Kronologi Perjalanan WNA di Jakarta Kontak Erat Hantavirus di Kapal MV Hondius
·waktu baca 6 menit

Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, membeberkan kronologi perjalanan seorang warga negara asing (WNA) yang berdomisili di Jakarta dan menjadi kontak erat kasus Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius.
WNA berusia 60 tahun itu diketahui sempat berada satu penerbangan dan satu hotel dengan pasien perempuan berusia 69 tahun yang kemudian meninggal akibat infeksi Hantavirus.
“Dan update kasus itu jumlahnya saat ini 6 konfirmasi, 2 probable, dan 3 kematian di antara 8 kasus 6 konfirmasi maupun 2 probable tersebut, ya. Di mana CFR-nya itu 37,5 persen, ya, Case Fatality Rate-nya. Jadi 3 terhadap 8,” jelas Andi dalam konferensi pers daring, Senin (11/5).
Ia mengatakan klaster awal penyakit tersebut pertama kali dilaporkan otoritas kesehatan Inggris pada 2 Mei 2026.
“Pada tanggal 2 Mei 2026, otoritas kesehatan Inggris melaporkan klaster Severe Acute Respiratory Illness atau SARI pada penumpang kapal pesiar MV Hondius dengan penyebab awal tidak diketahui. Kapal membawa total 149 orang yakni 88 penumpang dan 61 awak kapal dari 23 negara ya,” ungkap Andi.
Andi menegaskan tidak ada warga negara Indonesia di dalam kapal tersebut, namun terdapat satu WNA yang berdomisili di Jakarta dan kemudian teridentifikasi sebagai kontak erat.
Berikut kronologi perjalanan WNA tersebut:
18–30 Maret 2026
WNA laki-laki berusia 60 tahun tersebut melakukan perjalanan ke beberapa wilayah di Argentina.
“Beliau ya kami sebut dengan ini laki-laki ya umur 60 tahun WNA ini ya, sebelumnya pada bulan Maret tanggal 18 sampai 30 ya melakukan perjalanan ke beberapa tempat di Argentina ya,” ungkap Andi.
1 April 2026
WNA itu tiba di Ushuaia, Argentina, titik awal keberangkatan kapal pesiar MV Hondius.
“Kemudian tanggal 1 April ya kontak erat ini tiba di Ushuaia Argentina ya, kota di mana kapal cruise Hondius tersebut melakukan perjalanan, memulai perjalanan ya,” katanya.
Pada periode yang sama, kapal MV Hondius mulai berlayar dari Ushuaia menuju sejumlah wilayah.
“Dan kalau kita lihat rute kapal ya, ini kita lihat di sini April sampai Mei ya. Kapal pesiar MV Hondius ini berbendera Belanda ya, memulai rute dari Argentina tepatnya di kota, dia kota turis itu Ushuaia ya. Dan berangkat mulai tanggal 1 April kemudian sampai di tanggal 5-8 April ya itu mampir di South Georgia ya,” ungkapnya.
6 April 2026
Kasus pertama Hantavirus mulai menunjukkan gejala di atas kapal.
11 April 2026
Kasus pertama meninggal di atas kapal.
“Dan pada tanggal 11 April, kasus itu meninggal di kapal dan kemudian kapal terus melanjutkan perjalanannya ke Saint Helena ya,” ungkap Andi.
24 April 2026
WNA itu turun dari kapal MV Hondius di Saint Helena. Di lokasi ini, ia diketahui berada satu hotel dengan kasus kedua, yakni perempuan 69 tahun yang kemudian meninggal. Perempuan itu merupakan istri dari kasus pertama.
“Pada tanggal 24, KE (kontak erat) ini ya turun dari MV Hondius ya, dan terdapat kontak di Saint Helena ya satu penginapan tadi saya sampaikan satu hotel dengan kasus dua,” katanya.
Andi juga mengungkap kontak erat berada satu penerbangan dengan kasus kedua dari Saint Helena menuju Johannesburg, Afrika Selatan.
“Turun di Saint Helena kemudian nanti dia meninggalkan Johannesburg ya. Kontak erat ini berada dalam satu penerbangan dengan kasus kedua dari Saint Helena ke Johannesburg Afrika Selatan ya. Dan ketika turun dari kapal MV Hondius tersebut, mereka tentunya tinggal di hotel dan mereka tinggal juga dalam hotel yang sama karena itu kan kota kecil ya,” kata Andi.
Andi mengatakan posisi duduk kontak erat dengan pasien berada dalam jarak dekat di pesawat.
“Dan dalam perjalanan ke Saint Helena itu menggunakan pesawat yang sama ya, ada dua row di situ ya antaranya dan itu memang seperti demikian yang juga harus dinotifikasi oleh otoritas yang bertanggung jawab,” jelas Andi.
