajin Mendunia kita maksudkan adalah hasil-hasil kerajinan ini harus berkesinambungan, tidak hanya dalam siklus yang satu kali, tapi siklus yang terus-menerus, yang pasti juga memperhatikan aspek lingkungan,” kata Tri.

Tri mengatakan Dekranas juga ingin meningkatkan daya saing produk kerajinan Indonesia agar dapat menjangkau pasar internasional.

“Kami dari Dewan Kerajinan Nasional ingin membantu Dekranasda-Dekranasda di daerah agar juga bersama-sama bisa meningkatkan segala aspek dari produk kerajinan, baik itu dari daya saing, dari kualitas, mutu, kreativitas dan lain-lain bisa ditingkatkan dan tentu saja bekerja sama dengan pemerintah daerah masing-masing,” tutupnya.