Kronologi Penculikan Karyawan Bank: Dari Data Rekening Dormant hingga Eksekusi
ยทwaktu baca 4 menit

Polda Metro Jaya mengungkap kasus penculikan dan pembunuhan pegawai bank, Muhammad Ilham Pradipta (37). Terdapat 15 orang yang ditangkap polisi, dua tersangka ditahan Pomdam Jaya karena merupakan oknum TNI, dan satu tersangka masih buron.
Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Wira Satya Triputra, mengungkapkan motif penculikan yang berujung tewasnya Ilham itu karena rekening dormant. Tersangka menculik Ilham untuk memuluskan rencana memindahkan dana dari rekening dormant.
"Adapun motif para pelaku melakukan perbuatannya yaitu para pelaku ataupun para tersangka berencana untuk melakukan pemindahan uang dari rekening dormant ke rekening penampungan yang telah disiapkan," kata Wira dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Selasa (16/9).
Informasi soal rekening dormant itu dimiliki oleh tersangka berinisial C alias K. Ia kemudian memberitahu tersangka DH alias Dwi Hartono. Rencana penculikan dan tim untuk menculik dibentuk.
Rencana awalnya Ilham diculik dan dibawa ke safe house untuk dipaksa memindahkan uang dari rekening dormant. Selama penculikan Ilham dianiaya oleh pelaku.
Selama penculikan tangan-kakinya diikat dan kepala-mulut korban dilakban. Ia juga mengalami penganiayaan selama perjalanan ke safe house. Kondisi itu membuat Ilham lemas sehingga pelaku membuangnya ke sebuah lapangan di Bekasi. Rencana untuk membobol rekening dormant pun gagal.
Dalam kasus ini para tersangka dijerat penculikan yang berujung kematiaan. "Ancaman hukumannya adalah selama-lamanya 12 tahun," ujar Wira.
Berikut kronologi penculikan tersebut berdasarkan penuturan Kombes Wira:
Juni 2025
Tersangka C alias K bertemu dengan tersangka Dwi Hartono. Ia telah memiliki data rekening dormant di beberapa bank.
"Kemudian saudara C alias K memiliki rencana untuk memindahkan uang dari rekening dormant tersebut ke rekening penampungan yang telah dipersiapkan," tutur Wira.
Menurut Wira, C alias K telah menyiapkan tim IT untuk memuluskan rencana tersebut. Namun ia memerlukan persetujuan atau otoritas dari kepala bank. Maka itu ia mengajak Dwi Hartono untuk mencari kepala cabang atau cabang pembantu bank yang mau diajak kerja sama untuk menjalankan rencana tersebut.
30 Juli 2025
C alias K kembali bertemu dengan Dwi Hartono dan AAN. Ia menyampaikan terkait data rekening dormant di bank BRI. Menurutnya upaya-upaya pendekatan sebelumnya tidak berhasil sehingga ia menawarkan untuk melakukan 2 opsi, yakni memaksa dengan kekerasan dan ancaman kekerasan setelah itu bebaskan. Opsi kedua mengancam korban, bila berhasil korban kemudian akan dibunuh.
31 Juli 2025
C alias K bersama dengan Dwi Hartono, dan AAN kembali bertemu membahas opsi mana yang dipilih.
12 Agustus 2025
C alias K dan Dwi Hartono berkomukasi menalalui WhatsApp. Mereka memutuskan memilih opsi 1: memaksa korban dengan kekerasan setelah itu dilepaskan.
16 Agustus 2025
Tersangka Dwi Hartono mengajak tersangka JP bertemu di kawasan Kota Wisata Cibubur. Ia menanyakan orang yang bisa menculik korban, baik dari sipil maupun aparat.
17 Agustus 2025
Tersangka JP mendatangi rumah tersangka M. Mereka kemudian bertemu dengan Dwi Hartono, JP, AAN untuk membahas penculikan korban.
18 Agustus 2025
Tersangka Dwi Hartono bertemu kembali dengan AAN, JP dan M di wilayah Kota Wisata Cibubur. Dalam pertemuan itu dibagi tugas, Dwi Hartono dan AAN bertugas menyiapkan tim untuk mencari alamat korban.
Kemudian JP menyiapkan tim untuk membantu membuntuti korban yaitu dengan inisial saudara AW serta menyiapkan tim yang akan melakukan penculikan terhadap korban. Sementara M menghubungi tersangka Kopda FH, oknum TNI, untuk menyiapkan tim penculikan.
19 Agustus 2025
FH menghubungi tersangka E untuk bertemu di sekitar Cijantung, Jaktim. Dalam pertemuan itu E mengajak tiga tersangka lain.
FH kemudian menunjukkan foto korban kepada E dan kawan-kawannya. Mereka diminta untuk menjemput paksa korban dan mengantarnya ke tim yang disiapkan tersangka JP.
Nantinya korban akan dibawa oleh tim JP ke sebuah bangunan yang disebut safe house. Di sanalah pelaku akan memaksa korban melakukan pemindahan dana.
20 Agustus 2025
Sekitar pukul 15.30 WIB di parkiran Lotte Mart, Pasar Rebo, Jaktim, korban diculik oleh tim yang disiapkan FH. Korban dibawa masuk ke Avanza putih. Aksi ini terekam CCTV.
Sekitar pukul 21.00 WIB korban dibawa tiba ke wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat. Ia lalu dipindahkan ke mobil Fortuner dan dibawa pergi oleh tim JP.
Tim JP terdiri dari JP, N dan D. N adalah oknum TNI berpangkat Serka.
Rencananya ada tim penjemput yang akan membawa korban ke safe house namun ternyata tim itu tidak kunjung datang sehingga korndisi korban lemas. Korban kemudian dibuang di daerah Cikarang.
21 Agustus 2025
Mayat Ilham ditemukan dengan kondisi tangan dan kaki terikat serta mulut dan kepalanya dilakban.
"Polsek dari Cikarang mendapatkan laporan tentang penemuan mayat dari warga masyarakat sekitar dan selanjutnya dilakukan penanganan dan olah TKP," kata Wira.