Pada hari yang sama, jenazah kasus pertama dievakuasi dan dimakamkan.
Kemudian, kasus kedua yang merupakan istri dari kasus pertama mulai bergejala dan diterbangkan ke Afrika Selatan.
“Kemudian kasus kedua ini istrinya yang bergejala yang kasus pertama kan sudah meninggal ya. Itu kemudian menggunakan penerbangan ke Afrika Selatan ya untuk dievakuasi ke rumah sakit di Johannesburg di Afrika Selatan dan ternyata pasien ini meninggal di sana ya,” jelas Andi.
26–29 April 2026
WNA itu melanjutkan perjalanan ke Zimbabwe.
“Dan kemudian ya dengan pesawat yang bersangkutan ya, kontak erat ini melakukan penerbangan ke Johannesburg ya Afrika Selatan dan melanjutkan perjalanannya ke Zimbabwe pada tanggal 26-29 ya,” katanya.
27–30 April 2026
Kasus lain di kapal mulai menunjukkan gejala.
“Kemudian tanggal 27 sampai 30 kasus empat, lima, enam, tujuh, delapan itu menunjukkan gejala,” kata Andi.
2 Mei 2026
Kasus keempat meninggal dunia dan salah satu pasien dinyatakan positif Hantavirus.
“Tanggal 2 Mei kasus empat meninggal dunia dan kasus tiga dinyatakan positif ya pemeriksaan lab,” ungkap Andi.
4 Mei 2026
Kapal tiba di Cape Verde, Afrika.
5 Mei 2026
Pasien dari Swedia dinyatakan positif Hantavirus.
6–9 Mei 2026
Kasus empat, lima, dan enam dinyatakan positif Hantavirus.
“Kasus empat, lima, enam positif Hanta dinyatakan pada tanggal 6 sampai 9 ya,” ungkap Andi.
7 Mei 2026
Pemerintah Inggris mengirim notifikasi resmi kepada Indonesia terkait kontak erat yang tinggal di Jakarta.
“Pada tanggal 7 Mei 2026 pukul 21:55 WIB, International Health Regulation ya National Focal Point di Inggris menotifikasi ke IHR NFP Indonesia dalam hal ini Ditjen P2, terkait satu orang kontak erat ya, kami singkat KE yang berdomisili di Indonesia,” jelas Andi.
8 Mei 2026
Kemenkes langsung melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap WNA tersebut.
“Dan pada tanggal 8 Mei pukul 10.00 WIB berdasarkan notifikasi daripada IHR NFP Inggris tersebut, kami Kementerian Kesehatan telah melakukan penyelidikan epidemiologi kepada kontak erat,” ujarnya.
Hasil awal menunjukkan WNA tersebut tidak mengalami gejala.
“Kemudian gejala tidak ada, namun komorbid hipertensi 10 tahun tidak terkontrol dan menggunakan vaping ya,” katanya.
9 Mei 2026
Kemenkes menjemput dan membawa WNA itu ke RSPI Sulianti Saroso untuk pemeriksaan dan pemantauan.
“Dan pada tanggal 9 Mei 2026 pukul 9.00 Indonesia Barat kami melakukan penjemputan dan pengantaran kontak erat ke rumah sakit penyakit infeksi Sulianti Saroso untuk pengambilan spesimen dan pemantauan,” katanya.
10 Mei 2026-sekarang
WNA itu masih menjalani karantina dan pemantauan di RSPI Sulianti Saroso.
“Dan tanggal 10 sampai dengan sekarang ya, pasien masih berada di RSPI Sulianti Saroso dan kita terus melakukan pemantauan dan karantina di Rumah Sakit Sulianti Saroso,” jelas Andi.
Kemenkes memastikan hasil pemeriksaan PCR terhadap seluruh spesimen menunjukkan hasil negatif Hantavirus.
“Jadi kami mengambil spesimen ya dari serum, kemudian urine, kemudian saliva, kemudian juga usap tenggorok, kemudian whole blood, darah lengkap, dan kelima spesimen tersebut negatif daripada Hantavirus. Ya sekali lagi kabar baiknya dari orang asing ini bahwa hasil pemeriksaan PCR-nya itu negatif Hantavirus ya,” katanya.
Andi menambahkan kondisi WNA tersebut saat ini stabil dan tidak menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan.
“Kondisi pasien ya, sehat ya beliau ini kalau kita lihat dari info foto-foto yang ada maupun video itu, beliau itu bermain HP, menggunakan HP dan tidak ada gejala-gejala yang mengkhawatirkan begitu,” pungkasnya.
